Review Buku Quiet oleh Susan Cain

Apa yang muncul di kepalamu ketika mendengar kata introvert? Apakah kamu membayangkan si kutu buku dengan kacamata tebal yang gak punya teman dan gelagapan saat bicara di depan umum? Yah, bayanganmu itu nggak salah 100%. Tapi nggak akurat juga.

Memang, kepribadian introvert adalah yang paling banyak disalahpahami, ketimbang rekannya si ekstrovert. Nggak tanggung-tanggung, introvert telah disalahpahami sejak berpuluh-puluh tahun lalu, bahkan berabad-abad. Dahulunya, introvert dipandang sebagai ‘penyakit’. Bahkan, orang tua yang punya anak introvert akan membawa anaknya ke dokter untuk ‘diperbaiki’.

Dengan berkembangnya ilmu psikologi, ilmuwan telah menemukan bahwa introvert sebetulnya bukan penyakit, justru sebuah kepribadian dengan kelebihannya sendiri. Susan Cain menjelaskan dalam bukunya, Quiet, bahwa introvert adalah kepribadian yang sangat peka terhadap stimuli luar. Itulah kenapa introvert bisa kelelahan kala berinteraksi dengan banyak orang dalam satu waktu, cenderung menjadi pengamat (observer) dan suka menghabiskan waktu dengan aktivitasnya sendiri. Introvert bukan orang pemalu, ada juga introvert atau ekstrovert yang mengidap shyness. Introvert juga tidak membenci interaksi sosial, ia hanya punya cara atau waktunya sendiri untuk berinteraksi.

Aku sendiri juga seorang introvert. Introvert akut malahan. Aku nemu istilah tersebut pas SMP dan suddenly everything makes sense. Aku dari dulu lambat soal bergaul. Lebih nyaman ngobrol one-to-one ketimbang ngobrol dengan grup besar sekaligus. Aku mendapat energi kebanyakan dari hobi, baca buku, menulis, nonton film, mendengarkan lagu, dll. Kadang-kadang aku juga suka ngobrol kok, sama teman.

Menurutku, agak telat juga sih aku baca buku ini. Tapi ya gak papa karena baca buku ini tuh semacam memvalidasi pikiran aku selama ini. Bagi kalian yang merasa introvert atau si ekstrovert yang pengen memahami introvert, boleh banget baca buku ini. Kenapa? Karena isinya bukan anekdot. Susan Cain berargumen dengan membeberkan hasil penelitian banyak ilmuwan. Isinya juga empowering buat introvert.

Berikut adalah beberapa insight yang kuingat dari baca buku ini:

  1. Introvert dan ekstrovert harus sama-sama belajar dari satu sama lain. Kita tahu kan, ekstrovert itu cenderung suka ngomong dan justru mendominasi pembicaraan. Sedangkan introvert punya kecenderungan untuk diam dan mendengarkan. Nah, keduanya tuh mesti mencoba ke tengah-tengah. Si ektrovert harus belajar jadi pendengar yang baik, tahu kapan diam. Dan si introvert jangan pasif dong, share your stories, mulai duluan!
  2. Introvert bukan jadi tameng untuk kekurangan yang dimiliki. Kalau kamu introvert dan memang nggak nyaman untuk ngomong di depan orang banyak, tidak masalah untuk ngambil waktu lebih dalam belajar dan berusaha lagi. Sabar sama diri sendiri. Tapi jangan jadi alasan untuk diam di zona nyaman.
  3. Dunia ini kebanyakan dirancang untuk para ekstrovert. Mulai dari sekolah sampai perkantoran, kebanyakan dirancang agar individu bekerja atau belajar rame-rame. Padahal, ada si introvert yang justru menghasilkan hasil kerja gemilang pas sendirian. Di dunia kerja, orang-orang lebih gampang ‘termakan’ omongan seseorang yang bold, suaranya kenceng, persuasif dan banyak ngomong. Padahal kadang omongannya nggak masuk akal. Memang banyak yang gampang terpesona sama kulit luar.
  4. Menjadi introvert bukan masalah. Susan Cain menerangkan kekuatan dari si introvert, mulai dari kekuatan konsentrasi, kemampuannya bekerja sendiri, nggak following the crowd, dll. Yang penting terus belajar dan nggak terpaku di zona nyaman, ya.

Kekurangan buku ini kurang lebih sama dengan buku-buku tentang introvert yang lain. Kadang penulisnya terlalu membangga-banggakan introvert dan menjatuhkan ekstrovert. Ada labeling juga yang nggak aku suka. Yakni label bahwa ekstrovert itu udah pasti bodoh dan introvert udah pasti pemalu. Mungkin suatu hari buku ini bisa direvisi di bagian-bagian itu, supaya lebih sempurna lagi.

Overall, buku ini layak dibaca khususnya buat kalian teman-teman introvert.