Review Buku “Diary of an Oxygen Thief”

intip isi kepala si pencuri oksigen

Review Buku “Diary of An Oxygen Thief”

Ringkasan “Diary of An Oxygen Thief”

“Diary of an Oxygen Thief” bercerita tentang ‘aku’ yang punya kesenangan aneh. Kesenangannya adalah : menyakiti perasaan perempuan.

Bagaimana kesenangan si Oxygen Thief ini? Tidak tanggung-tanggung, dia dengan jujur mengungkapkan kesenangannya itu sejak halaman pertama ‘diary’-nya.

Aku suka menyakiti perempuan.

Secara mental, bukan fisik. Dalam hidupku, tidak pernah aku memukul perempuan. Yah, satu kali. Tapi itu sebuah kesalahan. Aku akan bercerita kepadamu tentang itu nanti. Intinya, aku sedikit aneh tentang hal itu (menyakiti perempuan). Aku sangat menikmatinya.

Ini seperti ketika kau mendengar pembunuh berantai bilang tidak punya penyesalan, belas kasihan pada orang-orang yang ia bunuh. Aku pun seperti itu. Menyukainya. Aku tidak peduli berapa lama waktu yang kubutuhkan karena aku tidak terburu-buru. Aku akan menunggu hingga mereka benar-benar jatuh cinta kepadaku. Hingga mata mereka menatap tercengang kepadaku. Aku suka ekspresi ‘tidak menyangka’ di wajah mereka. Kemudian kesayuan ketika mereka berusaha menyembunyikan seberapa banyak aku telah menyakiti mereka. Dan semua itu legal. Aku pikir, aku telah membunuh beberapa dari mereka. Jiwa mereka, maksudku.

Diambil dari halaman pertama buku “Diary of An Oxygen Thief”

Kesenangan si ‘aku’ ini sebenarnya tidak sesederhana kelihatannya. Di halaman-halaman berikutnya, ‘aku’ kemudian bercerita bahwa sesungguhnya ia juga tersiksa dengan hal yang ia lakukan. Bahwa ia menjadi seperti itu karena hubungan dengan keluarga, terutama ayah, yang tidak bagus. Akhirnya, ia punya trauma-trauma masa kecil yang terus tumbuh bersamanya seraya ia dewasa. Karena trauma itu, ia pun jadi peminum untuk mengalihkannya dari ketidakmampuannya meregulasi perasaannya sendiri.

Namun tentu saja, masa lalu tidak lantas menjadikan pembaca maklum dengan kelakuan si ‘aku’. Apalagi mengetahui betapa buruknya tingkah si ‘aku’. Gonta-ganti perempuan, merendahkan perempuan, bahkan memperkosa perempuan!

Selanjutnya, si ‘aku’ bercerita bagaimana ia akhirnya berhasil sober selama 5 tahun dan pindah kerja di Minnesota di bidang periklanan alias advertising. Brengsek-brengsek begitu, si ‘aku’ punya karir yang cukup gemilang. Sampai takdir mempertemukan si ‘aku’ dengan Aisling, si gadis cantik dari Irlandia yang sedang bekerja di New York. Karena berasal tempat yang sama, mereka kemudian jadi dekat. Tapi siapa sangka si Aisling ini ternyata lebih jago menghancurkan hati! Lebih jago daripada si Oxygen Thief!

Pendapatku Tentang Buku “Diary of An Oxygen Thief”

Sudah tertandai sebagai ‘telah dibaca’ di Kindle-ku 🙂

Perasaanku campur-campur ketika membaca buku Diari si Pencuri Oksigen ini. Di satu sisi, menurutku si narator alias si ‘aku’ adalah mahluk menjijikkan karena begitu benci dengan perempuan (misoginis). Di satu sisi sesungguhnya ia begitu menyedihkan.

Yang menarik buatku secara personal adalah insecurity, paranoia dan attachment style si Oxygen Thief. Belum banyak aku menemukan narasi dari orang-orang semacam Oxygen Thief di kancah sastra Indonesia. Jika dipandang murni secara fenomena, Oxygen Thief beneran menarik sih menurutku. Perkara moral, itu beda bahasan.

Yang edan lagi, ternyata buku ini bukan karangan atau fiksi. Alias, beneran diary seseorang yang masih hidup di bumi ini. Itulah kenapa di Goodreads, buku ini banyak memperoleh bintang 1. Karena banyak pembaca gak suka dengan si narator, apalagi si narator ini ternyata orang beneran. Huh.

Sebagai karya sastra, sebetulnya buku ini punya kelebihan. Kelebihannya adalah narasinya begitu jujur dan lugas. Pembaca dibawa ke dalam kepala seorang misoginis yang kemungkinan punya masalah avoidant attachment style. Bagi yang punya masalah attachment serupa, akan merasa related dengan narasi yang dituturkan oleh si ‘aku’.

Buku ini terdiri dari 3 bab. “Diary of An Oxygen Thief” tidak akan memberikan plot mengejutkan untuk pembaca. Malahan, alur cerita sudah terbaca sejak awal. Namun narasi apik si penulis memberikan perasaan yang begitu menohok (terutama saat si ‘aku’ pada akhirnya disakiti), sehingga tidak membosankan.

Catatan, buku ini hanya untuk pembaca dewasa, karena si ‘aku’ banyak membahas soal seks juga disini. Buku ini aku rekomendasikan buat kamu yang mencari bacaan nggak biasa namun cukup pendek (147 halaman). Buku ini nggak aku rekomendasikan buat kalian yang cuman suka bacaan hepi-hepi, soalnya buku ini agak depressing. Saranku sih, anggap aja memperkaya pengetahuan soal psikologi seorang Oxygen Thief. Jangan sampai-lah berhubungan romantis dengan spesiesnya.

Baca juga : Review Buku “Atheis” : Bahwa Kepercayaan Memerlukan Cara

Dimana Bisa Dapat Buku “Diary of An Oxygen Thief”?

Setahuku, buku ini belum diterbitkan di Indonesia. Jika pengen hardcopy-nya, mungkin bisa beli lewat periplus, book depository, atau amazon. Aku sendiri beli e-booknya.

Quotes dari “Diary Of An Oxygen Thief”

They say that the sea is actually black and that it merely reflects the blue sky above. So it was with me. I allowed you to admire yourself in my eyes. I provided a service. I listened and listened and listened. You stored yourself in me.

Gak pake halaman soalnya di kindle jadi ilang semua halamannya.

We are not punished for our sins, we are punished by them.

Diary of An Oxygen Thief

She know how to handle a guy. She made you feel like it was okay to be a guy. To be yourself. This, it seems to me, is the most devastating weapon of all in woman’s arsenal. If you can encourage the man to be himself, to give you his character, his ways, then you know how to navigate him, and therefore, he will never able to hide from you.

Diary of An Oxygen Thief

But it’s important which charity you affiliate yourself with. Especially in United States. For instance, a fundraising group that wants to help addicts off heroin isn’t nearly as reliable, or photogenic, or even pitiable, as a kid with AIDS. Adult with AIDS are no good. It could be their fault. No, kids are good. Kids with AIDS, are better. Sorry, but it’s true. It’s not the fault of the ad agencies. It’s actually your fault. The public. And if this never gets published it’s your fault too because it means that this kind of story was deemed uninteresting to you. You bastards.

Diary of An Oxygen Thief

Review Buku Quiet oleh Susan Cain

Apa yang muncul di kepalamu ketika mendengar kata introvert? Apakah kamu membayangkan si kutu buku dengan kacamata tebal yang gak punya teman dan gelagapan saat bicara di depan umum? Yah, bayanganmu itu nggak salah 100%. Tapi nggak akurat juga.

Memang, kepribadian introvert adalah yang paling banyak disalahpahami, ketimbang rekannya si ekstrovert. Nggak tanggung-tanggung, introvert telah disalahpahami sejak berpuluh-puluh tahun lalu, bahkan berabad-abad. Dahulunya, introvert dipandang sebagai ‘penyakit’. Bahkan, orang tua yang punya anak introvert akan membawa anaknya ke dokter untuk ‘diperbaiki’.

Dengan berkembangnya ilmu psikologi, ilmuwan telah menemukan bahwa introvert sebetulnya bukan penyakit, justru sebuah kepribadian dengan kelebihannya sendiri. Susan Cain menjelaskan dalam bukunya, Quiet, bahwa introvert adalah kepribadian yang sangat peka terhadap stimuli luar. Itulah kenapa introvert bisa kelelahan kala berinteraksi dengan banyak orang dalam satu waktu, cenderung menjadi pengamat (observer) dan suka menghabiskan waktu dengan aktivitasnya sendiri. Introvert bukan orang pemalu, ada juga introvert atau ekstrovert yang mengidap shyness. Introvert juga tidak membenci interaksi sosial, ia hanya punya cara atau waktunya sendiri untuk berinteraksi.

Aku sendiri juga seorang introvert. Introvert akut malahan. Aku nemu istilah tersebut pas SMP dan suddenly everything makes sense. Aku dari dulu lambat soal bergaul. Lebih nyaman ngobrol one-to-one ketimbang ngobrol dengan grup besar sekaligus. Aku mendapat energi kebanyakan dari hobi, baca buku, menulis, nonton film, mendengarkan lagu, dll. Kadang-kadang aku juga suka ngobrol kok, sama teman.

Menurutku, agak telat juga sih aku baca buku ini. Tapi ya gak papa karena baca buku ini tuh semacam memvalidasi pikiran aku selama ini. Bagi kalian yang merasa introvert atau si ekstrovert yang pengen memahami introvert, boleh banget baca buku ini. Kenapa? Karena isinya bukan anekdot. Susan Cain berargumen dengan membeberkan hasil penelitian banyak ilmuwan. Isinya juga empowering buat introvert.

Berikut adalah beberapa insight yang kuingat dari baca buku ini:

  1. Introvert dan ekstrovert harus sama-sama belajar dari satu sama lain. Kita tahu kan, ekstrovert itu cenderung suka ngomong dan justru mendominasi pembicaraan. Sedangkan introvert punya kecenderungan untuk diam dan mendengarkan. Nah, keduanya tuh mesti mencoba ke tengah-tengah. Si ektrovert harus belajar jadi pendengar yang baik, tahu kapan diam. Dan si introvert jangan pasif dong, share your stories, mulai duluan!
  2. Introvert bukan jadi tameng untuk kekurangan yang dimiliki. Kalau kamu introvert dan memang nggak nyaman untuk ngomong di depan orang banyak, tidak masalah untuk ngambil waktu lebih dalam belajar dan berusaha lagi. Sabar sama diri sendiri. Tapi jangan jadi alasan untuk diam di zona nyaman.
  3. Dunia ini kebanyakan dirancang untuk para ekstrovert. Mulai dari sekolah sampai perkantoran, kebanyakan dirancang agar individu bekerja atau belajar rame-rame. Padahal, ada si introvert yang justru menghasilkan hasil kerja gemilang pas sendirian. Di dunia kerja, orang-orang lebih gampang ‘termakan’ omongan seseorang yang bold, suaranya kenceng, persuasif dan banyak ngomong. Padahal kadang omongannya nggak masuk akal. Memang banyak yang gampang terpesona sama kulit luar.
  4. Menjadi introvert bukan masalah. Susan Cain menerangkan kekuatan dari si introvert, mulai dari kekuatan konsentrasi, kemampuannya bekerja sendiri, nggak following the crowd, dll. Yang penting terus belajar dan nggak terpaku di zona nyaman, ya.

Kekurangan buku ini kurang lebih sama dengan buku-buku tentang introvert yang lain. Kadang penulisnya terlalu membangga-banggakan introvert dan menjatuhkan ekstrovert. Ada labeling juga yang nggak aku suka. Yakni label bahwa ekstrovert itu udah pasti bodoh dan introvert udah pasti pemalu. Mungkin suatu hari buku ini bisa direvisi di bagian-bagian itu, supaya lebih sempurna lagi.

Overall, buku ini layak dibaca khususnya buat kalian teman-teman introvert.