Review Everything is Fucked (a Book About Hope) oleh Mark Manson

Setelah jadi bodo amat, kamu juga harus hopeless!

Sumber : markmanson.net

Buku ini ditulis oleh Mark Manson, yang terkenal gara-gara bukunya yang berjudul Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat. Melalui buku ini, Mark mengajak pembaca untuk lebih hati-hati dengan suatu hal yang bernama HARAPAN. Bukan karena harapan seringkali berujung pada kekecewaan (yah, itu salah satunya, sih).

Dalam buku ini, Mark berargumen bahwa harapan sifatnya tidak hanya positif. Harapan ternyata punya peran pada kacaunya kehidupan manusia saat ini, baik dalam skala individu (kesehatan mental) maupun makro (kesejahteraan dan keberlangsungan hidup manusia). Harapan juga awalnya juga merupakan coping mechanism manusia zaman purba saat hidup di dunia yang keras, tanpa penunjuk adanya tujuan hidup. Harapan bisa diumpamakan sebagai narkoba, yang ditelan berulang kali, supaya high, supaya terus berprokreasi dan terus melanjutkan hidup. Menurutku, Mark sebenarnya mengajak pembaca untuk menganut stoicism, sebuah filosofi hidup yang mengkonfrontasi manusia untuk menerima takdirnya yang tidak hanya senang tapi juga pahit, serta berusaha mengontrol dirinya karena ada banyak hal di luar manusia yang tidak bisa ia kontrol.

Dibandingkan dengan bukunya yang sebelumnya, buku Mark yang ini menurutku lebih matang. Karena argumennya didukung banyak teori-teori pendahulu. Ada banyak nama yang disebut dalam buku ini. Ada Sartre, Immanuel Kant, sampai Nietzsche. Penuturan teori-teorinya pun khas Mark Manson – tanpa tedeng aling-aling dan penuh dark humor. Teori-teori di buku ini disusun secara begitu rupa sehingga akhirnya menimbulkan sebuah ‘AHA moment’ yang menohok pembaca ketika akhirnya bisa melihat gambaran lengkap.

Buku ini sangat kurekomendasikan dibaca saat merasa hilang arah. Buku ini tidak akan meninabobokanmu dengan kebohongan harapan yang palsu. Tetapi memberimu pil pahit yang membantumu untuk menghadapi kenyataan (yang memang sudah pahit). Oh ya, aku juga sangat menyadari bahwa hal-hal dalam buku ini kemungkinan menyinggung para pembaca dengan kondisi tertentu. Contohnya mereka yang struggling dengan mental illness atau mereka yang simply gak cocok dengan gaya penceritaan Mark yang blunt tadi. Jadi, aku rasa, pemikiran-pemikiran dalam buku ini bisa dianggap benar – hanya dalam konteks tertentu.

Finally, aku beri buku ini 4 dari 5 bintang karena I have a good time reading this book. Ohya, buku ini belum ada terjemahan Indonesianya. Aku baca buku ini versi bahasa Inggris, beli epub-nya di @kornerebooks di Carousell (cuma 10k!) (hidup ebook!)

BONUS, CATATANKU SOAL INSIGHTS DI EVERYTHING IS FUCKED

1. Tingkat kebahagiaan manusia sebenarnya sama saja, entah dia kaya atau biasa-biasa saja

                Menurutku, pada poin ini kita semua menyadarinya. Seumpama kita kaya mendadak dan tiba-tiba bisa naik mobil pribadi kemana-mana. Pada mulanya kita mungkin akan sangat girang. Akan tetapi lama kelamaan kita akan terbiasa naik mobil pribadi hingga hal itu tidak menjadi kemewahan lagi. Kita pun akan menginginkan hal yang ‘lebih’ supaya bahagia. Intinya ya, perasaan manusia tidak akan pernah puas.

2. Harapan tidak selalu mengantar manusia ke tempat yang lebih baik (harapan justru membawa kekacauan)

Harapan yang dimaksud disini adalah ekspektasi manusia agar semuanya selalu lebih. Ingin lebih bahagia, lebih besar, lebih canggih, yang lebih-lebih lah pokoknya. Mark berargumen bahwa harapan seringkali menciptakan kekacauan dalam peradaban manusia. Bagaimana bisa? Sebab manusia bukanlah mahluk logis nan bijak, manusia lebih banyak disetir oleh perasaan (entah dia sadar atau tidak). Dan perasaan selalu menuntun manusia pada hal-hal yang memberikan kenyamanan dan kebahagiaan (meski seringkali perasaan itu cuma sementara). Secara insting, kebanyakan manusia akan menghindari yang namanya rasa sakit, padahal ada sakit yang mengantarkan manusia pada perubahan yang lebih baik.

Contoh simpelnya adalah manusia berharap agar bisa menyiapkan makanan secara cepat atau kemana-mana tanpa perlu capai. Akhirnya kita punya mie instan dan kendaraan bermotor yang kita gunakan seenaknya – sehingga lama-lama kita tiba di generasi manusia yang kebanyakan micin dan malas gerak. Padahal, nenek moyang kita telah membuktikan bahwa manusia punya kemampuan fisik yang luar biasa.

3. Harapan manusia-manusia di dunia ini akan selalu berbenturan satu sama lain

Contohnya kelompok sosialis akan berharap adanya kemerataan nasib. Sedangkan kelompok liberal akan bertumpu pada teori seleksi alamnya dan menyarankan manusia untuk bersaing di pasar bebas terlepas kondisi yang dipunyainya.

Intinya adalah akan selalu ada ide-ide yang beroposisi di bumi ini dan saling menindas demi kemaslahatan kelompoknya sendiri. Sejarah sudah menunjukkan bahwa ide paling ideal pun (paling baik pun), kalau diberi kekuasaan pada akhirnya akan korup dan mengkhianati ide itu sendiri.

4. Berhentilah berharap dunia menjadi lebih baik, alih-alih jadilah pribadi yang lebih baik

                Kita hidup di zaman digital, zaman yang maju. Dimana saat kita merasa tidak nyaman, kita bisa lari dari kenyataan dan main gadget, shopping atau menggosipkan orang lain sampe jele’. Zaman mungkin telah maju, tetapi kecerdasan emosional kita masihlah di zaman batu. Hal ini bisa dilihat dari peradaban manusia saat ini, dimana meski telah banyak teknologi untuk memecahkan masalah kelaparan, nyatanya masih banyak orang yang mau makan pun susah. Kita masih punya PR untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bermasyarakat dengan lebih baik lagi.

5. Berbuatlah baik sebagai tujuan, bukan sebagai alat untuk mencapai tujuan

Saat berbuat baik, manusia biasanya ingin mendapat pahala atau ingin mendapat timbal balik. Dalam hal ini, manusia menganggap perbuatannya sebagai transaksi. Ia melakukan sesuatu untuk memperoleh sesuatu yang lainnya. Pemikiran ini akan membawa manusia pada kekecewaan dan berbuat baik pada saat itu menguntungkannya saja. Berbuatlah baik karena itu prinsip, karena itu yang harus dilakukan. Jangan berharap apa-apa. This will free your soul <3

6. Masa depan manusia bukanlah pada kemajuan teknologi, tetapi keberhasilan seluruh manusia mengelola kesadarannya

Kita telah melihat hasil nafsu manusia selama berabad-abad : membuat ribuan spesies hewan dan tumbuhan punah, mencemari laut tanah dengan sampah plastik, perang, memonopoli pangan sementara manusia lainnya kelaparan. Di buku ini, Mark menjelaskan bahwa karena tugas manusia kedepannya ialah mengembangkan nilai-nilai dan revolusi kesadaran. Kalau tidak, mungkin suatu hari kita akan dikuasai robot.