Review : Atheis, Bahwa Kepercayaan Memerlukan Cara

image via klin demianovo
Kenapa kamu harus membaca buku ini?
            Buku ini dapat menghanyutkanmu menyelami psikologi tokoh utamanya, Hasan. Setting ceritanya memang Bandung pada 1940-an, tetapi topiknya masih sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Melalui buku ini, kamu akan menemukan perspektif menarik dalam memandang theisme vs atheisme.

Sinopsis :
Agama dan Tuhan adalah bikinan manusia. Akibat dari sesuatu keadaan masyarakat dan susunan ekonomi pada sesuatu zaman yang tidak sempurna.” (Rusli dalam Atheis, hal.76).
            Itulah kutipan perkataan Rusli terhadap Hasan, si tokoh utama dalam novel Atheis. Diceritakan Hasan merupakan seorang pemuda religius, yang di awal masa dewasanya bertemu dengan kawan masa kecil yang lama tidak ia jumpa, yakni Rusli. Bertemu di Bandung, Hasan dan Rusli kembali berkawan. Pertautan kembali pertemanan itu sebenarnya dikarenakan kehadiran Kartini, kawan Rusli yang mengingatkan Hasan tentang perempuan yang dicintainya. Semata karena kemiripan Kartini dengan cinta pertamanya itu, Hasan terseret dalam lingkaran pertemanan Rusli, yang ternyata seorang atheis dengan pandangan politik Marxist-leninist.
            Perlahan-lahan, Hasan yang saklek dengan agama Islam yang ia anut jadi terseret kepada ideologi yang dianut Rusli. Ia jadi mau diajak nonton bioskop, ikut perkumpulan seideologi-nya Rusli, hingga tiba-tiba begitu saja ia melepaskan kepercayaan yang ia anut sejak kecil. Apalagi sejak ia ketemu kawan Rusli yang bernama Anwar, seorang artis muda dengan pembawaan slengean, yang menuduh Hasan bermuka dua alias munafik – sebab di dalam diri, Hasan sudah jadi atheis, sedangkan dalam kesehariannya Hasan masih menunaikan shalat. Tanpa pertimbangan yang lebih jauh akhirnya Hasan coming outsebagai atheis kepada kedua orangtuanya, diikuti pernikahannya dengan Kartini – perempuan modern nan bebas yang menggaet hatinya sejak awal.
            Keputusan Hasan itu tentu menyakiti hati orangtuanya. Hasan memulai hidup baru dalam pernikahannya bersama Kartini – pernikahan yang nyatanya tidak berjalan sesuai harapannya. Hasan terkena TBC, sementara konflik melanda pernikahannya. Mungkin ia terlalu konservatif dalam hubungan dan tidak cocok untuk Kartini yang luwes nan bebas. Hasan kemudian menemukan pernikahannya hancur, ayahnya meninggal dalam kesengsaraan akibat ulahnya dan dia sendiri tenggelam dalam penyakit dan rasa penyesalan.
***
Pemikiranku tentang Atheis :
            Sebelum membaca buku ini, aku bertanya-tanya pada sisi manakah penulis akan menaruh keberpihakannya, pada atheis atau theis? Setelah membaca buku ini, aku menemukan bahwa penulis tidak menaruh keberpihakannya pada sisi manapun. Sekilas dari kisah Hasan, akan gampang bagi pembaca untuk menyimpulkan “atheisme adalah jalan yang salah, lihat saja nasib Hasan setelah jadi atheis hidupnya hancur berantakan, terkena TBC dan akhirnya mati tanpa diketahui kuburannya dimana”. Namun itu merupakan kesimpulan yang serampangan.
            Jika dipahami lebih dalam, pesan yang hendak disampaikan penulis adalah manusia mesti belajar dan belajar. Jangan memahami sesuatu hal secara setengah-setengah. Sebab nanti hasilnya akan seperti Hasan, yang memahami hal secara separo-separo, baik ketika menjadi muslim dan atheis. Bisa dilihat bahwa pemahaman Islam milik Hasan merupakan hasil dogma orangtua dan lingkungannya saja. Ia tidak pernah mempertanyakan dan menggali dari berbagai sumber, melainkan hanya menelan bulat-bulat dogma itu. Ia gampang hanyut oleh kata-kata orang lain. Akhirnya ketika menjadi muslim pun, ia jadi muslim yang saklek, menganggap orang yang tak sepaham dengannya sebagai manusia yang derajatnya lebih rendah. Saat jadi atheis pun begitu, ia todong orangtuanya sebagai manusia bodoh sebab masih percaya ‘cerita-cerita takhayul’, surga-nerakanya agama.
            Padahal mengutip dari buku ini sendiri, “…hidup di dunia ini berarti menyelenggarakan segala perhubungan lahir-batin antara kita sebagai manusia dengan sesama mahluk kita, dengan Alam beserta Penciptanya. Dan penyelenggaraan semua perhubungan itu meminta cara. Cara yang sebaik-baiknya, seadil-adilnya, seindah-indahnya, setepat-tepatnya, tapi pun sepraktis-praktisnya dan semanfaat-manfaatnya bagi kehidupan segenapnya
            Cara. Cara itulah yang tidak diterapkan oleh Hasan akibat ceteknya pemahaman dia tentang Islam maupun atheisme. Kurang sempurnalah agama atau atheisme-nya Hasan, sebab kepercayaan itu ia gunakan untuk meninggikan egonya saja. Disini, aku setuju dengan penulis, bahwa setiap kepercayaan itu sah-sah saja, tidak akan destruktif tanpa arah, asal si believerterus memperbaiki pemahamannya dan mencari titik keseimbangan supaya ia dapat berfungsi sebagai manusia semestinya.
***
Kutipan menarik dari Atheis
            “Dalam benua-benua yang tidak begitu hebat alamnya, seperti di tanah-tanah yang banyak serta luas-luas padang pasirnya, di mana manusia hanya menghadapi ketenangan dan kesunyian lautan pasir dengan bulannya yang terang benderang dan bintang-bintangnya yang bertaburan di langit yang tiada melakukan pekerjaan lain daripada hanya berkedip-kedip saja sepanjang malam, di sana, di daerah-daerah yang tenang-tenteram, demikian itu alamnya, manusia tidak membutuhkan dewa-dewa yang banyak jumlahnya, seperti dewa api, dewa kawah, dewa hujan, dewa gunung, dewa laut dan sebagainya. Cukuplah dengan satu saja, yaitu yang disebutnya Tuhan, Yahwe atau Allah. Timbullah agama yang mengandung kepercayaan kepada adanya hanya satu Tuhan. Padahal Tuhan itu – baik yang namanya Allah, God atau Yahwe – untuk masing-masing manusia berainan-lainan rupanya dan sifat-sifatnya. Itu tergantung semata-mata kepada pikiran dan khayal masing-masing” (hal. 77-78)
Judul                           : Atheis
Penulis                        : Achdiat K. Mihardja
Tahun Terbit                : 2006 (Cetakan ke-28)
Penerbit                       : Balai Pustaka
Jumlah Halaman           : 250 halaman

Published by

AisyKarimaDewi

living in borderline since 1997.

3 thoughts on “Review : Atheis, Bahwa Kepercayaan Memerlukan Cara”

  1. “Agama dan Tuhan adalah bikinan manusia. Akibat dari sesuatu keadaan masyarakat dan susunan ekonomi pada sesuatu zaman yang tidak sempurna.” (Rusli dalam Atheis, hal.76).

    Apakah zaman kita sekarang semakin sempurna:zaman dulu?

  2. Apakah zaman kita sekarang semakin sempurna dibanding zaman dulu?

    Tentu. Dahulu manusia hidup melawan alam yang masih dia tidak mengerti, ada binatang buas, ada bencana alam, ada wabah penyakit yang dia tidak pahami penyebab sampai obatnya. Dengan ilmu pengetahuan yang terus berkembang, kehidupan manusia zaman ini tergolong mudah. Orang zaman dahulu akan melihat pada kehidupan kita sekarang dan berkomentar, "Kalian sangat malas" Sebab ada banyak teknologi yang memudahkan manusia. Dari sisi survival, zaman kita lebih unggul daripada zaman-zaman sebelumnya. Tetapi dari sisi spiritual, kebahagiaan, kepuasan hidup, kita tidak tahu apakah lebih sempurna zaman ini atau zaman dulu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *