Pikiran Cantiknya Natascha Kampusch

   Pertama kali aku mengetahui tentang perempuan ini adalah saat SMP, waktu itu aku menemukan bukunya, 3096 Days. Untuk kalian yang belum tahu siapa itu Natascha Kampusch, well, Natascha Kampusch adalah perempuan berkebangsaan Austria, yang diculik pada saat umurnya 10 tahun. Wolfgang Priklopil, penculiknya, menyekap Natascha dalam ruangan berukuran 2x3x3 meter selama 3096 hari. 3096 Days sendiri adalah autobiografi Natascha selama ia diculik.

  Sayang sekali saat itu aku tidak membaca bukunya sampai habis. Nama Natascha dalam ingatanku sempat tenggelam dalam pikiranku selama beberapa tahun. Hingga beberapa waktu lalu aku menemukan film tentangnya yang menggunakan judul sama, 3096 Days.

  Dalam film ini digambarkan Natascha diculik saat perjalanan ke sekolah, adegan penculikan terjadi dengan cukup klise : Priklopil yang tampak sudah menunggu kedatangan Natascha langsung menutup hidung dan mulut Natascha dengan kain yang sudah diberi obat bius, ia lalu memasukkan Natascha dalam minibus berwarna putihnya.


Di dunia nyata.
Di film.

Ruangan rahasia tempat Natascha diculik pun digambarkan dengan baik, meski dalam satu wawancara Natascha sendiri menyatakan bahwa segala hal yang terjadi di film jauh lebih baik daripada kenyataan yang sebenarnya. Bayangkan saja, dikurung selama kurang lebih 9 tahun dalam ruangan kecil yang tak berjendela, hanya dengan fasilitas seadanya, buku-buku, dan makanan yang tidak mencukupi kebutuhan fisiologis manusia. Diceritakan pula pada tahun pertama, Natascha terus berada dalam bilik kecil itu, barulah tahun-tahun berikutnya Priklopil memperbolehkan Natascha berada di ruangan atas atau rumah Priklopil untuk makan, mandi, atau membantu pekerjaan Priklopil. Sesekali Natascha juga diajak berbelanja, namun tetap dengan aturan bahwa Natascha tidak boleh berinteraksi dengan orang lain. 



   Setelah sebelumnya Natascha menutup-nutupi kekerasan seksual yang dialami dirinya selama masa penculikan, 6 tahun kemudian (sebelum dirilisnya film ini) akhirnya Natascha memilih untuk mengungkap segala hal yang terjadi, mengingat juga ada kebocoran file di kepolisian Austria. Nah adegan-adegan kekerasan seksual itu digambarkan secara jelas di film ini: bagaimana Priklopil mengikat tangan mereka berdua menggunakan tali plastik (?) dan memaksa Natascha berhubungan seks dengannya.   


      

   Selama penyekapan, Natascha pernah mencoba membunuh dirinya. Informasi tentang bagaimana atau berapa kali percobaan bunuh diri Natascha tidak terlalu jelas. Sementara itu di film digambarkan usaha bunuh diri itu dilakukan dengan meracuni dirinya dengan asap hasil pembakaran tisu. Bunuh diri itu sendiri didasari perasaan gagal, perasaan putus asa, sebab ia tidak mencoba untuk kabur sedangkan beberapa kali ada kesempatan untuk itu. Mengapa tidak kabur saat ada di tempat publik? Yah, bagaimana bisa kabur, kalau penjara ketakutan yang diciptakan oleh Priklopil sudah menekan keinginan itu sendiri. Bagaimana tubuh mau bergerak kalau pikiran yang menggerakkan tubuh itu dilemahkan. Yang susah memang adalah penjara psikologis, di film sendiri digambarkan penjara itu dibuat Priklopil dengan membisiki Natascha melalui telepon yang menghubungkan ruangan atas dengan bilik Natascha : Obey me. Obey me. Obey me. Patuhi aku. Patuhi aku. Patuhi aku. Dibisiki begitu ratusan atau mungkin ribuan kali, dipukuli ketika melakukan kesalahan, tindakan pengontrolan penuh, hal-hal seperti itulah yang membuat Natascha kehilangan dirinya sendiri.



  Natascha kabur dari rumah Priklopil pada tahun 2006. Saat itu ia sedang membersihkan lantai minibus Priklopil dengan pembersih debu. Awalnya Priklopil berdiri mengawasinya, namun kemudian telepon Priklopil berdering. Priklopil memutuskan masuk rumah untuk berbicara, sebab suara penyedot debu menyulitkannya dalam mendengar. Saat itulah Natascha lari keluar pagar Priklopil dan mencari pertolongan pada penduduk setempat. 

     Ada perasaan mengganjal sewaktu adegan kaburnya Natascha. Pikirku, kenapa Priklopil gegabah meninggalkan Natascha sendirian, mengingat posisi mobil dengan pintu pagar cukup dekat, dan biasanya pun Priklopil cenderung hati-hati, kenapa?

   Jawabannya mungkin adalah, Priklopil mengerti bahwa memang kondisinya dan Natascha mau tidak mau bakal berakhir, hanya seorang dari mereka yang bertahan. Seperti yang dituturkan Natascha dalam kutipan sebuah wawancara ini:

   (Kutipan dari sebuah wawancara)

Natascha beurumur 18 tahun saat ia bebas, dan saat itu ia sudah kehilangan masa kecilnya. Ada sebuah pernyataan bahwa masa kecil adalah tonggak-tonggak penentu masa dewasa seorang individu. Seorang anak yang sehat masa kecilnya bisa berkemungkinan besar tumbuh menjadi orang dewasa dengan psikologis yang sehat pula. Lalu bagaimana dengan Natascha? Dengan masa kecilnya yang seperti itu?


 Natascha Kampusch masih hidup, sekarang ia adalah cerdas nan cantik berumur 27 tahun.



  Satu hal kontroversial yang ada dalam kasus Natascha Kampusch dan sangat menjadi sorotan perhatianku adalah bagaimana dia beberapa kali menunjukkan empati pada penculiknya, Priklopil. Natascha diberitakan menangis ketika mengetahui Priklopil menabrakkan dirinya ke kereta api yang sedang lewat, seusai tahu Natascha kabur. Disebutkan, Natascha ini mengidap Stockholm Syndrome, yaitu respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu.

   Nah, reaksi ini kemudian dianggap tidak wajar oleh media, Natascha dianggap tidak berusaha untuk kabur dari Priklopil karena Natascha memiliki perasaan sayang padanya. 

Hm, mari kita pikir.

  Empati sendiri muncul dari pemahaman. Untuk merasakan empati seseorang harus mencoba merasakan bagaimana rasanya berada di posisi seseorang. Mencoba memahami mengapa seorang individu berlaku dengan cara tertentu saat menghadapi situasi tertentu, baik melihat dari latar belakang keluarganya maupun masa kecilnya secara psikologis. Itulah persisnya yang dilakukan oleh Natascha Kampusch.

Your mind is beautiful, Miss Kampusch.
   Mental illness. Delusional. Paranoia. Maniak.

                                     

  Mungkin itulah yang diderita oleh Priklopil hingga melakukan tindakan penculikan. Diberitakan Prilokpil merasa insecure parah dengan penampilan fisiknya. Di film sendiri digambarkan Prilokpil seperti tidak menyukai perempuan-perempuan dewasa yang mendekatinya–maybe because they were not virgin, but hey it’s Austria I think the society isn’t as conservative as Indonesia, but talk about Priklopil’s ideal woman, who knows? Or maybe it’s innocence he was finding for? Innocence in love and sex. That makes more sense.

  Hak milik untuk rumah dan barang-barang Priklopil sekarang menjadi milik Natascha Kampusch. Dia diberitakan tinggal disana dan masih menggunakan barang-barang Priklopil, membawa foto Priklopil dalam dompetnya kemana-mana. 

      Menakutkan, sih. 

  Di media sendiri banyak cerita-cerita yang berkontradiksi satu sama lain. Memang kasus ini diliputi banyak misteri. Seperti halnya pikiran Natascha Kampusch yang menarik dan menantang untuk ditelusuri. Mengerikan, sekaligus cantik. 

  Terakhir dari Natascha Kampusch.

Published by

AisyKarimaDewi

living in borderline since 1997.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *