Pengalamanku : Dilema Membuat SIM C

 

Leganya setelah mendapat kertas ini.

 “Kenapa nggak lewat calo aja?”, itu yang dilontarkan orang-orang saat mengetahui aku bolak-balik ujian praktik ulang SIM C. Aku gagal pada ujian pertama. Akhirnya, aku harus ijin tidak masuk kuliah untuk mengikuti ujian praktik kedua. Ketika gagal lagi, aku mengurus ijin tidak masuk kuliah untuk ujian praktik SIM ketiga. Sialnya, aku masih gagal lagi. Tapi di satu hari aku mengamati, dari 16 peserta praktik, hanya 2 orang yang lulus. Hasil pengamatanku itu membuatku merasa nggak bego-bego amat.

Aku bertanya pada seorang teman, “Jika kamu berada di posisiku, kamu memilih bolak-balik ujian praktik ulang atau bayar lewat calo?”

Dia menjawab, “Lewat calo, daripada ijin kuliah terus. Tapi nggak bakal terjadi, dulu aku sekali ujian praktik langsung berhasil, kok”
Ya tapi nggak semua orang punya kemampuan motorik yang bagus kayak kamu. Banyak orang yang sepertiku, berkali-kali gagal ujian praktik SIM.
 

Ujian praktik ini pantas apabila disebut momok dalam pembuatan SIM C. Ujian teori mah gampang. Teman-temanmu bakal mengakui kredibilitasmu bersepeda motor apabila kamu lulus ujian praktik. Namun begitu, banyak orang memilih jalur belakang saat mengurus SIM C. Kenapa? Apa sih susahnya ujian praktik SIM C? Apa yang membuat orang-orang lebih memilih bikin SIM C lewat calo?

Karena kalau kamu gagal pada ujian praktik pertama, kamu diharuskan menjalani ujian praktik lagi 2 minggu berikutnya. Apabila ujian remedial 1 gagal, kamu diharuskan menjalani ujian praktik lagi 1 bulan berikutnya. Ujian remedial 3 gagal? Berdasarkan peraturan, kamu diharuskan melaksanakan ujian teori, LAGI.

Lintasan praktik relatif sulit dilalui. Ban sepeda motor tidak boleh keluar garis tepi, kaki tidak boleh turun dari pijakan sepeda motor, tidak boleh menyenggol kerucut pembatas, dan lain-lain.

Proses pembuatan SIM ini dianggap berbelit dan buang-buang waktu.

“Ketika gagal pada ujian pertama, kenapa nggak diberi kesempatan untuk mengulang ujian pada hari itu juga?”

Ya, karena dalam sehari yang ikut ujian praktik jumlahnya bisa sampai 20 orang, sedangkan waktu ujian praktik juga dibatasi jamnya. Daripada ikut ujian praktik lalu gagal, banyak yang memilih untuk bayar dan terima jadi saja. Tarif pembuatan SIM C lewat calo bervariasi, dari 300ribu hingga 500ribu.

***

Di ujian praktik ulangku yang ke3, aku lulus. Bukan karena memang aku berhasil melewati lintasan dengan mulus. Prosesku dimudahkan oleh Pak Affandi, polisi yang menjadi penguji ujian praktik di Polres Batu.

Di ujian ke3 ini, aku melakukan kesalahan yakni menurunkan kaki di lintasan yang berbentuk U. Aku kemudian dipanggil berhadapan dengan Pak Affandi.

“Kamu kok gagal terus. Gimana ini?”, dia bertanya dengan wajahnya yang berkesan menyebalkan.

“Ndak tahu, Pak. Padahal latihannya lancar-lancar saja”, jawabku memelas.

Beliau menarik napas sebelum bertanya, “Kamu kerja atau kuliah?”

“Kuliah, Pak”

“Dimana?”

“Di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Pak. Kampusnya di Lawang”

“Kamu sudah gagal 3 kali, kamu pengen gimana sekarang?”

“Ujian praktik lagi boleh tidak, Pak?”

“Nggak boleh. Kamu lihat? Ini ujian ulang ke 3. Totalnya kamu sudah 4 kali ujian praktik. Gimana? Sekarang terserah kamu”

Aku terdiam sejenak, “Kalau prosedurnya bagaimana, Pak?”

“Kalau berdasar prosedur, kamu harus ikut ujian teori lagi”

Aku meringis, “Yaudah, Pak. Ikut peraturannya aja”

“Ikut peraturan ya?”

Aku mengangguk, “Iya, Pak”

Beberapa saat kemudian ekspresinya melunak, ia berucap, “Gini, kamu saya bantu. Saya luluskan kamu. Tapi ada imbalannya”

“Imbalan apa, Pak?”

Demikianlah, Pak Affandi memintaku menyebarluaskan pengalamanku bikin SIM C dibantu oleh dia. Beliau berujar, bahwa sebenarnya dia tadi cuman menguji aku saja. Beliau ingin tahu apakah aku memilih jalur belakang ketika gagal. Karena aku tidak meminta lewat jalur belakang, akhirnya Pak Affandi mau membantuku.

Pak Affandi menghimbau teman-teman sekalian, agar tidak membuat SIM melalui calo. Karena saat kamu ujian ulang ke 3 dan masih gagal, asal kamu teguh taat peraturan, maka beliau akan dengan senang hati membantu meluluskan.

Aku jadi ingat cerita seseorang, bahwa ketika dia gagal ujian praktik pertama, ia langsung meminta bikin SIM lewat calo. Akhirnya, penguji langsung mengarahkan dia ke calo. Dia membayar 350ribu untuk itu.

***

Kenapa nggak lewat calo aja?

Aku berpikir, jika aku ikut-ikutan bikin SIM lewat calo, maka aku berpartisipasi membudayakan KKN.

Percuma kamu bersikap seperti itu. Kamu hanya seorang, sedangkan yang ‘membudayakan KKN’ itu jumlahnya jauh lebih banyak daripada kamu!

1 suara sifatnya signifikan terhadap perubahan.

Pasti alasannya karena pelit. Aisy kan pikir-pikir banyak sebelum menggunakan uang!

Yap. Bayangkan kalau uang ratusan ribu itu aku belikan sepatu, daripada untuk membayar calo. Sepatu itu mungkin masih bisa ku pakai hingga bertahun-tahun ke depan. Atau uangnya kasihkan ke Ibuk saja, buat beli beras atau cabe tuh. Daripada dibuat ‘beli’ SIM. Toh buat apa sih SIM itu? Validasi bahwa kamu punya kredibilitas mengemudi? Lintasan ujian praktik SIM C nggak representatif sama jalanan yang sesungguhnya. Banyak kekurangan dari ujian SIM C ini. Lagipula kamu sebenarnya bisa mengukur sendiri seberapa bagus kamu mengemudi.

Kan sayang waktu kuliahnya. Bensinnya. Tenaganya. Dibuat bolak-balik ke Polres.

Kalau memang dibolehkan untuk izin kuliah, kenapa nggak? Selama waktu dan tenaga yang harus aku keluarkan masih dalam batas kemampuan manusia, maka aku lakukan. Beda lagi seumpama aku sudah menjadi Ibu, atau ada suatu pekerjaan yang memang tidak memungkinkan untuk ikut peraturan, aku mungkin bakal ikut jalur belakang. Tapi tetap saja aku percaya, aku bisa menciptakan kesempatan untuk mengusahakan hal benar.

Author: AisyKarimaDewi

living in borderline since 1997.

21 thoughts on “Pengalamanku : Dilema Membuat SIM C”

  1. Iya memang jarang banget, itulah kenapa saya senang sekali disuruh nulis tentang pengalaman bikin SIM dengan beliau…

    Makasih dah mampir dan baca 🙂

  2. Harus bolak balik dengan meninggalkan 2 anak balita, itu beraatttttt sekali..
    Seandainya hanya sekali datang tanpa calo bisa lulus, sangat menguntungkan sekali bagi saya seorang ibu dgn 2 anak balita yg sangat ingin memiliki sim..

  3. Iya bener banget, kita sebagai masyarakat sebenernya kan juga gak mau melestarikan budaya KKN… Tapi kadang terbentur dengan keadaan kan ya… Semoga dilancarkan ya tesnya

  4. Saya udah punya sim a dan c
    Tapi masa berlakunya udah pada habis
    Minggu lalu saya coba bikin lewat jalur resmi
    Hasilnya tes teori saya gagal
    Saya mau coba jalur resmi terus
    Dan mau tau saya yang nyerah atau pihak dari pengurusnya yang nyerah …heheheeeee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *