Menangis Bersama Marina Abramovic

Kalau dilihat dari umurnya, dia pantas jadi nenekmu. Tapi kalau soal ketahanan fisik dan keteguhan mental, sudah pasti kamu kalah.

Marina Abramovic. (Image via Brain Picking)

Marina Abramovic merupakan performance artist kelahiran Serbia, 30 November 1946. Dia menjuluki diri sendiri sebagai “grandmother of performance art”.

Karyanya menggunakan tubuhnya sendiri sebagai medium. Marina bereksplorasi dengan daya tahan tubuh dan pikiran terhadap rasa sakit. Ia juga bereksploarsi soal hubungannya dengan audiens.

Seperti apa performance art-nya Marina Abramovic?

Russian Game. Image via Wikipedia.

Dalam Rhytim 10 tahun 1973, Marina menggunakan 21 pisau dan 2 tape recorder. Dengan ke-21 pisau itu, ia memainkan Russian Game, yakni membentangkan telapak tangan dan menusuk area di antara jari-jari dengan menggunakan pisau. Setiap kali ia akhirnya menusuk jarinya sendiri, Marina mengambil pisau yang lain dan melanjutkan permainan. Hal ini dilakukannya sampai seluruh pisau yang ada sempat menusuk jarinya. Seluruh adegan ia rekam, kemudian rekamannya ia putar ulang, sembari ia mencoba mereplika Russian Game yang sebelumnya, persis sampai bagian dia tertusuk pisau. Sadis nggak?

Marina berdiri tanpa ekspresi ketika ‘menjadi objek’ dalam Rhytim 0 (1974). Image via Ambramovic Institute.

Jangan lupa dengan Rhytim 0 pada 1974 dimana dia menjadikan dirinya objek bagi audiens. Di penampilan itu, Marina menyediakan 72 benda yang bebas digunakan oleh audiens kepadanya. Bahkan ada pistol dalam 72 benda itu. Dalam pertunjukan itu, kita bisa melihat bagaimana perilaku audiens ketika diberi kebebasan. Pada akhir pertunjukkan, tubuh Marina ditelanjangi, dilukai, bahkan pistol dipasangkan ke tangan yang kemudian diarahkan ke lehernya. Marina benar-benar mempercayakan seluruh dirinya kepada audiens.

Film Dokumenter Marina Abramovic “The Artist is Present”

The Artist is Present ialah nama performance sekaligus judul film dokumenter dari pertunjukan seni Marina Abramovic.

Konsep dari The Artist is Present adalahMarina akan duduk di sebuah kursi tanpa banyak bergerak. Di hadapan Marina telah ada kursi dimana pengunjung dapat duduk di sana dan bertatap mata dengan Sang Artis. Tidak ada bicara, tidak ada gerakan aneh-aneh. Hanya duduk dan saling bertatapan, saling merasakan keberadaan satu sama lain.

Yang menarik, Marina akan duduk di kursi itu dari pagi hingga menjelang petang, mengikuti jadwal bukanya Museum of Modern Art (MoMa). Hal itu dilakukannya selama 3 bulan berturut-turut. Bahkan, sudah disiapkan kotak di bawah kursi Marina, kalau-kalau ia pengen kencing atau BAB. Sebab disitulah esensi dari pameran tersebut, The Artist is Present. Sang seniman ada.

Selain itu, dalam pameran itu akan ada seniman-seniman muda yang mereplika ulang masterpiece dari Marina. Jadi jangan kaget kalau masuk MoMA dan mendapati banyak seniman telanjang yang mereplika performance art si Marina.

Marina dan Ulay. (Image via Aesthetica Magazine)

Oya, film ini juga sedikit banyak membahas soal hubungan Marina dengan Ulay. Ulay adalah seorang performance artist juga dan pernah menggelar beberapa pertunjukan berbahaya bersama Marina, sebelum akhirnya mereka berpisah.

Sebagai artis, Marina memiliki karakter yang unik. Dibesarkan oleh orangtua komunis, dia tumbuh dengan memiliki disiplin dan ketahanan fisik+mental yang kuat. Dia bahkan sanggup duduk berjam-jam pada posisi yang sama tanpa melakukan apapun, dia juga sanggup melakukan sebuah gerakan yang sama berulang-ulang pada setiap pertunjukkan seninya. Performance art-nya Marina pada dasarnya merupakan konsep yang sederhana, namun memiliki makna besar dan membutuhkan ketahanan fisik luar biasa.

Di saat menampilkan The Artist is Present, Marina sudah berumur 63 tahun. Namun dia masih sanggup menampilkan performance art-nya, yakni duduk diam dan memandangi setiap orang yang duduk di hadapannya di MoMA setiap hari selama jam operasi museum, selama 3 bulan. Gila gak sih? Bayangkan kekuatan mental dan fisik yang dipunyai Marina.

Saat melatih seniman lain untuk mereplika pertunjukan seninya di masa lalu, Marina mengajak para seniman muda itu untuk berpuasa gadget, membiasakan bertelanjang, berpuasa bicara dan melakukan beberapa kegiatan yang benar-benar dirancang agar pikiran seseorang itu fokus pada kondisi yang saat ini. Menurut Marina, latihan tersebut dapat membawa seseorang ke state yang peka. Peka dalam hal perasaan, baik diri sendiri maupun sama perasaan orang lain.

Why would you want to watch this documentary?

            Melaui film dokumenter ini, kamu bisa merasakan gimana rasanya duduk di hadapan Marina The Artist dan memandang langsung ke matanya. The art she performed was so raw, so intense, so beautiful. Aku sendiri menangis basah kuyup waktu lihat dia performing. Karena energi Marina memang se-intens itu. It feels like she was right there in front of me. Koneksi yang dibangun melalui tatap mata itu seperti sebuah cinta mendasar antar manusia, yang tidak memandang siapa kamu, tetapi cinta semata karena kamu ada.

Ekspresi wajah pengunjung yang duduk di hadapan Marina Abramovic. Kenapa menangis? (image via Virtual Artist Residency)

Who will most likely enjoy this documentary?

            Dokumenter ini akan sangat dinikmati bagi mereka yang punya hati, punya kasih untuk dunia. Kriteria lain dari orang yang bakal suka film ini ialah suka mengamati dan merenung. Jika kamu tidak masuk dalam kategori di atas, tetap saja, maybe you should give a try.

Author: AisyKarimaDewi

living in borderline since 1997.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *