Dilemma : Menjadi Wirausaha atau Pegawai?

Sumber : Buckets.co

Menjadi wirausaha itu keren. Itu yang kerap dikatakan media, pemerintah ataupun media pemerintah. Alasannya? Wirausaha adalah orang yang independen – ia bisa seenaknya mengatur waktu kerja. Jadi bos untuk dirinya sendiri. Pokoknya tidak seperti karyawan atau pegawai yang pada dasarnya adalah jongos, yang hidupnya disuruh-suruh. Dicitrakan wirausaha itu orangnya kaya raya. Pendapatannya tidak mentok pada aturan. Tidak seperti PNS yang pendapatannya mentok segitu-gitu aja sampai mampus. Bisa bermanfaat untuk masyarakat luas lagi. Pokoknya wirausaha itu keren. Mangkanya generasi milenial kalau lulus jadi wirausaha saja. Jangan jadi pegawai. Jangan membebani pemerintah dengan mencari kerja, tetapi bantulah pemerintah dengan menciptakan pekerjaan.

Saat saya lulus kuliah, saya bercita-cita untuk menjadi seorang yang independen. Saya tidak mematok target, saya pun tidak tahu setelah lulus saya mau kerja apa. Pada saat itu, saya sudah menjadi penulis lepas. Yang saya tahu, selepas lulus saya akan tetap menulis. Itu saja. Tidak muluk-muluk.

Bagi saya, dengan menulis saya sudah berwirausaha. Meski pendapatan saya mungkin hanya cukup sekedar untuk menjaga dapur saya sendiri tetap ngebul. Menulis juga membuat saya merasa independen, sama seperti wirausaha. Intinya tidak jauh-jauh amat-lah…

Saya hendak mengatakan sesuatu yang klise : ternyata hidup memilihkan jalan yang lain. Saya iseng-iseng daftar CPNS, dengan didoakan oleh Ibu saya. Tahapan demi tahapan ternyata saya lewati. Ternyata saya lolos. Saya resmi mengantongi SK CPNS.

Kamu tahu apa yang saya rasakan ketika saya lolos CPNS? Saya merasa malu. Kamu mungkin berpendapat bahwa saya sombong. Di saat orang lain bersyukur menjadi PNS, kenapa saya mesti malu? Kalau bukan sombong, terus apa? Yah… Di Indonesia, mayoritas menganggap profesi pegawai atau PNS dianggap mumpuni. Entah gajinya seberapa, kerjanya bagaimana, orang-orang otomatis mengelu-elukan ketika kamu jadi PNS. Beruntung!, katanya. Sebab nasibmu sekarang ditanggung oleh negara. Perumpamaannya : guling-guling di tempat tidur saja pun kamu sudah digaji.

Menurut saya, semua itu tergantung dari sisi mana kita menilainya. Penilaian di atas mungkin relevan bagi kalangan orang-orangtua atau individu-individu yang menjunjung kemapanan. Bagi saya si social justice warrior, yang mengaku orang bebas, menjadi CPNS adalah pukulan takdir kepada saya.

Ego saya tersinggung. Sebab selama ini saya kerap mengkritik pemerintah – meski sekedar lewat twit, blog, curhatan warung kopi atau obrolan larut malam. Di mata saya, sistem pemerintahan ini lebih banyak mudharatnya, banyak celah untuk melakukan hal yang munkar. Kotor. Tidak manusiawi. Kapitalis,  Fasis. Saya malah penasaran dengan tatanan dunia baru-nya Emma Goldman. Lha kok malah saya masuk ke dalam jajaran birokrasi.

You become everything you despise.

Saya tidak memungkiri bahwa ada banyak manfaat yang saya peroleh dari pekerjaan ini. Saya, anak ketiga dari enam bersaudara, si anak perempuan pertama, akhirnya bisa membantu beban yang ditanggung bapak ibuk. Kamu harus tahu betapa nikmat rasanya bisa mengirim uang bulanan ke orang rumah, bisa mentraktir adik yang sudah lama mengidamkan gellato, atau sekadar bisa memberi tip kepada GoJek – semata karena sekarang kamu mampu. Maka dari itu, jari tengah saya tunjukkan kepada orang-orang yang masih bebal mengatakan, “Uang bukanlah segalanya” dalam konteks survival. Sebab segala hal di zaman ini butuh uang, Cuk.

Terlepas dari kenikmatan itu, saya masih sering bertanya-tanya : apa mesti saya menjadi PNS seumur hidup saya? Bagaimana impian saya untuk menjadi wirausaha itu? Self-employed?

Selepas lulus diploma, saya sempat mengikuti program bantuan modal untuk anak muda yang ingin berwirausaha di bidang pertanian. Modalnya cukup besar, cukuplah untuk DP beli mobil Avanza. Kawan-kawan saya juga banyak mengikuti program wirausaha muda ini.

Dalam wirausaha ini, saya memilih subsektor hilir alias pengolahan. Sebab itu yang paling murah modalnya. Saya tidak punya sawah. Saya tinggal di area padat penduduk yang tidak memungkinkan bahkan untuk pelihara ayam kampung. Lagipula, saya sering kasihan sama hewan-hewan yang dijadikan konsumsi. Bingung? Tidak apa-apa, sebab saya juga bingung.

Awalnya saya jualan jamu. Ibu saya yang bikin, saya yang berjualan. Visi saya dulu begitu ambisius : saya pengen semua orang akhirnya minum jamu! Saya sempat menjual beberapa botol jamu. Tapi kamu tahu kan tipikal orang seperti saya? Yak, betul. Ternyata memang saya tidak pandai berdagang. Menurut saya, mengetik proposal di hadapan laptop seharian itu lebih gampang daripada menjajakan jamu secara langsung ke orang-orang. Pendirian saya juga gampang ditembus ketika berjualan. Jika ada teman yang menawar harga yang lebih rendah, langsung saya kasih. Karena tidak enak untuk menolak. Padahal saya bisa-bisa saja mempertahankan diri saat bernegoisasi dengan klien menulis (mungkin karena melalui tidak tatap muka). Intinya saya sadar saya masih harus berlatih banyak sekali kalau wirausaha.

“Kamu nggak usahlah wirausaha model dagangan gitu. Kamu fokus nulis saja”, kata pacar saya.

Alkisah suatu siang, program bantuan modal wirausaha muda itu tiba di tempat saya bekerja. Ada sosialisasi, yang kebetulan disana saya jadi moderator. Akhirnya saya mesti mendengar doktrin-doktrin itu lagi. Bahwa wirausaha itu adalah jalan menuju kejayaan. Mobilnya bisa sampai lima. Istrinya bisa dua. Mungkin tidak berseragam, tetapi jangan salah menaksir saldonya di bank. Dan yang paling penting, wirausaha tidak seperti si jongos yang mesti menurut, disuruh kesana kemari ikut.

Kata si pemateri, modal utama wirausaha itu adalah kemauan dan keberanian. Kata si pemateri jam tidur wirausaha itu 4 jam saja sehari. Kalau bisa 2 jam! Katanya, jika si pemuda X berhasil melakukannya, kamu pasti juga bisa. Intinya semua orang bisa jadi wirausaha muda jutawan kalau mau berusaha.

Muka saya tiba-tiba panas siang itu, sementara pikiran-pikiran menyimpul dalam otak saya.

Beberapa waktu lalu, saya mengawasi kawan-kawan saya berwirausaha, sementara saya kerja kantoran. Ada perasaan bungah sekaligus iri melihat kawan-kawan saya bisa memperoleh uang dari buah tangannya sendiri. Namun saya menyadari fenomena lain. Saya melihat kawan-kawan saya mulai nyambi kerja, satu persatu. Ada yang nyambi jadi honorer. Ada yang nyambi kerja di bank. Ada kok, yang tidak nyambi, alias tetep keukeuh dengan usahanya. Tetapi mereka itu adalah yang hidupnya sudah lumayan enak. Punya keluarga yang berkecukupan.

Ternyata, untuk berwirausaha kamu masih memerlukan banyak hal, yakni kemampuan, kemapanan dan pilihan. Alasan kawan-kawan saya nyambi kerja ialah, karena mereka butuh makan. Karena mereka butuh memberi uang bulanan untuk membantu orangtua. Sebab ternyata usaha subsisten mereka tidak bisa memberikan hal itu. Sebab apa gunanya menghidupi mimpi jadi wirausaha kaya raya kalau realitanya dapur sendiri saja tidak bisa ngebul? (Ternyata, menumbuhkan usaha tidak segampang pelihara tuyul!).

Di titik ini, saya pun mulai menyadari betapa pemerintah menghambur-hamburkan uang lewat pendanaan program wirausaha muda itu. Mengapa pemerintah tidak memberikan bantuan modal itu kepada wirausaha muda yang sudah ada dan benar-benar membutuhkan dukungan modal? Kalau begini bukannya seolah membuang sekoper uang ke sungai?

Saya tahu bahwa propaganda jadi wirausaha ini kemungkinan disebabkan pemerintah kuwalahan menangani melonjaknya angka pengangguran. Mangkanya, masyarakat harus jadi wirausaha agar jangan membebani pemerintah. Tetapi menurut saya, tidak semua orang harus jadi wirausaha. Pun, kita tidak perlu muluk-muluk mengejar kekayaan.

Manusia pada dasarnya hanya butuh makan, sandang, papan dan keamanan untuk hidup sejahtera. Pengejaran pada materiil nyatanya telah kebablasan dan mengubah manusia seperti burung-burung yang berebut bangkai, lantas saling memakan pada prosesnya. Padahal, kita bisa bekerja dan makan bersama-sama. Ketamakan itu tidak hanya merugikan sesama, tetapi juga alam. Alam dibunuh perlahan-lahan demi uang, seolah nanti kita bisa makan uang.

Saya juga menyadari bahwa doktrin wirausaha yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah dan media sebenarnya toxic. Mengejar status wirausaha atau independen ternyata tidak baik untuk kesehatan mental saya. Ia telah membuat saya kelewat cemas dan merasa gagal. Padahal ukuran kerja sebenarnya tidak dilihat dari apa yang dikerjakan. Tetapi nilai-nilai apa dan manfaat pekerjaan itu bagi sesama. Sepanjang nilai-nilai itu terpenuhi dan dapur keluarga saya tetap ngebul, maka saya sudah semestinya bersyukur. Lagipula, tidak mungkin semua orang yang berwirausaha jadi miliarder bukan? Menyadari hal tersebut, saya jadi belajar untuk menerima keadaan. Kita punya jalan masing-masing.

Saya masih pengen dapur saya ngebul 100% dari hasil saya menulis. Akan tetapi, saya tidak lagi bersikap keras pada diri sendiri. Akan banyak tulisan saya yang ‘gagal’ dan tidak  menghasilkan uang dan itu tidak masalah. Saya tidak harus kaya dari menulis di saat ini. Saya bisa mengusahakannya, perlahan, selangkah demi selangkah. Dan apabila pada akhirnya nanti saya tidak jadi miliarder karena menulis pun, saya tidak peduli.  

Published by

AisyKarimaDewi

living in borderline since 1997.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *