Curhat : Tentang Memasuki Dunia Dewasa

kamu ingin selamat dengan bahteramu atau mati konyol demi ideologi?

Keterangan : Lukisan “Noah and The Ark with Animal” oleh Clark Kelley

Sekali lagi saya ingin menulis betapa berbeda rasanya menjadi anak kuliahan dan menjadi orang dewasa.

Ketika saya kuliah, saya bebas berangan-angan dan berprinsip, sebab kehidupan saya separuh ditanggung orangtua saya, seperempat ditopang negara dan sisanya saya coba asapi sendiri. Jika pun saya punya idealis yang muluk-muluk, tidak akan berbahaya. Palingan saya akan sedikit bermasalah dengan orang-orang di sekitaran saya. Tapi toh saya akan tetap makan dan tidur di kasur springbed.

Namun, di dunia baru saya, dunia dewasa, segalanya serba terbatas. Saya tidak bisa lagi jadi seseorang yang idealis di dunia dewasa. Karena dunia dewasa yang raksasa ini beroperasi dengan prinsip yang berbeda dengan saya. Dan saking besar dan bergantungnya saya dengan dunia ini, saya akan remuk hancur tergilas jeruji dan mur, kalau saya berusaha beroperasi melawan sistem. Sudah pasti saya nggak bisa makan enak dan los kirim uang ke keluarga. Dunia dewasa selalu memunculkan sebuah tanya di kepala saya : kamu hendak menyelamatkan dirimu dan bahteramu, atau mati konyol demi ideologimu?

Saya juga menyadari betapa dunia dewasa amat sangat menjemukan. Dalam kepala saya di tahun 2018, segala ide itu mungkin dan menantang (dunia tanpa uang!, zero waste lifestyle!, freelance forever!). Di penghujung 2019, saya menyadari betapa banyak hal yang mesti saya pertimbangkan. Saya tidak bisa seenaknya mengambil resiko (padahal saya belum punya anak barang satu buah pun). Intinya, posibilitas-posibilitas menantang itu hilang di depan mata saya.

Bukannya menjadi pesimis sih. Cuman, perlu diakui bahwa saya tidak seoptimis dulu. Tidak senekat dulu. Saya cuma tambah realistis (alias sebuah sinonim dari kata ‘membosankan’). Realistis dalam artian saya menahan diri saya termasuk lidah cabe saya. Saya bukan lagi Aisy yang suka main-main resiko dan merasa above all the consequences.

Melihat diri saya yang berubah menjadi membosankan ketika menginjak dunia dewasa ini, saya jadi merindukan diri saya yang dulu.

Author: AisyKarimaDewi

living in borderline since 1997.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *