Cerpen

Cerpen : Hanya Potret Buram

Kamu tampak menawan.

Pagi ini kamu duduk di pojok kelas, sementara aku ada di hadapanmu seperti biasa. Kamu sedang sibuk memencet-mencet tombol hp-mu. Sedangkan aku memelototi layar kamera, berpura-pura melihat hasil jepretanku. Padahal aku sedang menunggu detik yang tepat untuk mengabadikan wajahmu.

Kamu tersenyum cerah seperti jeruk kuning yang bersinar di langit, entah karena apa. Cahaya pagi merembes masuk melalui jendela kaca di sebelahmu.

Klik.

Kamu tersenyum cerah, entah untuk apa. Mungkin Dilla mengungkapkan sesuatu yang hangat untukmu. Sebuah pernyataan cinta, mungkin.

Tiba-tiba kamu menengadah dan menatapku. “Hei, ngomong-ngomong kamu sudah belajar buat tes biologi belom?”

Aku mengangguk dan kamu menampilkan wajah memelas.

“Nanti ajarin aku ya. Semalam aku sibuk banget”

“Tentu”, jawabku, “Maksudmu sibuk sms-an, gitu?”

Kamu tertawa. “Thanks yah, kamu memang sahabat terbaik”

Sahabat.

Ada air menetes yang menggemakan dinding hatiku. Kemudian, kamu menekuni kembali hp-mu. Membiarkan ruang kelas pada pukul 6 pagi ini dilingkupi kesunyian. Aku membalikkan badan, membelakangimu dan memandang langit pagi dari jendela lantai 3.

Di saat itu, aku berharap, aku tidak pernah ada di sini.

***

Halaman majalah cewek bergesek di belakangku. Adikku, Dilla, tidur-tiduran di kasurnya. Sementara aku menyelesaikan sketsa langit yang kubuat. Tapi seperti biasa, kehadiran Dilla tidak pernah bisa membuatku berkonsentrasi. Untuk apa pun.

“Bisa tenang dikit nggak sih?”, semburku.

Dilla spontan terduduk. “Tenang gimana lagi? Kamu kenapa sih?”, semburnya balik. Wajah adikku berkerut kesal, poni super pendeknya tampak berantakan, rambut hitam panjangnya menggantung lembut menyentuh punggungnya.

“Dari tadi kamu bernapas dengan keras. Aku gak bisa konsentrasi”

Dilla melongo. Lalu sedetik kemudian tertawa.

“Ya ampun, kamu kenapa sih Kak? Aku bernapas denganmu di dalam rahim Ibu. Kita sudah bersama-sama sebelum kita mengerti apa itu dunia. Tapi kamu bahkan menganggap hembusan napasku keras!”

“Astaga, kamu mulai cerewet lagi!”

“Wajar… kan cewek!”

“Aku juga”, sahutku.

Dilla terdiam, kemudian menatapku dengan pandangan memohon. Jangan sekarang, pintanya. Aku melotot padanya dan akhirnya dia mendesah.

“Oke”

Adikku melempar majalahnya ke kotak kayu tempat ia meletakkan boneka, headset, majalah, dan kostum-kostum teaternya. Ia kemudian hanya duduk di kasurnya, yang bersebelahan dengan kasurku, menekuni hp-nya.

Mungkin dia sedang mengirim pesan pada Andri, orang yang hanya menganggapku sahabatnya. Aku tersenyum masam, memangnya aku minta apa?

Aku dan Andri adalah sahabat sejak kanak-kanak. Selama ini ia tidak pernah menggubris saudari kembarku. Entah kenapa baru kali ini dia melirik Dilla. Mungkin karena sekarang kami bertiga ada di SMA yang sama. Mungkin tiba-tiba Dilla tambah cantik karena pubertas. Padahal dulu waktu main ke kamarku, Andri biasanya memintaku mengusir Dilla. Entah kenapa. Padahal aku dan Dilla sepaket. Meski sifat kami jauh berbeda. Aku orangnya tidak banyak bicara, cenderung lama berkawan, dan mendapat nilai memuaskan di semua pelajaran. Sedangkan Dilla selalu supel dan sering dapat peringkat dari bawah. Satu-satunya minat kami adalah seni. Aku suka menggambar dengan pensil dan cahaya. Dilla suka teater dan fashion.

Kata Andri dulu, Dilla itu cerewet.

Aku gak mau tahu apa pendapatnya tentang Dilla sekarang. Itu akan membuatku makin menyedihkan. Aku menyukai sahabatku. Tapi orang yang kusuka malah menyukai saudara kembarku.

“Omigod, kakaaak!!! Kau melakukan ini untukku yaaa?!!!”

Pekikan itu mengagetkanku, perutku tertohok melihat Dilla memegang kameraku. Spontan aku meloncat turun tempat tidur dan merampas benda itu darinya.

“Jangan sembarang buka-buka kameraku!”, kataku pelan, berjalan membelakangi Dilla yang tampak bingung.

“Jadi kamu setuju kan kalau aku pacaran sama sahabatmu? Iya kan?”, cerocos Dilla di belakang.

Aku menatap potret-potret Andri dan membatu. Aku ingin mengatakan ya padamu, Dil. Tapi sayang sekali egoku tidak memperbolehkan hal itu. Padahal kamu saudariku. Kamu satu-satunya yang mengerti dan menerima diriku. Kamu ada di saat apa pun, meski aku selalu menyusahkanmu.

Tapi kali ini, aku tidak ingin bilang ya.

“Kamu ngerti nggak? Orang sering berpikir anak kembar kelewat tergantung dengan satu sama lain. Tapi kita punya Andri! Kamu jadi sahabatnya, aku jadi pacarnya. Sempurna!”, pekik Dilla.

Ini memang benar-benar sempurna.

***

Hari itu kamu pulang dari ekskul teater. Saat itu adalah ketika sore hampir habis, dan bulan menerangi malam yang temaram. Hujan mengguyur, titik-titik hujan menimpa genteng dan menimbulkan suara yang memekakkan tapi damai. Biasanya aku akan memandangi bintik-bintik air di jendela, menonton mereka meluncur seperti balapan. Tapi saat itu aku menunggumu, duduk di kasurku, menatap sekat kain yang memisahkan planet kita.

Lalu akhirnya pintu terbuka. Siluetmu tampak di sekat kain warna krem itu. 

“Kenapa lama banget?”, tanyaku.

Aku tidak butuh jawaban, aku tahu kamu pergi sebentar ke warung kopi bersama Ayah. Kamu dan Ayah menghirup secangkir kopi yang mengepul, menunggu hujan sedikit mereda. Ayah selalu lebih menyukaimu, Dil. 

Kamu meletakkan tasmu di sudut ruangan, sementara aku menghambur menerobos sekat. 

“Astaga, dingin sekaliii”, erangmu.

Aku meraih handuk dan melemparnya ke puncak kepalamu. 

“Kamu bawa kostum yang kemarin itu kan?”, tanyaku menyelidik.

Padahal sih, aku tahu kamu pasti membawanya untukku. Kamu kan saudari paling hebat sedunia. Iya kan, Dil?

“Ambil di tas”, ucapmu pendek. Kamu lalu pergi ke kamar mandi, sementara aku takjub melihat gaun pink yang kamu bawa. Bawahannya merekah seperti kuncup bunga terbalik. 

Malam itu kamu mengunci pintu kamar. Aku membuka jendela untuk si bulan.  Kamu tidur-tiduran di kasurmu. Memandangiku berputar-putar, mematut bayanganku di cermin.

“Adikmu suka warna apa sih?”, Andri menatapku penasaran.

“Pink, kenapa?”, tanyaku.

“Berarti kalo aku mau beli bunga, warnanya harus pink ya?”

“Terserah. Bahkan kalau kamu memberinya pohon kaktus, Dilla bakal suka”, sungutku.

Andri melotot, heran. “Kok sinis?”

“Sori. Kepikiran nilai ujian fisika yang kemarin”

“Oh”, ia bernapas, lega. “Kukira kamu keberatan”

Aku menggeleng. “Dilla juga menyukaimu”

“Oh ya? Dia bilang begitu?”, Andri merapikan rambutnya yang berantakan dengan gaya sok cool.

Aku tertawa untuknya. “Begitulah. Plus, dia jadi baik banget ke aku akhir-akhir ini. Semacam minta restu”

Ha. Bohong besar. Kenyataannya, Dilla selalu baik padaku. Akulah yang nggak baik untuknya.

Dilla dan Andri seperti potret utuh. Andri  pasti cocok dengan Dilla. Lagipula, dua-duanya adalah orang terbaikku. Jadi aku gak boleh merusak hubungan mereka. Iya kan?

“Tuh, kamu melamun lagi”

Aku menengadah dan meringis.

“Masih kepikiran nilai fisika?”

Aku menggeleng. “Gak bisa hidup tanpa kamera. Hari ini Dilla meminjamnya”

“Buat apa? Eh, dia bakal ke halaman belakang kan nanti? Hari ini aku harus udah nembak dia, jadi dia gak boleh pulang duluan. Kamu sudah bilang padanya kan?”

Aku mengangguk. Tiba-tiba hp Andri berbunyi. Spontan dia menekuni hp-nya dan meninggalkanku termangu di pinggir jendela.

Andai kamu tahu, Ndri.

Andai… Kata itu memenuhi benakku. Misalnya aku berandai-andai dan menuliskannya, aku tidak akan menghabiskan banyak halaman untuk harapanku. Aku bukan tipe orang yang mengharapkan banyak hal.

Bayangan wajahku di jendela mengusikku. Dan bel masuk pun berbunyi.

Satu per satu murid memasuki kelas, Andri duduk di kursi sebelahku, tapi masih menunduk, menatap layar hp-nya. Tiba-tiba aku ingin melakukan sesuatu. Kuambil hp-ku sendiri di saku, dan mengetikkan sesuatu untuk Dilla.

Dil, jangan lupa nanti sore ya. Dia agak nervous 😀

Ku tekan tombol ‘send’. Semenit kemudian hp-ku bergetar.

Trims, Kak. Aku menyayangimu. :’)

Aku menghela napas dan berpikir betapa Dilla layak mendapat kebahagiaannya sendiri. Ingatanku pun berputar ke malam itu, ketika aku kelas 2 SMP.

“Nanti kalau aku udah gede, aku bakal beli wig. Kamu mau menemaniku kan, Dil?”

Dilla mengerucutkan bibirnya, menimbang-nimbang. “Oke”

Aku menghambur memeluk adikku. “Kamu saudari paling manis seduuuniaaa”

“Eh, hati-hati, jangan sampai gaunnya rusak!”, pekikmu, melepas pelukanku. 

“Uh, maaf. Habis kamu baik banget sih”

Aku berbalik dan menatap cermin. 

“Ngomong-ngomong aku kelihatan cantik gak?”

Kalau aku memotret diriku saat itu aku bakal kelihatan menjijikkan. Potret yang tidak utuh. Tampak tidak benar. Ada yang salah.

“Kau selalu cantik, Dean”, ucap Dilla, menatapku sayang. 

“Panggil aku Dina!”

“Oke, kau selalu cantik, Dina. Kau saudari paling cantik seduuunia”

Tapi Dilla selalu menganggapku cantik. Oh Tuhan.

Bu Restu berjalan masuk kelas.

Tuhan, bisikku dalam hati. Tolong beri kebahagiaan untuk Dilla. Jangan biarkan aku merusak kebahagiaannya. Dan… Tuhan? Tolong lahirkan aku dan Dilla kembali.

Kali ini sebagai dua saudari kembar.

Kali ini aku sebagai perempuan.

***

credit image : Vinícius Vieira ft from Pexels.

***

Catatan penulis : cerpen ini ditulis Aisy di tahun 2010/2011. Ia mengirimnya ke sebuah majalah remaja tapi nggak lolos. Hari ini, aku menjadi editor bagi Aisy 13 tahun itu . Aku ingin memberi kesempatan agar tulisannya dapat dibaca dan dinikmati. Semoga Aisy remaja puas. Semoga hutang-hutangku padanya bisa terbayar tuntas. Amien.

You may also like...

3 Comments

  1. Duu says:

    Jim, jadi kembarannya ini cowo

    1. iya benar 😀

  2. terimakasih infonya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *