Cerpen

Cerpen : Ekonomi Ayam Goreng

Ibuku bukan sarjana. Tetapi ia selalu siap meladeni pertanyaan-pertanyaanku. Ia menjawabnya sembari mengupas bawang merah atau mengulek bumbu.

“Buk, kenapa Anin harus tinggal di rumah? Kenapa tidak boleh sekolah?”

Pada 2020, ada virus mematikan yang menyerang Cina. Pada bulan Maret, virus itu telah sampai di Indonesia. Kata Ibuku, virus itu membuat orang tidak bisa bernapas, lalu akhirnya mati.

Banyak yang berubah dalam kehidupanku. Tiba-tiba saja aku tidak bisa bertemu teman-temanku di sekolah. Hanya ada Tio, yang rumahnya ada di muka gang. Tapi Tio nakal, tidak asyik diajak main-main. Terakhir kali saat guru kami mengajak jalan-jalan ke sawah, Tio mendorong Yunita ke kubangan air tempat kodok beranak. Dari semuanya, yang paling membuatku kesal, Bapak tidak lagi memberiku uang saku.

“Anin kan di rumah. Anin makan nasi sampai kenyang. Supaya nggak jajan lagi”

Aku masih sebal, tentu saja. Sudah nggak boleh main, kini aku juga tak bisa makan cilok Pak Min langgananku. Juga gulali di kios Mak Yah.

“Kita sedang berhemat. Semua sedang susah”, jelas Ibuk.

Suatu hari, Bapak pulang kerja dengan wajah lesu. Aku tidak berani dekat-dekat dengan Bapak, apalagi kalau Bapak baru pulang kerja. Bapakku tidak asyik di saat-saat seperti itu. Bapak paling asyik di awal bulan, atau ketika mendapat cuti 2 hari.

Sore itu, Ibu dan Bapakku bicara berbisik-bisik di ruang tamu. Bapak bicara pelan tapi penuh tekanan. Ibuku banyak menghela napas dan menatap ke halaman kami. Halaman kami sempit, tapi pandangan Ibuk seperti menembus tembok rumah depan, hingga ke depannya lagi, dan membentang kedepannya lagi.

***

Esok hingga keesokan harinya, Bapak tidak memakai baju kerjanya lagi. Awalnya, aku pikir ia memperoleh cuti. Namun pagi berikut hingga berikutnya, ia masih duduk di teras dan minum kopi. Bapak tidak lagi menyuruhku beli rokok ke kios depan gang. Dulu, aku kesal disuruh beli rokok. Namun sekarang aku kesal karena tidak punya alasan untuk keluar rumah. Rasanya mataku capek memandangi guru dan teman-temanku dari layar hape.

Suatu hari, Ibuku masak besar.

“Anin sabar, ya. Yang itu buat dijual”, katanya saat mendapati tanganku hampir menggenggam paha ayam goreng.

Siang harinya Bapak pergi dengan sepeda motor membawa beberapa bungkus nasi ayam.

“Sisanya buat Anin?”

“Ya ndak, to. Anin ambil satu potong, buat makan siang sama malam. Besok-besok Anin makan sama tempe, ya. Ayam gorengnya dijual”

Otomatis aku merengut.

Sejak saat itu, aku harus berusaha keras fokus pada penjelasan Ibu Guru Alia di Zoom. Sementara, aroma ayam goreng memenuhi rumah kami. Ngomong-ngomong, ayam goreng Ibuk dan Bapak tidak laris-laris amat, tapi aku hanya boleh makan sepotong dalam seminggu.

***

Di malam sabtu, aku dan Ibukku biasa nonton TV. Bapak ikut juga. Bapak lumayan asyik setelah kerjaannya mengantar nasi ayam. Sebetulnya, hanya aku yang nonton TV. Ibuk kebetulan melipat baju-baju bersih di depan TV. Aku menunggu Bapak selesai membetulkan remote, supaya aku bisa nonton film di Trans TV, alih-alih menonton berita.

“Buk, katanya orang-orang banyak yang di-PHK”

Ibuk lama sekali baru menjawab. “Iya, kan Ibuk sudah bilang, sekarang semua lagi susah”

“Tapi artis di TV ada yang beli mobil lho, Buk”

“Ya mereka kan orang kaya, Nin”

Pembawa berita di televisi menjelaskan bahwa banyak masyarakat yang menjual benda-benda berharganya supaya bisa makan.

“Buk, kenapa mereka nggak dikasih makanan yang ada di supermarket itu ya? Kata Yunita, supermarket masih buka seperti biasa”

“Nggak bisa, Nin. Itu kan supermarketnya jualan”, jawab Ibu.

“Memangnya nggak boleh dibagi-bagi aja?”

“Nanti ekonomi ndak jalan, Anin”, Bapak nimbrung.

“Tapi kan biar nggak ada yang kelaparan, Pak”

“Ya semua mikirnya gitu. Tapi ada yang namanya ekonomi, Nin. Uangnya mesti muter terus supaya ekonominya bagus. Ndak boleh kalo ndak pake uang”

Aku tidak lagi menyimak kata-kata Bapak. Sontak, aku teringat ayam goreng di dapur, yang hanya boleh aku makan sepotong untuk satu minggu. Aku melihat anak kecil di TV yang terpaksa menjual mainannya.

Rasanya aku jadi kesal dengan hal yang disebut ekonomi itu.

 

Kupang, 3 Desember 2020

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *