Travel Diary

Bermalam Tahun Baru 2021 di Puncak B29 Lumajang

Sejauh saya bisa mengingat, saya enggak pernah naik gunung. Sumpah! Semasa kecil, saya adalah bocah yang nggrik-nggriken alias gampang sakit. Makan es, pilek plus demam. Kecapekan, sesak napas kambuh. Kena debu atau dingin, langsung bersin-bersin. Orang tua khawatir saya kenapa-kenapa kalau naik gunung. Alhasil kala teman-teman perkuliahan berlomba-lomba mendaki gunung, saya cuma bisa mengamati dari bawah. Kala mereka habis mendaki dan tiba di asrama dengan wajah bak kepiting rebus (akibat aktivitas fisik yang lumayan), saya memandangi mereka dengan takjub.

Saya selalu pengen merasakan pengalaman mendaki berjam-jam sembari memikul ransel. Ingin mengetahui sejauh mana saya bisa melampaui diri saya sendiri. Ingin berkemah dan masak bareng kawan-kawan. Teman saya bilang, naik gunung bareng bisa menunjukkan bagaimana karakter temenmu sebenarnya!

Sampai sekarang, saya belum pernah naik gunung. Tapi, saya sempat naik bukit dan melihat pegunungan dari jarak dekat. Dan bagi newbie seperti saya, pengalaman itu terhitung luar biasa menyenangkan. *lebay

Enough with background story. Jadi, tempat yang saya kunjungi ialah Puncak B29 yang terletak di Kabupaten Lumajang. B dalam B29 adalah singkatan dari Bukit dan angka 29 adalah tinggi bukit itu (2900 mdpl). FYI, Puncak B29 lebih tinggi dari Gunung Bromo (yang tingginya 2392 mdpl).

Apa saja yang seru di Puncak B29? Berikut saya bikinin list, siapa tahu jadi pengen kesana juga (kalau belum).

1. Jalan menanjak menuju The Real Negeri Atas Awan

Perjalanan menuju Puncak B29 adalah perjalanan menguji betis dan ketangguhan motor. Saya dan suami berangkat menuju puncak dengan motor bebek. Sampai di pertengahan, ternyata motor yang kami naiki enggak kuat. Maklum, kami membawa tas ransel yang lumayan berat. Saya dan suami pun gantian jalan kaki.

Inilah unsur seru yang pertama. Selama perjalanan menguji betis tersebut, saya tak henti-henti berseloroh kagum melihat lahan sawah yang berupa lereng miring. Sesekali saya berhenti untuk mengambil gambar bunga-bunga liar, kabut dan pohon pinus, sampai persawahan di lereng bukit. Melihat motor kami nggak kuat nanjak, seorang ojek motor mendatangi kami menawarkan jasa mengantar sampai puncak dengan Rp. 20.000,-/orang. Namun karena kami memang niat nguji betis, akhirnya kami tolak.

2. Tempat dimana segalanya putih dan dingin

Hampir mencapai puncak, samar-samar terdengar musik tayuban dari arah puncak. Tak lama berselang, nampaklah tulisan Welcome to Puncak B29. Ketika berjalan menuju puncak, barulah pemandangan putih membayangi kornea mata. Gumpalan awan-awan yang serupa permen kapas nampak di sekeliling pegunungan Bromo, Semeru dan Batok. Cantik! Puncak B29 is the real Negeri Atas Awan.

Para pengunjung sedang mempersiapkan tenda

3. Ketika mie instan jadi makanan terenak sedunia

Pada kunjungan kami, saya dan suami cuma bawa bekal mie dan kopi instan, sarden kalengan serta keripik tortilla. Namun anehnya, mie instan rasa ayam bawang itu terasa super lezat disantap di atas sana. Makan di alam memang adalah satu kegiatan yang harus dihayati sepenuh hati. Oh ya, kami juga sempat beli cilok limaribuan di Puncak B29.

4. Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan

Usai makan malam, kami langsung masuk ke tenda. Bukan apa-apa. Hanya suhu di Puncak B29 waktu itu sangat dingin. Penanda suhu di hape saya menunjukkan angka 15 derajat celcius, tapi hanya Tuhan yang tahu berapa suhu sebenarnya. Saya dan suami sudah bersenjata lengkap, memakai pakaian hangat dari ujung kepala hingga kaki, serta bersembunyi dalam sleeping bag. Namun dingin masih menemukan celah, menyelinap menusuk kulit. Dalam skenario ini, bahkan pelukan tidak bisa mengusir rasa dingin! Karena itu, kali ini tidak ada perempuan dalam pelukan. Kami hanya berbagi keluh dan menertawakan diri.

Bahkan ketika jam tidur telah tiba, kami masih kesulitan tidur. Selain dingin, pada waktu itu ada geng motor yang (entah apa tujuannya) membunyikan knalpot motor hingga berjam-jam lamanya. Bising bunyi knalpot menggedor-gedor gendang telinga. Sebal, tapi apalah daya. Karena itu, kalau bermalam di Puncak B29 pada malam tahun baru, siap-siap lah menghadapi polusi suara.

5. Tiga sosok yang kamu lihat saat membuka mata (empat)

Pada akhirnya kami berhasil tertidur, walau tidur-tidur ayam. Saya tidur lebih banyak daripada suami. Haha. Ketika pagi tiba, kami pun keluar tenda, dengan masih kedinginan. Namun segala susah rasanya terbayar tuntas ketika melihat pemandangan sunrise di hadapan kami. Tiga sosok di kejauhan, Bromo, Semeru dan Batok masih berada di tempat yang sama — namun telah dibangunkan oleh cahaya matahari. Para campers mulai berfoto ria di bawah siraman matahari. Hawa masih dingin, namun secercah matahari menyuntikkan kehangatan pada kami.

Bunga Edelweiss yang dijual

Tips kalau mau nginep di Puncak B29

  1. Siapkan fisik. Jangan lupa bawa obat-obatan dan pertolongan pertama pas masuk angin, minimal. Nggak akan seru kalau sampe sakit.
  2. Selain peralatan camping, bawa jas hujan.
  3. Nggak ada toilet di puncak, adanya di jalan menuju kesana. Jadi kalau mau buang air, buang air-lah sekalian. Karena kalau sudah nyampe atas biasanya males mau turun lagi. Btw, kalau udah buang air pas sore, nggak akan pengen buang air sampe besok paginya. Saking dinginnya, gak akan ada keinginan buang air.
  4. Lebih hemat kalau masak sendiri. Kalau mau beli makanan bisa, tapi warung-warungnya ada di bawah. Saya sih males turun wk.
  5. Ambil foto yang keren buat kenang-kenangan. Minta tolong ke camper lain buat fotoin (kalo gak bawa tripod), sekalian kenalan dan ngobrol-ngobrol.
  6. Bawa kantong plastik buat wadah sampah. Terus bawa turun ya sampahnya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *