Esai personal

Hobi Tidak Harus Menghasilkan Uang, Yang Penting Kamu Suka

Mula-mula aku menulis karena suka. Mempublikasi tulisan di internet adalah cara yang menyenangkan agar karyaku dibaca. Sebuah suka cita yang nyata ketika seseorang meninggalkan komentar atau mengatakan padaku bahwa mereka menyukai karyaku – bahkan kalau hanya ada seorang.

Awalnya aku melakukannya karena suka. Namun di dunia kita yang sekarang seperti ada tuntutan bahwa semua yang kita kerjakan harus menghasilkan. Uang. Sekarang seolah-olah apa yang kamu lakukan itu sia-sia jika tidak menghasilkan uang. Kamu harusnya mati-matian berusaha mendapat uang dari hobimu – entah itu menulis, menggambar, menyanyi, apapun itu. Jika kamu gagal menghasilkan uang, ya lebih baik gunakan waktu dan tenagamu untuk sesuatu lain yang kiranya lebih menghasilkan.

Di media sosial, kita melihat orang-orang menjadi internet persona. Apapun yang mereka lakukan sepertinya selalu mendatangkan uang. Kita melihat content creator dengan puluhribu bahkan jutaan follower. Dan seharusnya kita menjadi seperti mereka.

Busuknya, internet bekerja seperti dunia nyata. Bahkan mungkin lebih buruk. Media sosial punya algoritma. Karya yang bagus belum tentu mendulang perhatian dan reaksi yang pantas didapatkannya. Jika ingin meningkatkan statistik, seorang kreator harus punya strategi. Kamu tidak bisa hanya sekedar menjadi penulis atau tukang gambar, kamu juga harus jago marketing – entah kamu suka atau tidak.

Aku pernah terjebak. Pikiran terbagi menjadi 2 : antara berkarya dan sekaligus mencemaskan angka insight pada postingan instagram, juga mencemaskan angka pembaca pada post website. Dalam pikiran, segala akun yang kupunya harus dimonetasi, kalau tidak ya sayang. Ya percuma.

Sesungguhnya hidup seperti itu sangat melelahkan. Rasanya seperti mengejar sesuatu yang semu, apapun yang dilakukan rasanya tidak benar. Dan ketika telah pada tahap itu, aku mempertanyakan : kenapa sekarang berkarya justru menyiksa? Bukankah aku melakukannya karena aku suka? Bukannya aku berkarya, karena berkarya seperti oase diantara jam kerja dan hidup di bawah kapitalisme? Di titik itu aku sadar, kapitalisme telah masuk bahkan dalam ruang suaka milikku.

Dan itulah saatnya untuk mengingat kembali… bahwa hidup bukan hanya soal kerja dan uang. Bahwa hasrat manusia untuk menumpuk kekayaan hanya ada pada peradaban modern – dan harusnya kita tidak membiarkan ia menguasai kita. Bahwa kewarasan mental dan kebahagiaan dari hal-hal kecil sungguhlah penting dan mesti diperjuangkan. Bahwa kita berharga dan pantas, terlepas dari nominal yang kita hasilkan tiap bulannya.

Kita harus berkarya dan terus berkarya jika hal itu membuat kita waras.

Jika ada yang suka, maka itu bonus.

🙂

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *