Review Singkat Undang-undang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan

Sebuah tulisan sok tahu.

Sumber: Dokumen Pribadi

Kita kecolongan, sebab diam-diam ternyata RUU Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan (disingkat SBPK) sudah disahkan oleh DPR RI tanggal 24 September lalu. FYI, UU ini merupakan pengganti UU No 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. UU ini menjadi polemik selama bepuluh tahun sebab telah dijadikan alat bagi korporasi untuk mengkriminalisasi petani. Pada UU SBPK tahun 2019 ini, ternyata pasal yang problematis itu belum diganti.

Pasal yang sukses menjebloskan para petani ke penjara ialah pasal tentang Pemuliaan (Pasal 21). Pasal ini mengharuskan petani kecil melapor dan mengantongi ijin dari pemerintah untuk melakukan pemuliaan. Apa sih pemuliaan itu? Pemuliaan adalah proses mempertahankan dan memproduksi varietas bibit (tanaman) yang lebih baik. Apa yang problematis dengan pasal ini? Selama berabad-abad, petani telah melaksanakan pemuliaan secara mandiri. Barulah ketika industrialisasi pertanian mulai, muncul korporasi-korporasi raksasa yang memproduksi bibit-bibit tanaman maupun hewan. Korporasi menginginkan seluruh petani di dunia bergantung dengan bibit buatannya. Demi mendulang uang, korporasi pun menggunakan pemerintah untuk menerbitkan peraturan yang melarang petani melakukan pemuliaan sendiri.

Apakah dampak dari hal ini?

  • Petani kehilangan hak atas kegiatan pemuliaan. Padahal petani merupakan pemilik, pewaris dan pelestari sumberdaya genetik tanaman pangan di lingkungannya.
  • Petani dikriminalisasi, menerima sanksi ketika didapati melanggar pasal ini. Coba kamu ketik soal kasus kriminalisasi petani akibat pemuliaan di Google. Sudah pasti banyak hasil yang muncul tiap-tiap tahunnya. Sanksi dari tindak pidana ini ialah maksimal kurungan selama 5 tahun dan/atau denda Rp 500 juta.
  • Generasi petani yang kehilangan pengetahuan tentang proses pemuliaan, sehingga tersendatnya proses penemuan niche (inovasi lokalit). Sebenarnya, petani di tiap-tiap daerah punya knowledge set sendiri-sendiri. Jika pengetahuan ini luntur, maka yang didapati adalah budidaya pertanian yang homogen di seluruh daerah (seringkali tidak sustainable juga, baik dari segi alam maupun ekonomi).
  • Petani tergantung pada bibit bikinan korporasi yang mahal. Aku sering ikut pertemuan kelompok tani dan saat ada karyawan marketing dari perusahaan bibit, petani selalu mengeluh kalau harganya mahal.

Menurut pemahamanku, petani harusnya dibebaskan untuk melakukan pemuliaan. Jika memang masalah yang ada ialah rendahnya kualitas bibit di tingkat petani, harusnya pemerintah bisa mencover kekurangan itu. Apalagi ada bidang penelitian pertanian dalam pemerintahan. Jangan sampai petani yang dikorbankan.

Selain itu, sanksi dari pelanggaran ini tergolong berat, apalagi mengingat bahwa profesi petani termasuk profesi yang gerak-geriknya sangat diatur oleh pemerintah. Jangan sampai petani trauma jadi petani!

Pasal ‘Baik’ di Undang-undang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan

Sebenarnya ada banyak pasal baru dalam UU SBPK yang berpotensi baik, yakni :

  • Petani yang dapat mempertahankan Lahan budidaya pertaniannya akan diberikan insentif (Pasal 14). Sayangnya mempertahankan lahan budidaya pertanian akan sulit dilakukan sebab RUU Pertanahan belum memperkuat hak petani atas tanah pertaniannya.
  • Pasal 87 sudah mengatur tentang pungutan bagi Pelaku Usaha yang memanfaatkan jasa atau sarana produksi budidaya pertanian dan prasarana budidaya pertanian dan diberlakukan sebagai PNBP
  • Orang yang menemukan teknologi tepat guna serta penemu teori dan metode ilmiah baru di bidang pertanian akan diberikan penghargaan (Pasal 93).
  • Perlindungan harga komoditas pertanian oleh pemerintah.

Diharapkan, berbagai pasal tersebut diperjelas lagi regulasinya, sehingga bisa diterapkan.

Pasal-pasal yang ‘Membuat Bingung’

Pada pasal 100 poin 3, dilaksanakan pemberian insentif bagi Petani pemula yang akan melakukan budidaya Pertanian dan Petani yang mampu meningkatkan produktivitas hasil Pertanian

Menurutku, pasal ini aneh dan membikin bingung. Apa maksud dari pemberian insentif untuk orang yang akan melakukan budidaya pertanian?

Selain itu ada Bab XV tentang Sistem Informasi. Pasal-pasal dalam bab ini problematis, karena Pemerintah Pusat/Daerah bisa mengumpulkan, mengolah sampai menyebarkan data-data pertanian (perkiraan pasokan, luas wilayah budidaya pertanian, dll). Komponen yang termasuk sebagai ‘Pemerintah Pusat/Daerah’ itu berkewenangan mengurusi sistem informasi. Yang kupertanyakan adalah apakah pasal ini meneguhkan tindakan Kementerian Pertanian dalam mengumpulkan datanya sendiri dan tidak menggunakan data BPS? Padahal beberapa data di Kementerian Pertanian ini terbukti tidak akurat.

Itulah review singkatku tentang Undang-undang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan. Tentu saja, pemikiranku ini banyak kurangnya. Karena itu, aku seneng banget kalau kalian tahu lebih dan mau membuka ruang diskusi di kolom komentar.

P.S Tenang aja, aku udah baca UU SBPK ini full dari halaman awal sampai akhir, kok! I did it for fun 🙂

Dilemma : Menjadi Wirausaha atau Pegawai?

Sebuah esai reflektif

Sumber : Buckets.co

Menjadi wirausaha itu keren. Itu yang kerap dikatakan media, pemerintah ataupun media pemerintah. Alasannya? Wirausaha adalah orang yang independen – ia bisa seenaknya mengatur waktu kerja. Jadi bos untuk dirinya sendiri. Pokoknya tidak seperti karyawan atau pegawai yang pada dasarnya adalah jongos, yang hidupnya disuruh-suruh. Dicitrakan wirausaha itu orangnya kaya raya. Pendapatannya tidak mentok pada aturan. Tidak seperti PNS yang pendapatannya mentok segitu-gitu aja sampai mampus. Bisa bermanfaat untuk masyarakat luas lagi. Pokoknya wirausaha itu keren. Mangkanya generasi milenial kalau lulus jadi wirausaha saja. Jangan jadi pegawai. Jangan membebani pemerintah dengan mencari kerja, tetapi bantulah pemerintah dengan menciptakan pekerjaan.

Saat saya lulus kuliah, saya bercita-cita untuk menjadi seorang yang independen. Saya tidak mematok target, saya pun tidak tahu setelah lulus saya mau kerja apa. Pada saat itu, saya sudah menjadi penulis lepas. Yang saya tahu, selepas lulus saya akan tetap menulis. Itu saja. Tidak muluk-muluk.

Bagi saya, dengan menulis saya sudah berwirausaha. Meski pendapatan saya mungkin hanya cukup sekedar untuk menjaga dapur saya sendiri tetap ngebul. Menulis juga membuat saya merasa independen, sama seperti wirausaha. Intinya tidak jauh-jauh amat-lah…

Saya hendak mengatakan sesuatu yang klise : ternyata hidup memilihkan jalan yang lain. Saya iseng-iseng daftar CPNS, dengan didoakan oleh Ibu saya. Tahapan demi tahapan ternyata saya lewati. Ternyata saya lolos. Saya resmi mengantongi SK CPNS.

Kamu tahu apa yang saya rasakan ketika saya lolos CPNS? Saya merasa malu. Kamu mungkin berpendapat bahwa saya sombong. Di saat orang lain bersyukur menjadi PNS, kenapa saya mesti malu? Kalau bukan sombong, terus apa? Yah… Di Indonesia, mayoritas menganggap profesi pegawai atau PNS dianggap mumpuni. Entah gajinya seberapa, kerjanya bagaimana, orang-orang otomatis mengelu-elukan ketika kamu jadi PNS. Beruntung!, katanya. Sebab nasibmu sekarang ditanggung oleh negara. Perumpamaannya : guling-guling di tempat tidur saja pun kamu sudah digaji.

Menurut saya, semua itu tergantung dari sisi mana kita menilainya. Penilaian di atas mungkin relevan bagi kalangan orang-orangtua atau individu-individu yang menjunjung kemapanan. Bagi saya si social justice warrior, yang mengaku orang bebas, menjadi CPNS adalah pukulan takdir kepada saya.

Ego saya tersinggung. Sebab selama ini saya kerap mengkritik pemerintah – meski sekedar lewat twit, blog, curhatan warung kopi atau obrolan larut malam. Di mata saya, sistem pemerintahan ini lebih banyak mudharatnya, banyak celah untuk melakukan hal yang munkar. Kotor. Tidak manusiawi. Kapitalis,  Fasis. Saya malah penasaran dengan tatanan dunia baru-nya Emma Goldman. Lha kok malah saya masuk ke dalam jajaran birokrasi.

You become everything you despise.

Saya tidak memungkiri bahwa ada banyak manfaat yang saya peroleh dari pekerjaan ini. Saya, anak ketiga dari enam bersaudara, si anak perempuan pertama, akhirnya bisa membantu beban yang ditanggung bapak ibuk. Kamu harus tahu betapa nikmat rasanya bisa mengirim uang bulanan ke orang rumah, bisa mentraktir adik yang sudah lama mengidamkan gellato, atau sekadar bisa memberi tip kepada GoJek – semata karena sekarang kamu mampu. Maka dari itu, jari tengah saya tunjukkan kepada orang-orang yang masih bebal mengatakan, “Uang bukanlah segalanya” dalam konteks survival. Sebab segala hal di zaman ini butuh uang, Cuk.

Terlepas dari kenikmatan itu, saya masih sering bertanya-tanya : apa mesti saya menjadi PNS seumur hidup saya? Bagaimana impian saya untuk menjadi wirausaha itu? Self-employed?

Selepas lulus diploma, saya sempat mengikuti program bantuan modal untuk anak muda yang ingin berwirausaha di bidang pertanian. Modalnya cukup besar, cukuplah untuk DP beli mobil Avanza. Kawan-kawan saya juga banyak mengikuti program wirausaha muda ini.

Dalam wirausaha ini, saya memilih subsektor hilir alias pengolahan. Sebab itu yang paling murah modalnya. Saya tidak punya sawah. Saya tinggal di area padat penduduk yang tidak memungkinkan bahkan untuk pelihara ayam kampung. Lagipula, saya sering kasihan sama hewan-hewan yang dijadikan konsumsi. Bingung? Tidak apa-apa, sebab saya juga bingung.

Awalnya saya jualan jamu. Ibu saya yang bikin, saya yang berjualan. Visi saya dulu begitu ambisius : saya pengen semua orang akhirnya minum jamu! Saya sempat menjual beberapa botol jamu. Tapi kamu tahu kan tipikal orang seperti saya? Yak, betul. Ternyata memang saya tidak pandai berdagang. Menurut saya, mengetik proposal di hadapan laptop seharian itu lebih gampang daripada menjajakan jamu secara langsung ke orang-orang. Pendirian saya juga gampang ditembus ketika berjualan. Jika ada teman yang menawar harga yang lebih rendah, langsung saya kasih. Karena tidak enak untuk menolak. Padahal saya bisa-bisa saja mempertahankan diri saat bernegoisasi dengan klien menulis (mungkin karena melalui tidak tatap muka). Intinya saya sadar saya masih harus berlatih banyak sekali kalau wirausaha.

“Kamu nggak usahlah wirausaha model dagangan gitu. Kamu fokus nulis saja”, kata pacar saya.

Alkisah suatu siang, program bantuan modal wirausaha muda itu tiba di tempat saya bekerja. Ada sosialisasi, yang kebetulan disana saya jadi moderator. Akhirnya saya mesti mendengar doktrin-doktrin itu lagi. Bahwa wirausaha itu adalah jalan menuju kejayaan. Mobilnya bisa sampai lima. Istrinya bisa dua. Mungkin tidak berseragam, tetapi jangan salah menaksir saldonya di bank. Dan yang paling penting, wirausaha tidak seperti si jongos yang mesti menurut, disuruh kesana kemari ikut.

Kata si pemateri, modal utama wirausaha itu adalah kemauan dan keberanian. Kata si pemateri jam tidur wirausaha itu 4 jam saja sehari. Kalau bisa 2 jam! Katanya, jika si pemuda X berhasil melakukannya, kamu pasti juga bisa. Intinya semua orang bisa jadi wirausaha muda jutawan kalau mau berusaha.

Muka saya tiba-tiba panas siang itu, sementara pikiran-pikiran menyimpul dalam otak saya.

Beberapa waktu lalu, saya mengawasi kawan-kawan saya berwirausaha, sementara saya kerja kantoran. Ada perasaan bungah sekaligus iri melihat kawan-kawan saya bisa memperoleh uang dari buah tangannya sendiri. Namun saya menyadari fenomena lain. Saya melihat kawan-kawan saya mulai nyambi kerja, satu persatu. Ada yang nyambi jadi honorer. Ada yang nyambi kerja di bank. Ada kok, yang tidak nyambi, alias tetep keukeuh dengan usahanya. Tetapi mereka itu adalah yang hidupnya sudah lumayan enak. Punya keluarga yang berkecukupan.

Ternyata, untuk berwirausaha kamu masih memerlukan banyak hal, yakni kemampuan, kemapanan dan pilihan. Alasan kawan-kawan saya nyambi kerja ialah, karena mereka butuh makan. Karena mereka butuh memberi uang bulanan untuk membantu orangtua. Sebab ternyata usaha subsisten mereka tidak bisa memberikan hal itu. Sebab apa gunanya menghidupi mimpi jadi wirausaha kaya raya kalau realitanya dapur sendiri saja tidak bisa ngebul? (Ternyata, menumbuhkan usaha tidak segampang pelihara tuyul!).

Di titik ini, saya pun mulai menyadari betapa pemerintah menghambur-hamburkan uang lewat pendanaan program wirausaha muda itu. Mengapa pemerintah tidak memberikan bantuan modal itu kepada wirausaha muda yang sudah ada dan benar-benar membutuhkan dukungan modal? Kalau begini bukannya seolah membuang sekoper uang ke sungai?

Saya tahu bahwa propaganda jadi wirausaha ini kemungkinan disebabkan pemerintah kuwalahan menangani melonjaknya angka pengangguran. Mangkanya, masyarakat harus jadi wirausaha agar jangan membebani pemerintah. Tetapi menurut saya, tidak semua orang harus jadi wirausaha. Pun, kita tidak perlu muluk-muluk mengejar kekayaan.

Manusia pada dasarnya hanya butuh makan, sandang, papan dan keamanan untuk hidup sejahtera. Pengejaran pada materiil nyatanya telah kebablasan dan mengubah manusia seperti burung-burung yang berebut bangkai, lantas saling memakan pada prosesnya. Padahal, kita bisa bekerja dan makan bersama-sama. Ketamakan itu tidak hanya merugikan sesama, tetapi juga alam. Alam dibunuh perlahan-lahan demi uang, seolah nanti kita bisa makan uang.

Saya juga menyadari bahwa doktrin wirausaha yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah dan media sebenarnya toxic. Mengejar status wirausaha atau independen ternyata tidak baik untuk kesehatan mental saya. Ia telah membuat saya kelewat cemas dan merasa gagal. Padahal ukuran kerja sebenarnya tidak dilihat dari apa yang dikerjakan. Tetapi nilai-nilai apa dan manfaat pekerjaan itu bagi sesama. Sepanjang nilai-nilai itu terpenuhi dan dapur keluarga saya tetap ngebul, maka saya sudah semestinya bersyukur. Lagipula, tidak mungkin semua orang yang berwirausaha jadi miliarder bukan? Menyadari hal tersebut, saya jadi belajar untuk menerima keadaan. Kita punya jalan masing-masing.

Saya masih pengen dapur saya ngebul 100% dari hasil saya menulis. Akan tetapi, saya tidak lagi bersikap keras pada diri sendiri. Akan banyak tulisan saya yang ‘gagal’ dan tidak  menghasilkan uang dan itu tidak masalah. Saya tidak harus kaya dari menulis di saat ini. Saya bisa mengusahakannya, perlahan, selangkah demi selangkah. Dan apabila pada akhirnya nanti saya tidak jadi miliarder karena menulis pun, saya tidak peduli.  

Rekomendasi Film dan Buku tentang Makanan

Demi makan memakan yang bermartabat!!!

Mukaddimah.

Makanan, dalam sudut pandangku, adalah hal yang krusial. Tidak lain karena makanan adalah komponen paling dasar yang membuat manusia bertahan hidup. Jika ingin blak-blakan, kita sebenarnya bekerja 8 jam sehari bahkan lebih, tidak lain adalah agar dapat makan. Selebihnya kita bekerja untuk membeli benda-benda tersier yang membantu kehidupan lebih tertahankan.

            Mempelajari tentang makanan, menurutku adalah hal yang sangat penting. Bukan hanya dari segi nutrisi, tetapi bagaimana makanan telah berhasil membuat kita berevolusi hingga bisa mencapai peradaban yang saat ini. Juga, bagaimana hubungan kita dengan makanan mempengaruhi lingkungan yang ada di sekitar kita.

            Di zaman ini, manusia memiliki begitu banyak pilihan tentang makanan. Tidak seperti zaman dahulu, kamu kini bisa makan buah anggur yang sebenarnya secara alami tidak tumbuh di tempat tinggalmu. Susu yang kamu minum ketika sarapan diperah dari sapi yang letaknya beribu bahkan berjuta kilometer letaknya dari tempat tinggalmu.

            Jika kamu masuk ke supermarket dan menengok bagian makanan, kamu akan melihat rak-rak dipenuhi makanan siap santap dalam kemasan plastik atau kaleng. Makanan-makanan ini tidak ditumbuhkan dari tanah. Biskuit, minuman bersoda, permen, adalah makanan olahan yang dimasak bukan oleh ibumu, tetapi mesin-mesin raksasa yang menghasilkan ribuan lebih produk tiap jamnya.

            Pikirkan juga, bagaimana orang-orang dari tempat-tempat lain bekerja keras demi menghasilkan makanan yang nantinya tersaji di piringmu. Saat makan di restoran, ada karyawan yang bekerja keras di dapur, membawakan makanan ke meja dan mencuci piringmu. Orang-orang yang bekerja di restoran ini kemungkinan tidak pernah berkunjung ke restoran yang sama untuk makan malam sepertimu.

            Sebab makanan manusia pula, bumi menangis. Hutan amazon ditebangi untuk dibuat lahan penggembalaan sama seperti hutan-hutan di Indonesia Timur dibuka untuk penanaman padi, jagung atau kelapa sawit.  

            Secara garis besar, itulah pentingnya kita belajar makanan. Ada banyak makna di balik sepiring nasi di meja makanmu.

            Berikut adalah beberapa film dan buku rekomendasiku tentang makanan.

  1. Pangan, dari Kelaparan hingga Ketahanan Pangan

Buku ini asyik dibaca oleh siapapun, termasuk kamu yang masih newbie soal ketahanan pangan. Dalam buku ini, Susan George menjelaskan tentang sejarah makanan dalam kehidupan manusia, lahirnya pertanian, hingga bagaimana manusia memperoleh makanan saat ini. Melalui buku ini, kamu akan belajar tentang fakta mengerikan di balik fenomena “kelaparan di tengah-tengah lumbung pangan”. Oya, buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi satir yang apik sehingga tidak akan bosan. Baca juga Resensi Buku Pangan, dari Kelaparan Hingga Ketahanan Pangan.

Buku ini bisa dibeli di BukuAkik kalo ga salah 50rban.

2. Food Rules oleh Michael Pollan

Image from Goodreads.

Apakah kamu pusing mempelajari kandungan bahan-bahan makanan yang mesti kamu konsumsi dan hindari? Benar, saat ini teknologi memudahkan kita untuk mengetahui kandungan bahan makanan. Tapi, hal itu sekaligus membuat ribet. Karena itu, Michael Pollan, penulis buku Food Rules punya 64 aturan sederhana untuk makan sehat. Aturan-aturan Pak Pollan ini juga sangat gampang diingat. Contoh aturannya adalah :

  • Hindari produk makanan yang bahan bakunya tidak bisa dilafalkan oleh siswa kelas 3 SD,
  • Jangan mengonsumsi sesuatu yang tidak dianggap makanan oleh nenek buyut Anda, dan
  • Hindari makanan yang diiklankan di televisi

Gimana? Sederhana, kan? Kamu tidak perlu ribet menghapal kandungan makanan yang namanya susah itu.

(Buku ini tersedia gratis dalam bahasa Inggris, tapi sudah tidak tersedia di internet. If you are interested, please kindly ask me and I’ll send the ebook to your email)

3. Cowspiracy : The Sustainability Secret (2014)

Film ini wajib ditonton bagi kamu yang belajar di jurusan peternakan, atau minimal suka makan daging. Di film ini, kamu akan melihat bagaimana sektor peternakan ternyata adalah penyumbang terbesar gas karbon yang berdampak pada efek rumah kaca. Bagaimana? Tonton di link ini.

4. Food Inc (2008)

Kalau ini favoritku sih. Film dokumenter yang disutradarai oleh Robert Kenner ini mengupas habis soal sisi buruk agribisnis pertanian maupun peternakan di Amerika. Dalam film ini kamu akan melihat kenapa tingkat obesitas di Amerika begitu tinggi, juga bagaimana alam dan pekerja yang dirugikan oleh kegiatan produksi makanan yang dilakukan korporasi raksasa. Tonton disini.

5. That Sugar Film (2014)

Disini, Damon Gameau bereksperimen mengonsumsi produk makanan manis yang diklaim sehat. Lewat film asyik dengan jingle lucu, film ini membuka mata penonton tentang fakta pahit di balik manisnya gula. (Sayang sekali film ini belum tersedia di website nonton pilem gratis Indonesia. Kalau link tanpa subtitle indo banyak)

Efek nonton film/baca buku di atas :

  • Jadi mikir dua kali kalau mau beli jajanan di minimarket. Apa gak ngemil kacang rebus/buah yang dibeli di pasar aja? Terus jadi mikir berkali-kali juga kalau mau jajan junkfood di Mekdi atau Ka-efsi. Mikir berkali-kali pas mau makan ayam broiler.
  • Juga jadi bersyukur banget bisa makan daging sapi yang digembalakan dan makan 100% rumput-rumput ijo.
  • Jadi rajin masak sendiri alias hemat. Alhamdulillah Ya Allah.

Selamat mengkoleksi ilmu tentang makanan!