Agar Malu-maluin Bicara Di Depan Umum

Keiko Morimoto’s Illustration
            Bicara di depan umum bukan perkara yang mudah. Baik bagi mahasiswa, ketua RT sampai Presiden saja sering perlu alat bantu untuk bercakap di depan khalayak. Sensasi pas mau ngomong di depan umum itu memang gak enak, rasanya kayak gejala disantet. Detak jantung tidak beraturan, tangan berkeringat, tenggorokan tercekik, dan tiba-tiba kesulitan mengontrol tubuh sendiri. Niat hati bilang ikan tongkol, eh yang keluar malah ikan kont*l.
            Kan, malu L.
Ya memang sensasi itu sih yang bikin orang menghindari ngomong di depan publik. Tapi masa iya seumur hidup mau menghindar ngomong di depan publik? Kamu apa nggak capek memendam amarah jomblo ketika dosenmu di kelas tiba-tiba nyeplos kalau dia setuju jomblo itu jomblo karena alasan ekonomi? Kenapa kamu nggak angkat tangan terus bilang, “Maaf Pak/Bu, tapi saya nggak setuju” Padahal nanti para jomblo di kelas itu bakal sorak sorai mendukungmu, lho, lalu kalian para jomblo yang tertindas akan me-roasting dosen asumsi ngawur tadi, sampe gosong. Dan dosenmu nanti bisa malu dan kapok dan bakal melakukan riset dulu sebelum percaya asumsi yang menyudutkan para jomblo.
Kamu juga apa nggak capek pas presentasi di kelas baca tulisan di slide powerpoint melulu? Toh kamu tahu teman-teman sekelasmu kesadarannya sudah pada ambyar mendengarkanmu membacakan teks kaku itu bulat-bulat. Sementara kamu sendiri sebenarnya punya cara menjelaskan teori yang menarik, tapi sayang belum lancar ngomong. Ya gitu deh, akhirnya banyak kesempatan dan pengalaman aneh terlewat gara-gara kurang berani ngomong di depan publik~. Entah itu kesempatan jadi Presiden Indonesia atau pengalaman dilempar sepatu, uwu (Btw, terlepas dari rasa sakitnya, dilempar sepatu pas ngomong di depan publik itu pengalaman keren yang mesti dikoleksi dalam toples lhooo. Emang berapa banyak sih orang seumuranmu yang pernah dapat pengalaman itu?).
 Penyebab mayoritas orang Indonesia nggak suka public speaking dan lebih suka ngerasani di warung kopi itu ada beberapa hal. Salah satunya adalah sistem pendidikan. Ya, gimana, belasan tahun di sekolah diajarkan kalau kemanutan adalah hal yang utama, diam itu lebih baik daripada kelihatan bodoh, sering kena hukuman sosial kalau bertanya apalagi mengungkapkan ketidaksetujuan pada guru. Haduh, hukumannya berlipat-lipat, selain guru dan teman kelas, diri sendiri juga ikut menghukum cuy. “Udah lain kali kamu diam aja”, akhirnya kamu berbisik pada dirimu sendiri.
Tapi, jangan khawatir, kawan-kawan. Sebab, ada kok cara mengelabui diri sendiri supaya berani ngomong di depan umum :
1.    1. Kalau mau terkenal dan berkuasa harus berani ngomong dong
Kemampuan ngomong di depan umum ini sangatlah penting, terkhusus pabila ingin jadi ‘orang’. Sepintar apapun kamu, orang akan sulit percaya jika dari omongan saja masih belepotan. Bukan berarti kalau ngomong harus pakai istilah yang ndakik-ndakik biar dikira sombong pintar. Setidaknya, kalau ingin jadi ‘orang’, ngomongnya ya mesti bisa dipahami orang dan tidak mengurangi makna yang ingin disampaikan. Apalagi kalau pengen jadi presiden atau Pak RT. Kemampuan ngomong ini harus dilatih dulu, dong. Pun nanti kalau jadi orang biasa nanti minimal haruslah berani dan bisa berorasi untuk memikat hati calon mertua. Tapi ingat ya kalau sudah berani dan pintar ngomong, jangan berani-beraninya ngatain orang lain dungu.
2.    
     Perasaanmu itu kalau dibiarkan nanti mati juga
Di dunia ini setiap orang sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi apabila ia mengungkapkan pendapatnya. Saat ada sesuatu yang tidak sreg, sebenarnya hati dan pikirannya itu sudah merasa gatal ingin menimpali. Nah, hasrat ini, seperti cinta, kalau tidak dirawat nanti mati, lho. Toh hasrat untuk menimpali ini sebenarnya bisa jadi hal yang positif.
3.   
     Jangan berani-berani nganggap penonton itu rumput yang bergoyang
Kamu pasti sering banget ya mendengar petuah, “Kalau gugup, anggap aja orang-orang di depanmu itu rumput yang bergoyang” Bener nggak? Sering banget? Asal kamu tahu ya, itu namanya penghinaan. Itu juga merupakan cara pengecut untuk menghadapi penonton. Penonton itu ya orang. Kamu pikir mata mereka yang berkedip-kedip dan bergerak mengikuti kamu itu apa? Bagaimana bisa kamu mengabaikan kemanusiaan mereka? Lain kali, kalau ngomong di depan, jangan gitu ya. Pilihlah jalan pemberani dengan menatap mata mereka semua tanpa ampun, bulatkan tekad dan kuatkan hatimu. Lalu bicaralah sembari menganggap onggokan daging di kursi yang menontonmu itu sebagai manusia.
4.    
      Hari ini malu-maluin, besok bakal lupa juga~
Saat ngomong di depan, ada banyak kesempatan bagi kita untuk mengucapkan hal-hal yang malu-maluin. Tapi ya hidup ini kan pasti tidak terbebas dari tragedi. Ada banyak jenis perasaan di dunia ini, gunanya adalah untuk dirasakan. Toh, feelings are temporary, thoughts are forever. Hari ini kamu malu-maluin dirimu sendiri, tapi besok atau besok-besoknya lagi kamu pasti bakal terbebas dari perasaan malu. Karena akan ada perasaan lain yang mengisi apabila kamu membiarkannya masuk. Ingat You Only Live Once (tapi ya jangan sembrono juga).
5.    
      Haters are gonna be haters
Salah satu penyebab seseorang enggan ngomong di depan publik adalah takut menghadapi pendapat, cercaan, atau gunjingan orang lain. Tanamkan lagi bahwa kamu tidak bisa mengontrol reaksi orang lain. Kamu cuma bisa mengembangkan dirimu supaya muat menampung timbal balik dari dunia luar. Toh ya, kalau bener ada yang suka nyinyirin kamu karena pede ngomong, biasanya yang nyinyirin itu cuma bunyi besar di belakang. Sedangkan kalau disuruh ngomong di depan langsung kisrut macam siput. 
6.    
      Kamu itu berani, hanya belum mencoba
     Kesalahan pertama orang-orang yang takut bicara di depan umum adalah mereka menghakimi diri padahal belum mencoba. “Udah nyoba kok, kemarin dulu, langsung ditimpuk batu” Ya kan, baru sekali. Coba sekali lagi lah. Siapa tahu kali ini ditimpuk pakai uang sekebun sampai pingsan. 

Surat Cinta Buat Sarah dan Gadis

Sarah Soeprapto and Gadis Azzahra (I am too lazy to put proper credit on this picture yoooo)
                       Kamu nggak tahu bahwa dengan kamu ‘ada’ saja, kamu telah membuat orang lain juga tetap ‘tinggal’. Itu adalah ‘keberadaanmu’, ‘kehidupanmu’ yang menginspirasi orang lain untuk ‘ada’ dan ‘hidup’ juga. Itu adalah semburan passionmu, cintamu yang muncrat pada apa-apa yang kau kerjakan. Cintamu bergeletakan menyala neon di ruang-ruang daring: Instagram, Twitter, Tumblr, Medium, LinkedIn, WordPress… Begitu tergapai untuk kemudian aku memungutinya dan menyesap sari-sari passion yang meleleh darimu – tulisan, gambar dan aktivitas hari-hari – perjuangan.
            Dengan begitulah aku hidup : melalui sesapan darah unicorn – kalian.
            Desember 2016 adalah pertemuanku dengan kalian – Sarah dan Gadis, dua nama sejak dulu-dulu menurutku selalu cantik. Aku duduk di bangku Skale Creative Space yang tidak nyaman, mataku mengantuk sebab aku telah berangkat ke Surabaya sejak pukul 6, namun otakku tidak menyerah. Ada sesuatu dari cara kalian bicara, bergerak – itu passion, itu sebuah keyakinan – agama.
Sejak saat itu aku murtad.
            Kalian adalah bukti hidup bahwa sangat mungkin ada dan diterima dengan passion, bahwa idealisme dan mimpi tidak serta merta membuat individu terasing dari masyarakat – justru idealisme dan mimpi itu yang akan membuat individu terhubung dengan masyarakat.
            Kalian memberiku sensasi kehidupan – yang kerap kali nyala-padam-nyala-padam dalam diriku. Dan sensasi kehidupan itu bertahan sepanjang tahun berikutnya, berikutnya lagi, lagi dan lagi. Hanya karena aku ingat kalian ‘ada’.
            Dan, lihatlah betapa kuat nyala cinta kalian, menggetar melewati beribu kilometer, menembus beton dan kabut, menembus kebencian dan kegelapan kota.
            Kalian adalah lilin-lilin kecil, yang memberi cahaya untuk kehidupan lilin-lilin lain. Demi dunia dan orang-orangnya yang kukasihi, dan demi diriku sendiri, kumohon, hiduplah.


(This writing originally posted in Wattpad on 2018, March.)