Cerpen

Cerpen : Spons Kecil di Bojonegoro

Ilustrasi oleh Tim Radar Bojonegoro
Mereka bilang aku diam karena sedang merindukan kampung halamanku, Batu. Aku hanya bisa bilang tidak dan tertawa masam, tanpa bisa mengucapkan penjelasan apapun. Sebab percuma saja, mereka tidak akan mendengarkan, apalagi peduli. Tapi jujur, aku sedikit tidak setuju apabila mereka menyebut Kota Batu sebagai ‘rumah’-ku, mentang-mentang aku lahir dan besar di sana.
Aku punya sederet alasan mengenai kediamanku akhir-akhir ini. Tapi biar aku bercerita dulu bagaimana hal itu bermula. Saat itu hari Jum’at pukul 9.00, kami sekelompok Praktik Kerja Lapangan (PKL) sedang menyusuri jalan-jalan di Bojonegoro. Aku duduk di bangku depan, sementara Kak Endri mengemudikan mobil milik Pak Imam. Pak Imam ini adalah Kepala Desa Prayungan, di rumah beliau inilah kami tinggal selama di Bojonegoro dalam rangka PKL ini.
Pemandangan Bojonegoro memang cantik. Aku belum pernah melihat hamparan padi yang seluas ini. Matahari pagi menyemburkan sinar keemasannya, membuat pemandangan kian dramatis. Padi sudah mulai menguning, katanya beberapa hari lagi padi sudah bisa dipanen.
Selanjutnya langit yang biru bersih itu. Bukannya mau membanding-bandingkan, tapi langit kota kecilku, Batu itu, sudah tercabik-cabik bangunan pencakar langit. Rasanya melegakan bisa melihat ke atas tanpa terhalangi bangunan-bangunan tinggi.
Mereka bilang aku aneh. Aku bilang pada mereka kalau aku tidak terlalu dekat dengan orangtuaku. Tapi tidak ada tanggapan. Aku bilang lagi kalau aku bukan seseorang yang terikat, terikat secara rohani. Jadi jangan pernah bilang aku merindukan kota kelahiranku, sebab aku sama sekali tidak merasa begitu.
Ini pertama kali aku pergi jauh dari rumah. Jarak antara kampus-asrama STPP Malang dengan Batu tidak terlalu jauh, jadi selalu ada seseorang yang mengontrol dan mengurusku. Tapi di sini, aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri, melakukan hal-hal yang aku mau, bertanggung jawab secara penuh atas hal-hal yang aku lakukan. Rasanya menyenangkan bisa mengandalkan diri sendiri secara utuh.
Aku memegang ujung tisu, meletakkan tanganku di pinggiran jendela mobil, membiarkan tisu itu melayang-layang terterpa angin. Aku ingin berbagi kesan-kesan yang ku dapat, ingin aku bercerita tentang bagaimana aku melihat hal-hal menakjubkan yang ada di depanku ini, sayang sekali kamu tidak ada di sini.
Sayang sekali kini aku sudah membencimu, kekasihku di Batu. Sebab, kamu telah menumbuhkan rasa terikat yang terkutuk itu.
***
I believe in kindness of strangers. Kira-kira artinya, aku percaya pada kebaikan orang asing. Kalimat itu ku kutip dari Lana Del Rey, penyanyi favoritku. Aku pernah, berjalan menuju kampus dengan badan lemas karena demam, lalu kakak-kakak senior yang tidak ku kenal menghampiriku dan menanyakan kondisiku itu. Kakak-kakak tadi menyarankan agar aku minum obat dan beristirahat saja di asrama hingga kondisi membaik. Ketika mereka berlalu, aku teringat bahwa bahkan aku belum menanyakan nama mereka. Tapi kesadaran itu muncul, bahwa aku lebih suka mereka menjadi seseorang yang asing selamanya. Sebab dengan begitu perhatian dan kebaikan mereka akan sangat murni. Tidak ada cemaran apapun, murni kebaikan. Dan rasanya sungguh nikmat menerima kebaikan dari manusia lain.
Bukan berarti aku meragukan kebaikan dari seseorang yang kukenal. Hanya saja, bagaimana bila seseorang berbuat baik hanya untuk sekedar basa basi? Untuk alasan kesopanan? Untuk kewajaran karena sudah saling mengenal?
Kamu bilang aku terlalu hidup di duniaku sendiri. Mereka bilang aku terlalu banyak berpikir. Yah, salahkan otakku yang hiperaktif ini, yang terlalu banyak memikirkan hal-hal remeh.
Singkatnya, hal yang sama juga kurasakan saat aku mengucapkan kata ‘monggo’ pada penduduk Bojonegoro yang kebetulan berpapasan denganku. Aku suka melihat perubahan raut wajah mereka. Kerutan-kerutan di sekeliling mata sebab melihat orang-orang asing, secara spontan berubah menjadi lebih santai. Cahaya menyeruak dari bola-bola mata yang hitam itu, di tambah dengan senyuman yang dapat mengisi cangkirku yang kering habis.
Bukannya mau membanding-bandingkan, tapi jarang lo menemui keramahan-keramahan seperti itu di tempat lain.
***
Aku bilang padamu kalau suatu saat nanti aku akan melatih sayap-sayapku yang rapuh ini. Aku akan pergi ke berbagai tempat baru untuk merasakan nuansa-nuansa baru, belajar budaya-budaya baru, dan bertemu orang-orang baru. Kamu boleh ikut, tapi jangan membebani sayapku. Aku tidak suka dibebani.
Saat itu kamu bilang lagi, aku terlalu banyak bermimpi. Kamu menyuruhku mencerabut kedua bola mataku lalu mulai melihat segala yang ada dengan apa adanya. Itu penghinaan besar. Sepasang bola mata inilah yang paling ku banggakan di antara anggota tubuhku lainnya, bukan karena rupanya. Tapi karena caranya memandang sesuatu.
Oh ya, sebelum aku lupa lagi, tentang kediamanku itu… Sebenarnya aku sedang takut. Aku takut melupakan kesan-kesan yang ku dapat di sini. Aku tahu aku akan merindukan rupa pohon-pohon di sini, hamparan padinya yang luas, orang-orangnya yang ramah… Aku akan merindukan hawa panasnya Bojonegoro, yang membuatku mandi hingga 3 kali sehari. Aku akan merindukan duduk-duduk di teras bersama teman-teman juga Pak Imam, sembari minum kopi dan berbincang. Aku akan merindukan warna tanah di sini, desa-desanya yang tenang… Oh…banyak sekali.
Itu membuatku seperti spons yang ingin menyerap air di sekitarnya, aku ingin menikmati segala yang kulihat, kudengar, dan kurasa di sini. Aku ingin merekam dengan sebaik-baiknya, sebab suatu saat aku akan pergi. Entah apa aku bisa kembali lagi. Masih ada 50 kota lagi yang menjadi tujuan singgahku. Kan sudah kubilang, aku bukan orang yang terikat.
Jelas kan? Aku diam karena sedang merekam sesuatu yang cantik.
Mereka bilang aku ini orangnya tidak punya hati. Astaga, padahal aku adalah orang yang paling melankolis di antara mereka semua.
Jelas sudah bahwa aku harus berhenti mendengarkan ocehan orang lain.
***

(Pernah dimuat di Radar Bojonegoro pada 2015)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *