01/22/2021

AISYKRIM.COM

Nomor Satu Seangkasa Raya

Gurita Bercerita tentang Sublimasi dan Adopsi Inovasi

Image via National Geographic 

  Halo, ini Aisy. 
          Judul KIPA (Karya Ilmiah Penugasan Akhir) untuk mencapai gelar Sarjana Sains Terapan-ku adalah “Persepsi Peternak Sapi Potong Sentra Peternakan Rakyat (SPR) Andini Mulyo terhadap Strategi Bank Pakan Fermentasi Pakan Lengkap di Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri”
           Judul itu tidak penting, tanpa proses dan serangkaian alasan aku memilih judul itu. Aku keingat kelas Rockstar Mentors di Surabaya, Kak Sarah dan Kak Gadis menjelaskan tentang proses kreatif menemukan ide yang disebut sublimasi. Sublimasi itu singkatnya adalah proses integrasi, kolaborasi berbagai pengalaman, ide, perasaan yang tersimpan dalam kepala manusia sehingga muncul sebuah ide solid yang khas dan mencirikan semua pengalaman, ide, dan perasaan itu. Nantinya, dari konsep sublimasi inilah, kita manusia dapat menyimpulkan bahwa tidak ada hal yang tidak signifikan. Semua hal yang kita alami dan pikirkan bisa ada gunanya, kalau memang tahu bagaimana cara menggunakannya.
        Sublimasi ini proses penemuan ideku. Pengalaman yang signifikan dengan ide itu adalah saat aku PKL II di Bojonegoro. Saat itu aku mesti praktik penyuluhan. Materi yang pengen kusuluhkan adalah pembuatan pakan fermentasi alias silase. Tapi, saat itu peternak yang hendak aku suluh ternyata tidak punya mesin pencacah dan wadah fermentasi. Karena bapaknya ngotot, saking pengennya tahu silase biar bisa ngasih pakan bernutrisi ke sapinya, akhirnya saat itu kami bikin silase jerami padi tanpa pencacahan. Terus wadah fermentasinya pakai boks kayu yang notabenenya nggak rapat, aku gak yakin wadah itu dapat mengkondisikan fermentasi secara anaerob.
         Di momen itu, aku trenyuh. Kayak…segitunya ya peternak pengen nerapin teknologi. Tapi sayang gak punya sarana dan prasarananya.
          Saat PKL III di Kecamatan Papar, aku bertemu dengan peternak-peternak di SPR Andini Mulyo. Mereka punya kandang koloni kelompok, mesin pencacah, lahan dan unit pengolahan bokashi bersama. Saat itu aku takjub, jarang-jarang menemukan peternak yang sudah berkonsolidasi. Tapi sayangnya mereka belum menerapkan teknologi pakan juga, padahal mereka punya sarananya. Dan mereka udah tahu.
         Saat aku evaluasi dengan metode kualitatif, beberapa pengurus kelompok bilang kalau peternak itu ‘malas’ menerapkan teknologi.
          “Kata mereka, ‘ngapain jerami dibikin silase susah-susah, saya kasihkan langsung sudah dimakan kok'”
          Kata ‘malas’ itu gak disebutkan sama stakeholder aja, tetapi juga dosenku. Dosen haha. Aduh. Aku pikir, konotasi ‘malas’ itu negatif banget. Apa iya peternak gak mau nerapinnya gara-gara sesimpel ‘malas’?
          Pada dasarnya, aku sangat tertarik dengan social change. Di penyuluhan, aku tertarik dengan proses adopsi inovasi. Pasalnya, banyak banget teknologi peternakan di dunia ini, tapi langka sekali penerapannya di peternakan rakyat Indonesia. Itu tuh kayak kita semua tahu buang sampah bagusnya dipilah-pilah berdasar sumber bahannya, tapi kenapa sampai sekarang belum diterapkan? Padahal kan dampaknya baik?
          Akhirnya, aku membaca beberapa buku, salah satunya berjudul Seeds of Transition, yang merupakan kumpulan esai mengenai pertanian ditinjau dari social science-nya. Buku itu menohok-nohok diriku, sebab it tells an ugly truth about agriculture in general. Aku menemukan yang namanya gap between theory and practice. Jadi tuh sebenarnya antara 3 komponen di dunia pertanian yakni petani/peternak, penyuluh pertanian/peternakan dan ilmuwan ini ada gap yang diakibatkan perbedaan perspektif. Bisa dibilang adalah cognitive bias.
          Ketika ilmuwan menggadang sebuah teknologi, dia melakukannya pada laboratorium yang seringkali kondisinya beda jauh sama usaha ternak rakyat. Terus yang dikaji seringnya adalah masalah teknis, alias berpengaruh bagus apa nggak. Gitu aja. Peneliti jarang meneliti aspek ekonomi atau sosial dari teknologi itu. Contohnya silase, aku mencoba mencari perhitungan ekonomis/tidaknya silase untuk diterapkan di usaha peternakan rakyat. Dan hasilnya nihil. Analisis ekonomi biasa aja nggak ada.
          Jadi jangan heran kalau banyak teknologi yang belum diterapkan sama peternak. Ada gap/bias yang membuat kebutuhan peternak nggak tercover oleh peneliti. Dan disitulah fungsi penyuluh, yakni menjembatani gap tersebut. Aku menemukan jurnal, yang nggak ada hitungannya tapi cukup untuk mendukung pernyataanku bahwa teknologi silase gak cocok diterapkan pada usaha ternak subsisten (ya, yang seringkali dilupa adalah peternak rakyat memelihara ternak dalam skala kecil, peruntukannya seringkali buat tabungan).
          Jalan keluar dari masalah silase ini ada 2, yakni teknologi silase yang gak perlu mesin pencahah dan wadah fermentasi, atau strategi pembuatan silase berkelompok. Aku berusaha mencari teknologi silase yang gak pakai mesin pencacah dan wadah fermentasi, alias fermentasi secara aerob atau anaerob fakultatif. Ternyata gak ada teknologi yang kayak gitu. Aku mencoba mempraktikkan langsung membuat silase jerami padi secara aerob, dan hasilnya gagal.
           Tersisa 1 jalan keluar, yakni membentuk unit pembuatan pakan berkelompok atau istilahnya Bank Pakan. Dan begitulah aku menemukan topik KIPA-ku.
Kedengarannya simpel dan singkat. Tapi nyatanya aku menemukan topik ini setelah pencarian selama 2,5 bulan. Padahal sebenarnya ide Bank Pakan itu sudah terbisik di telingaku, dibisiki suara-suara dari lubuk toilet. Suara-suara yang bukan hanya tentang ide tapi menyangkut kasihku kepada ibu bapak peternak di Kecamatan Papar. Namun suara itu sempat ku lupa, bahkan mungkin ku sangkal. Seperti jodoh, sekalipun aku telah berbelok ke lubang buaya, tetap saja aku berpulang pada Bank Pakan.
          Yang ku pelajari dari pencarian topik KIPA ini adalah aku butuh empati secara intelektual dan rasa, sebelum menjadi passionate mengerjakan suatu hal, khususnya tugas akhir ini. Ketertarikan secara intelektual itu gak cukup. Data-data atau pengetahuan tentang rasa itu gak cukup. Aku butuh merasa, dan satu-satunya cara untuk merasa adalah terjun berinteraksi dengan orang-orang yang bakal ‘ku teliti’. Di Papar, aku telah tinggal selama 3 bulan, jangka waktu yang cukup untuk menyatu bersama rasa mereka.
          Itu juga sih yang membuat aku gagal menemukan topik KIPA di lokasi-lokasi yang orangnya nggak aku kenal. Sebejibun apapun data sosial maupun objektif yang aku dapat, selama aku nggak berinteraksi intensif dan terus menerus dengan peternak, aku merasa ada yang kurang, aku merasa tidak yakin sendiri dan selalu bisa mematahkan argumenku sendiri.
          Menurutku, ini adalah sebuah kelemahan sekaligus kekuatan buat orang sepertiku. Aku adalah pribadi yang intens, aku melangkah perlahan tapi sekali aku menjalarkan tangan guritaku pada sebuah topik, aku benar-benar mencengkeram topik itu, mengenali per bagian hanya dengan mengendus.
         Haha.