01/22/2021

AISYKRIM.COM

Nomor Satu Seangkasa Raya

Dunia Tanpa Uang!

Image via Collective Evolution
Kamis lalu, aku meluncur dari Lawang ke Sigura-gura demi ketemu orang-orang yang pengen bikin free market alias pasar gratis di Malang. Free market? Pasar gratis? Apaan tuh?
            Simpelnya, pasar gratis alias free market ini adalah ruang dimana orang bisa mengambil barang apapun yang mereka butuhkan tanpa membayar. Sementara, orang lain yang kebanyakan barang bisa memberikan barang tersebut agar bermanfaat buat orang lain.
            Kenapa aku passionate banget dengan konsep pasar gratis? Sebab, sistem kehidupan manusia saat ini sedang kacau. Industri memproduksi barang hingga surplus, sedangkan di saat yang sama ada lapisan masyarakat yang tidak dapat memiliki barang-barang itu semata karena tidak punya uang. Barang-barang yang aku maksud adalah semua barang, khususnya kebutuhan pokok seperti pangan, sandang, dan papan. Menyedihkan sih ketika beberapa orang bisa sekali pakai baju simpan di lemari, semata buat foto instagram. Sementara ada tunawisma yang kedinginan atau siswa yang tidak mampu beli seragam. Ada orang yang beli makanan seporsi senilai ratusan ribu, sedangkan di sisi lain ada orang yang tidak sanggup makan layak 3 kali sehari.
            Kamu tahu arah pembicaraanku. Menurutku, menurut mereka dan nantinya menurutmu juga : kapitalisme adalah penyebab masalah. Sebab kapitalisme menilai segalanya lewat uang. Kapitalisme menumpuk uang. Oligarki. Ia melejitkan nilai uang menjadi semu. Sekarang kapitalisme memberlakukan seolah semua hal dapat dimiliki dengan uang. Sehingga saat ini perusahaan mengeruk sumberdaya alam. Jangan-jangan nanti hutan dan sawah habis. Lalu, ketika sawah habis dan petani mogok menanam padi, bisakah kita memakan uang?
***
            Sebagai bagian dari lapisan masyarakat menengah ke bawah, secara makro kita tampak kecil. Aku kecil, tampaknya tak berarti. Namun, aku tahu, tahu dan masih tahu bahwa perbuatan kecil bisa menimbulkan dampak kecil berantai yang kemudian nanti bisa jadi besar.
            Apa yang bisa aku lakukan untuk melawan kapitalisme? Kapitalisme membuat kita bersaing. Kapitalisme mengeksploitasi alam dan memeras kaum pekerja. Kapitalisme dalam industri fashion-nya membuat kita tergerak untuk selalu membeli pakaian model terbaru, kalau bisa yang bermerk katanya supaya nilai diri kita bisa terdongkrak! Kapitalisme menjadikan makanan yang merupakan hak seluruh umat manusia menjadi komoditas yang  tidak tergapai oleh si miskin. Kapitalisme membuat kita kesepian sebab kita bekerja 8 jam dalam mayoritas hari di kehidupan kita, katanya supaya kita bisa mencicil rumah yang cicilannya sampai 30 tahun. Katanya supaya kita bisa mencicil hp terbaru, sepeda motor ngehe dan jam tangan merk ternama yang sebenarnya tidak kita perlukan.
Untuk melawan kapitalisme, manusia bisa belajar untuk hidup bergotongroyong (tidak hanya saat membersihkan lingkungan RT/RW tetapi seluruh aspek kehidupan) dan mengonsumsi apa yang dibutuhkannya saja (sebab manusia sebenarnya tidak butuh 100 setel baju dan juga tidak bisa makan uang).
Solidaritas dan no-konsumerisme itulah yang terangkum dalam Pasar Gratis.
Tiap-tiap dari kita pasti punya barang layak yang sudah tidak terpakai atau tidak akan terpakai. Entah itu makanan, pakaian, atau barang-barang lainnya. Akan lebih bermanfaat Sari Roti itu jika dilahap oleh kawan-kawan sesama manusiamu, dibanding jika mengendap di lemari dan jadi kadaluarsa. Begitu pula dengan sepatumu yang sudah kekecilan, atau gitar yang kamu beli dengan iseng yang kemudian ternyata kamu tidak minat menggunakannya…
Yah, kenapa nggak dijual di Tokopedia aja sih?
Yaaa kamu ini gimana sih? Kita kan sedang menghindari uang? Ya memang sekarang kelihatannya rugi banget ngasih gitar secara gratis ke orang lain. Tetapi bayangin deh kalau konsep ini diterapkan secara menyeluruh. Bro, sist, bayangin. Nanti kamu gak perlu capek-capek menjual waktu dan tenagamu demi beli sebungkus nasi. Karena nantinya kamu akan dipelihara oleh masyarakat. Dan kamu akan memelihara orang-orang di sekitarmu juga. Sharing society. Nanti, nanti…di masyarakat yang seperti itu kamu bisa mengerjakan hal yang kamu sukai. Karena yang kamu kejar bukan lagi uang. Tetapi kebermanfaatan. Kamu tetap bisa makan, terlepas jenis pekerjaan yang kamu geluti. Tidak seperti sekarang ketika ada jenis pekerjaan yang dianggap remeh, sehingga bayarannya dikit, sehingga yang menggeluti kurang makmur. Di sharing society, semua pekerjaan sama-sama bermanfaat buat masyarakat.
Hahaha.
Eits, tidak hanya barang. Di pasar gratis ada juga jasa gratis, lho. Entah itu potong rambut, mentato, cek kesehatan, tarot reading, dan berbagai jasa lainnya!
***
Di Sigura-gura, tepatnya di Kedai Kopi Omah Kayu itu, aku dan orang-orang itu sempat ngobrol-ngobrol. Salah satu yang diobrolkan adalah soal keberlanjutan Pasar Gratis. Yang namanya event, seringkali tumbuh tenggelam seiring dengan berjalannya waktu. Seringnya karena yang menggerakkan event itu pindah tempat tinggal atau ada kesibukan lain. Itulah lemahnya event. Kemudian terlintas di otakku. Kenapa kita gak bikin aplikasi aja buat mendisplay barang-barang yang tersedia secara gratis? Dengan begitu akan ada perpindahan barang secara terus menerus, tanpa terhalangi oleh isu regenerasi sosok penggerak komunitas tadi.
Tapi yah, yang namanya ide, butuh dipoles. Butuh dana. Butuh orang buat merancang aplikasi. Butuh konsep, butuh sistem. Nanti gimana cara ngasih barangnya? Nanti gimana mengedukasi penggunanya supaya mengambil barang yang beneran dibutuhkan aja? Gimana kalo gak ada yang pakai?
Wah, persetan dengan pertanyaan gimana-gimana yang menjatuhkan itu. Aslinya aku pengen banget mengembangkan aplikasi itu. Sayangnya saat ini aku belum ketemu sama orang yang mau ku ajak bertumpah darah mewujudkan project aplikasi pasar gratis ini. Kalau soal konsep mah bisa diatur nanti, bisa belajar sembari jalan. Asal ada temen yang mau, gitu.

Kamu mau?