Dear The Universe #1 : I have a dream

I have a dream and I know I want to pursue it. The clock is ticking. Do you think I still have enough time, not to finish, but to start a dream?
This is the third month of my post-graduate era. I have part-time job that I enjoy — mostly because I work only 4 hours a day for spesific. So I have pretty much time to do the things I want to do, such as reading, watching movies, hanging out with friends, helping parents, etc. The ‘serious’ thing that I do currently is building a special project — I and with friends are about building a chicken slaughterhouse in Kupang, Nusa Tenggara Timur. I will be in Kupang, approximately in early December. So my life’s pretty exciting and challenging recently, and it’s going to be more exciting and challenging in just few weeks. Please pray so I will arrive in Kupang, alive and complete.
Thing that haunts my mind the most is time. I’m not sure about how much the time we need to successfully build the chicken-slaughterhouse. I guess it would be a years, while I think I couldn’t be in Kupang for more than a year. I don’t know. It’s not that I don’t want to, it’s that I think I have another dream to pursue. The chicken-slaughterhouse project that later on I would call it just ‘the project’ is not my main interest. I like the project but it’s not the love of my life. To me, the project is about me learning to build a business. If I done learn there, I want to move to my main project — I want to build a community-based business to help farmer increase their income. 
Now you understand that I couldn’t do my main project for now because I don’t have enough capacity to build it. I need to grow the resource to meet the need of my main project : it is the business skills, the relations and a friend. I will learn about business skills in the project, I probably also get to know the relations through the project, and hopefully I will meet someone that have the same dream as mine along the way.
The later resource, a friend, probably the most important resource out of all. I couldn’t walk alone through this journey. I need a hand to hold, a soul to whom I share all the stories. It could be your hand, your soul. Who know?
We will see, where this feet, this beating heart, and wandering mind will take me. Hopefully some places where I could grow, bigger, stronger and kinder.

***

I also wanted to tell you about how I feel. You know, since the 17th November, I feel fucking free. I am free. I am free.

I had real rough time for the past 3 years and it finally ended. Imagine the feeling of finally breathing calmly after drowned in muddy water made of anxiety, resentment and anger. That’s exactly how I feel. I’m no longer tied to someone. I’m no longer limiting my step. I am fucking free.

It’s kinda weird to post something personal in my blog but I guess I don’t want to hide anymore. I don’t want to pretend to care about social judgement anymore. I’ve no time for that shit. This is the time for me to be recognized and make connection. Hopefully this series of journal entry would bring me that.

This is enough for now.

I will see you next time.

Sincerely,
Your favorite INTP.

Apakah Manusia Pantas Menentukan Definisi Sejahtera Untuk Hewan?

            Kesejahteraan hewan sudah lama menjadi perhatian olehku. Apalagi selama 8 tahun aku menekuni pendidikan bidang peternakan yang menuntutku bersinggungan langsung dengan hewan. Kalau bicara soal belajar peternakan, pasti ada praktik yang membutuhkan hewan sebagai objek di dalamnya, seperti mengambil darah ayam, memberi obat atau menyuntik sapi.
Yang namanya belajar, banyak kesalahan itu sudah pasti. Coba bayangkan hewan ternak yang awalnya hidup (lumayan) tentram itu suatu hari dipegangi siswa yang sedang belajar. Ia kemudian diambili darahnya, diobati atau bahkan disuntik vitamin. Teknik siswa-siswi ini belum bener-bener amat sehingga hewan ternak menjadi stress, bahkan mengalami cidera serius sampai berujung kematian.
Penggunaan hewan dalam kegiatan pembelajaran belum diatur dalam perundang-undangan. Yang ada adalah penggunaan hewan sebagai ternak dan sebagai hewan penelitian.
Banyak hal yang membuat perkara kesejahteraan hewan diremehkan, salah satunya adalah pandangan manusia tentang hewan. Manusia menganggap hewan sebagai mahluk inferior dibanding dirinya sebab hewan tidak punya kesadaran seperti manusia.
Inferioritas hewan dibanding manusia dilihat dari beberapa aspek. Yang pertama adalah emosi. Hewan tidak punya emosi bersalah (salah satunya), emosi yang dimiliki hewan adalah emosi terkait bertahan hidup (senang, marah, ketakutan, dll). Kedua, hewan tidak punya kesadaran, alias kemampuan untuk melihat dan mengevaluasi pikirannya sendiri. Hal ini membuat hewan terjebak pada kebiasaan dan perilaku tanpa bisa memproduksi inovasi atau cara berpikir yang baru.
Pun, pemikiran tersebut didukung oleh nilai-nilai agama atau budaya. Dalam beberapa agama, hewan (dan seluruh isi bumi yang lain) diciptakan Tuhan demi keperluan manusia semata. Karenanya eksploitasi hewan dibenarkan dengan kaidah-kaidah yang dianggap mulia tapi sebenarnya bertentangan kesejahteraan hewan.

            Perhatian dunia tertuju pada kesejahteraan hewan sejak kemunculan buku Animal Machines oleh Ruth Harrison pada 1964. Buku tersebut berisi tentang meningkatnya penderitaan hewan ternak sejak dimulainya industrialisasi dan mekanisasi peternakan. Sejak industrialisasi itu, hewan ternak yang notabenenya merupakan mahluk hidup, diperlakukan dengan mesin dan seperti halnya sebuah objek, hewan ternak diproduksi secara massal demi memenuhi kebutuhan pangan manusia.
            Sejak itu di Inggris lahirlah The Five Freedoms yang merupakan prinsip penjaminan kesejahteraan hewan. Bahwasanya hewan itu bisa dikatakan sejahtera apabila ia terbebas dari rasa haus dan lapar, rasa tidak nyaman, rasa tertekan, luka dan penyakit, dan bebas mengekspresikan pola perilaku normalnya.
            Dari sini, asumsi yang dibangun adalah hewan masih bisa dikatakan sejahtera meski ia dikandangkan atau diindustrialisasi asalkan masih menerapkan The Five Freedoms itu.
            Permasalahan muncul ketika ada pihak dari sudut pikir berbeda menyodorkan hasil penelitian bahwa ternyata hewan ternak yang diintensifikasi itu tidak sejahtera. Hewan ternak ternyata masih merasakan sakit dan stress yang luar biasa semasa hidupnya di peternakan. Pihak ini mendukung pembebasan hewan (Animal Liberation) dan menolak sama sekali eksploitasi hewan.
            Dari sini juga dapat diketahui bahwa ternyata, sains dan penelitian tidak pernah benar-benar bersih dari pemikiran subjektif manusia. Hasil penelitian selalu dapat digunakan untuk mendukung sudut pandang pikir tertentu.
            Kita bisa melepaskan diri dari permasalahan definisi kesejahteraan hewan dan beralih pada permasalahan aplikasinya.
Jangan berpikir muluk-muluk tentang diterapkannya The Five Freedoms pada usaha peternakan. Ya, usaha ternak level menengah atau raksasa mungkin bisa berusaha menerapkannya. Tetapi jangan harap itu bisa terjadi pada usaha ternak rakyat. Pada sapi potong misalnya, yang diberi pakan, kandang dan perawatan seadanya oleh peternak yang juga bergelut dengan masalah perut. Banyak kawanku yang bilang, “Peternaknya saja belum sejahtera, mana bisa menyejahterakan ternaknya?”
            Pada akhirnya permasalahan kesejahteraan hewan akan kembali pada bagaimana definisi kesejahteraan hewan itu. Permasalahan pada definisi kesejahteraan hewan adalah pada subjek yang menentukan definisi itu : manusia. Definisi kesejahteraan hewan pada akhirnya selalu terhimpit dengan kebutuhan manusia untuk mengonsumsi daging, telur, dan susu. Apakah kita mesti berhenti memelihara hewan ternak secara intensif dan mengonsumsi hewan pada saat tertentu (hewan usia tua, atau afkir), itu menjadi pertanyaan sekaligus bayangan yang utopis.
            Pasalnya roda agrikultur yang mengubah kehidupan manusia – yang dahulu berburu dan nomaden dan kini bertani-ternak serta menetap – sudah tidak diputar balik. Agrikultur sudah membuat populasi umat manusia meledak dan menguasai bumi. Manusia sudah berada pada puncak rantai makanan yang mengancam spesies-spesies lainnya. Agrikultur membawa banyak harapan, sekaligus sejuta masalah pelik. Kita membutuhkan sistem kehidupan baru yang lebih sustainable dan ramah daripada agrikultur saat ini. Karena, manusia sudah tidak bisa kembali pada kehidupan berburu dan nomaden. Sekali roda agrikultur berputar, tidak ada jalan kembali.