Sistem Pendidikan Telah Gagal dengan Kita

Murid-murid di ruang kelas di Queensland, Australia, pada 1929. Sumber gambar dari sini. Lalu diedit di Canva!
Pendidikan memang penting. Tetapi selama ini, sistem pendidikan telah gagal dengan kita semua. Sistem pendidikan telah membuat kita mati rasa.
Setiap hari kita duduk dan mempelajari hal-hal, menulis, menghapal, tanpa tahu kenapa dan bagaimana penerapannya. Kita sibuk belajar tentang benua-benua sampai Eropa, menghapal negara mana yang menghasilkan kopi terbanyak. Tapi kebanyakan kita tidak paham darimana makanan yang tersaji di piring tiap pagi itu berasal, atau tangan siapa saja yang mengantarnya sampai kesana. Pikiran kita dibawa lari keliling dunia, tapi sayangnya kita lupa diajari bagaimana tidak sekedar bertahan hidup – tapi hidup di negeri sendiri, di desa sendiri, dengan sumberdaya dan kita sendiri di dalamnya? Jangan-jangan kita lulus menjadi buruh berseragam rapi di mall atau tempat wisata milik investor, sementara tiap hari kota kita digaruk-garuk mesin raksasa, hutan-hutan kita ditelanjangi dan sumber-sumber air kita dikencingi.
Setiap hari kita duduk berjajar, berbaris, kebanyakan disuruh mendengarkan. Syukur-syukur gurunya interaktif dan kita diajak diskusi. Tapi kebanyakan kita cuma mendengarkan. Kita diajari untuk diam, untuk patuh, sampai kadang kita lupa diajari untuk bereksplorasi, untuk berani. Sebenarnya, kita boleh bertanya atau berpendapat. Asalkan bukan pendapat yang bertentangan dengan pendapat umum, asalkan bukan pertanyaan atau pendapat yang membuat kita nampak bodoh, asal jangan pertanyaan atau pendapat yang membuat guru juga terlihat bodoh. Jika tidak, siap-siap saja mendapat hukuman sosial, diejek, atau bahkan dipanggil ke ruang guru untuk mendapat wejangan spesial. Di sekolah, akhirnya kita belajar bahwa taktik bertahan hidup terbaik adalah dengan tutup mulut. Akhirnya sampai kita lulus, kita malu mengungkapkan pendapat di hadapan publik, meski kita tahu betul apa yang kita katakan itu benar. Akhirnya sampai kita lulus, kita masih bicara di depan publik dengan terbata-bata. Akhirnya, kita juga belajar untuk menghukum orang lain yang salah saat belajar. Kita ikut-ikutan jadi bagian lingkaran setan.
Mungkin kamu bertanya-tanya, darimana datangnya itu semua rumus matematika, fisika atau kimia? Tapi kemudian kamu ditegur, katanya, “Itu tidak penting, yang penting adalah kamu hapal dan tahu cara mengerjakannya!” Lalu kamu kecewa. Padahal kamu sedang berusaha mencintai matematika, fisika atau kimia. Bagaimana belajar jika tidak mencintai? Bagaimana bisa mencintai simbol-simbol dan angka-angka, jika tidak mengetahui cerita hidup mereka? Padahal tanpa cerita, tidak mungkin bisa berempati, tidak mungkin bisa menciptakan koneksi.
Lalu, ada satu bencana besar : UJIAN. Ujian, yang nanti melahirkan nilai yang nanti membuatmu ditaruh dalam kotak berlabel “Aku bodoh”, “Aku pas-pasan” atau “Aku pintar”. Ujian, yang mengukur seberapa bagus ingatanmu tentang apa-apa yang dianggap benar. Ujian, yang tiba-tiba menjadi penentu hidup dan mati, sehingga kamu rela mengintip jawaban di kertas teman atau sobekan yang kamu simpan. Toh, pertanyaan yang mereka tanyakan bisa dijawab google. Perihal orang-orang di google menyebar berita betulan atau hoax tentang vaksin, itu jadi perkara lain. Apa sih barang yang disebut dengan critical atau contextual thinking?
Sistem pendidikan telah benar-benar membuat mati rasa. Mereka kebanyakan tidak peduli apabila kita suka belajar langsung dengan menggunakan tangan. Mereka kebanyakan tidak bisa membuat kita menemukan cara yang kita sukai untuk belajar. Mereka kebanyakan membuat kita melalui proses yang ada tanpa boleh ba-bi-bu. Lalu setelah sekian tahun, kebanyakan kita tidak tahu apa yang kita inginkan, kita tidak tahu kemampuan apa yang kita miliki. Kita tidak pernah merasakan energi menggebu-gebu, energi warna-warni konstruktif untuk terus belajar dan berkarya. Jangan tanyakan kemana lagi Mimpi. Katanya, mimpi hanya untuk anak-anak. Mimpi bukan milik orang dewasa. Mereka akan berkata, jangan bicara tentang belajar dengan rasa. Karena orang dewasa belajar hanya untuk bekerja.
Education system may have failed you, but please don’t you failed yourself!
***
            Lalu lulus mau daftar beasiswa biar tambah pinter, eh ternyata syarat penerimanya adalah harus yang sudah pinter. Kenapa yang pinter? Karena yang pinter dianggap selama ini sudah niat belajar. Wah, lalu gimana dengan yang niat belajar tapi nilainya masih pas-pasan? Begitulah, pendidikan bukan lagi hak asasi manusia, tapi komoditas.
***
            Aku sudah usai mencecap sistem pendidikan. Tapi aku masih sedih, aku masih marah. Marah, soalnya aku melihat banyak mimpi-mimpi yang mati. Sebab seharusnya belajar itu menyembuhkan, membuat manusia merasa, bukan malah merampas rasa.
For further understanding, feel free to read my journal entry from July, 17 2017 :
            I feel the urge to cry a lot lately.
I guess I looked like someone who’s trustworthy and non-judgemental. People who I know only about their name and not personality often tell me their personal stories and even secret. I never ask in the first place, they just suddenly tell. And so there I end up listening and giving the feedback that I wish could make them feel better. Lately people tell stories about education.
            “I often asked myself a question, what I get from learning at this institution for 2 years? You know, the answer is I don’t know. And the reality kicks deep. I still don’t know what my passion is. I don’t even know the subject I am good at. I am terrified of what future might bring, about what I would be, as the people in my village have high expectation of me – the only college graduate in the family”
            I told her, “I think you are quite good with your hands. You know, motoric skills. You are quick at mastering equipment. I think you actually enjoy that kind of activity. And…actually it’s our education system that makes people like you believing themselves as a nobody. You think you don’t have skills when actually you have, it’s just they never give you the chance or guidance to develop yourself. Some skills aren’t appreciated here. If you ask me, is the education system here the one to blame? Yes. But I wish you don’t play victim and start to fuck the system and fight for yourself.
The other tells, “I want to work in film industry someday. A screenwriter or director, I guess. I know I have no educational background related to that area. But I want to try. To me, working in the lowest position in the film industry is okay as a start point… Being an assistant is okay, too, it doesn’t matter. I need just to be there, in that world”
            “Why don’t you start by little step everyday? Your writing is good and you have that kind of humor people like a lot”
            Sometimes I wonder, did my words have impact? I see them live their life after that, sometimes I see them burning in positive energy but mostly I see them withered like flower petal on the fall. I think that my words didn’t enough. They are lost already, believing themselves nothing. How can I help? I can’t just sit still here when your stories makes me weep.

Apakah Kuliah Penting?

Kapan lagi bisa mengalami ke kandang sapi dini hari untuk menimbang feses sapi?
            Agustus kemarin, perkuliahan resmi tuntas. Tamat. Hari Minggu kami mengenakan topi wisuda. Hari Senin, kami mulai gelagapan mencari kerja. Saat itu pula, aku teringat perdebatan aku dan kawan-kawanku di tahun 2017. Tidak dipungkiri Deddy Corbuzier memiliki peranan penting tentang topik yang kami bahas. Ya, gara-gara video ngaconya di Youtube yang berjudul “Apakah Kuliah Penting?”
            Kebanyakan teman-temanku saat itu berada di pihak si Deddy. Terlepas betapa banyak kecacatan logika yang Deddy pakai buat berargumen.
Kata mereka, di kuliah mereka kebanyakan belajar teori yang penerapannya beda di lapangan. Duh, kawan, sepertinya definisi teoriku denganmu berbeda. Bukankah teori itu seperti ekstrak dari praktik di dunia nyata?
Kata mereka, mereka merasa tidak bertambah pintar juga ketika kuliah. Ya, kamu di kuliah emangnya ngapain aja? Kalau seharian main remi yaaa wajar hehehe.
Kata mereka, orang kuliah belum tentu sukses, belum tentu dapat kerja. Here’s the thing…
Menurutku, dari awal pertanyaan “Apakah Kuliah Penting?” itu sudah salah. Kenapa? Karena pertanyaan itu berasumsi bahwa kuliah itu pilihan. Seolah jika jawabannya adalah “kuliah tidak penting”, maka orang-orang bisa memutuskan untuk tidak kuliah karena ternyata tidak penting.
Masalahnya adalah bagi banyak orang (menengah ke bawah), kuliah itu bukan pilihan. Bagi kita kelas menengah ke bawah, bisa kuliah itu anugerah, sesuatu yang mesti disyukuri. Kita, masyarakat menengah ke bawah, tidak punya bermiliar uang untuk berwirausaha, tidak punya relasi yang bisa mengangkat kita ke posisi yang lebih tinggi. Yang bisa kita lakukan adalah berjuang meningkatkan taraf hidup kita dengan cara yang ada, salah satunya adalah kuliah. Jadi saat itu ketika kesempatan untuk kuliah gratis datang ke depan mata kita, kita tidak kuasa untuk menolaknya, meski tidak ada jaminan dapat kerja, meski tidak ada jaminan setelah kuliah kita bakal tambah berguna. Kenapa? Karena kita tahu kuliah adalah salah satu tangga untuk mencapai langit yang lebih tinggi. Karena kita tahu kesempatan seperti itu tidak datang 2 kali. Karena kita tahu kuliah tidak pernah menjadi pilihan yang murah buat kita.  
Dengan kuliah, kita menambah pintu-pintu ke tempat yang kita bisa kunjungi. Kita bertemu dengan orang-orang yang berpotensi menjadi relasi berpikir, berkawan, berwiraswasta bahkan bercinta.
Ingat juga kalau ada beberapa profesi yang mengharuskan orang-orangnya untuk memiliki gelar tertentu. Misalnya kalau mau jadi dokter, otomatis kamu mesti kuliah.
“Tapi aku sebenarnya pengen wiraswasta aja, jadi gak perlu kuliah dong?”
Hmm. Sebentar.
Aku ingat, ada yang menyebutkan Bob Sadino sebagai contoh orang tidak kuliah yang sukses. Menurutku, ini lucu. Kenapa? Bob Sadino punya privilese – sebuah kelebihan yang dia miliki sejak dia lahir. Aku tidak bisa menyebut secara rinci cerita hidupnya ya, tapi Bob Sadino kala itu punya uang warisan yang dia buat jalan-jalan ke Eropa buat mencari relasi dan belajar. Hingga akhirnya dia bisa buka usaha sendiri dan memanfaatkan relasi serta pengetahuan yang dia dapat itu. Tidak bisa dipungkiri deh, uang warisan itu memang berperan penting sebagai modal belajarnya dia.
Dan sebenarnya, dari situ, kita bisa menyimpulkan bahwa esensi untuk meningkatkan taraf kehidupan adalah dengan belajar. Belajar, belajar, belajar. Kita bisa saja ingin menjadi wiraswasta lalu memutuskan tidak kuliah, silahkan saja. Tapi, jangan lupa untuk belajar. Bukan belajar dengan hanya membaca buku saja, tetapi mengasah segala potensi yang ada dalam diri sehingga kamu bisa berfungsi dengan baik.
Dan, sebenarnya, kuliah itu menguntungkan lho buat orang-orang yang kurang bisa memanajemen dirinya buat belajar. Hayo, sudah yakin bisa berkembang tanpa kurikulum, tanpa dimanage sistem?

Kok ngalor ngidul, sih, jadi kesimpulannya gimana? Apakah kuliah itu penting?

Bukan perkara penting tidaknya. Hanya tinggal bagaimana kita menjalani apa yang ada dengan sebaik-baiknya. Jadi saat sudah tamat kuliah, kita bisa menoleh ke belakang dan bersyukur, karena kita telah melakukan yang terbaik dan menjadikan kuliah sebagai proses yang berarti dalam hidup kita.

Dari Okonomiyaki Hingga Cerita Penyuluhan di Afrika

     Ia pada masa remaja sempat berkeinginan untuk sekolah pertanian, namun keterbatasan ekonomi membuatnya harus mengurungkan keinginan. Akhirnya, pria kelahiran Situbondo itu belajar pertanian secara otodidak kepada penyuluh-penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian. Indonesia saat itu tidak seperti kini, yang dikabarkan krisis taruna tani. Taruna tani pada saat itu mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Yudi Kurniawan, pria yang terpilih sebagai Pemuda Pelopor 1990 itu bercerita bahwa beasiswa magang yang ia dapatkan di Jepang juga bermula dari taruna tani.
Banyak yang beliau pelajari selama magang di Jepang. Fase-fase itu merupakan salah satu fase penting bagi karakternya di masa mendatang. Di Jepang banyak yang ia pelajari, yakni mengenai cinta, ketelatenan dan semangat hidup. Juga, ketika di Jepang ia berhasil mendaki Gunung Fuji – sebuah cita-cita yang diidam-idamkannya sejak kecil.
Sepulang dari Jepang, beliau sempat bertani padi dan semangka di Situbondo. Setelahnya, Pak Yudi bekerjasama dengan perusahaan asal Jepang untuk membudidayakan Ashitaba di lereng Gunung Welirang, Mojokerto. Ashitaba merupakan obat diabetes, darah tinggi hingga kanker. Pemilihan lokasi  didasari oleh kondisi lingkungan lereng Gunung Welirang yang belum terkontaminasi zat kimia.
Produksi Ashitaba di Desa Trawas itu berhasil meningkatkan ekonomi warga, yang sebelumnya bercocok tanam jagung. Pasalnya, komoditas Ashitaba ini sangat menguntungkan. Daun Ashitaba bernilai Rp.1500,00/kg, akarnya bernilai Rp.1000,00/kg dan getahnya Rp.500.000,00/kg.


Cerita Penyuluhan dari Fiji dan Gambia
            Pada 2002, sejumlah negara yang memiliki hubungan bilateral dengan Indonesia meminta agar Indonesia mengirim penyuluh-penyuluh ahlinya ke negara mereka. Alasannya adalah pembangunan sektor pertanian di Indonesia dianggap lebih berhasil. Salah satu negara yang mengharapkan bantuan itu adalah Fiji, sebuah Republik Kepulauan di selatan Samudra Pasifik.
            Tiga ketiga tenaga ahli pertanian yang dikirim ke Fiji pada 2005, Pak Yudi menjadi salah satu diantaranya. Pak Yudi, Ketua Kontak Tani VII itu tidak pernah menduga akan mendapat tugas kehormatan tersebut. Kala dirinya menjejakkan kaki di Fiji, tanah asing yang kondisi pertaniannya masih jauh tertinggal, tekadnya untuk memperbaiki sektor pertanian Fiji pun semakin kuat.
            Di Fiji, melalui ilmu dan cintanya, Pak Yudi berhasil membantu meningkatkan hasil cocok tanam sayuran. Awalnya produksi sayur yang saat itu adalah 2 ton/tahun akhirnya meningkat menjadi 6 ton/tahun.
            Usai dari Fiji, pada 2011, Pak Yudi kembali mendapat tugas dari Kementerian Pertanian untuk melakukan penyuluhan terkait program “A Model of Integrated Farming System on Garden Intensification) di Gambia. Gambia adalah negara bekas jajahan Inggris di Afrika Barat. Tim yang bertugas di Gambia saat itu adalah Pak Yudi, Bambang Edy Santoso dari BBPP (Balai Besar Pelatihan Peternakan) Batu, dan Abas Saripudin dari BP4K (Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan) Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Ketiganya berada di Gambia pada 10 September hingga 23 November 2011. Di Gambia, mereka memberikan pelatihan tentang teknologi tepat guna untuk pertanian, pengembangan hasil pertanian berupa padi, sayuran organik, dan tanaman lainnya, serta pelatihan tentang pengairan dan pemberantasan hama. Namun berbeda dengan di Fiji yang berfokus pada sayuran, di Gambia fokus penyuluhan adalah komoditas padi.
Di Gambia, Pak Yudi berhasil mengubah perilaku petani hingga mereka akhirnya menanam padi dengan jajar legowo. Tidak hanya padi, ia berusaha membagi ilmu sebanyak mungkin mengenai tanaman-tanaman lain. Kondisi tanah di Jenoi, Gambia saat itu cukup mengkhawatirkan. Tanahnya minim unsur hara. Pak Yudi pun berusaha ‘mengobati’ tanah itu dengan menimbun pupuk kandang di kedalaman tanah. Alhasil, ia dan warga berhasil menanam sawi dan semangka.
 Pak Yudi juga mengenalkan teknologi pengolahan di Gambia, seperti keripik pisang dan singkong. Selain itu ia berusaha mematahkan miskonsepsi masyarakat Gambia mengenai daun pepaya. Daun papaya di Gambia saat itu tidak dikonsumsi, malahan daun itu dianggap beracun akibat rasanya yang pahit. Padahal daun pepaya berkhasiat memperlancar ASI dan menyembuhkan malaria – sebuah penyakit yang kerap melanda Gambia. Pak Yudi menjadikan dirinya ‘bahan pertunjukan’, ia mengonsumsi daun pepaya yang dimasaknya sendiri. Ketika masyarakat Gambia melihat esok hari dia masih sehat walafiat, mereka pun percaya.
Melalui teknologi-teknologi aplikatif dan sikapnya, masyarakat Gambia pun jatuh hati pada Pak Yudi. Sama seperti di Fiji, Pak Yudi sampai dianggap sebagai saudara, bagian penting dari Gambia. Saat Pak Yudi mesti pulang ke tanah air, orang-orang mengiringi perjalanan Pak Yudi dengan air mata.
Tidak hanya cinta masyarakat yang didapat oleh Tim Indonesia. Direktur Kemeterian Pertanian Gambia, Falalo Touray, menyatakan pelatihan yang dilakukan oleh Tim Indonesia adalah yang paling baik dibanding dengan tim-tim negara lain yang juga melaksanakan pelatihan di Gambia. Teknologi yang direkomendasikan Indonesia cenderung efektif dan murah, serta mudah diakses masyarakat Gambia. Contohnya, untuk melindungi semangka, Pak Yudi menggunakan kelambu kamar tidur bekas yang sering ditemui di rumah-rumah Gambia. Juga solusi pupuk kandang yang diberikan pada tanah Gambia. Sementara negara-negara lain cenderung mengandalkan pupuk kimia dan alat mesin.
Ketika ditanyai mengenai kunci kesuksesannya, Pak Yudi mengungkapkan, “Apabila berada di suatu tempat, fokuslah pada permasalahan di lokasi itu. Menjadilah satu dengan masyarakat. Lalu kekuatan-NYA akan ikut bekerja disana”
Dia juga menyatakan pentingnya fokus dan daya tahan terhadap kesulitan. Pak Yudi pun menceritakan proses populernya Pocari Sweat, produk minuman asal Jepang yang kini mendunia. Semuanya diawali oleh passion, fokus, pemecahan masalah dan kepercayaan akan kekuatan yang lebih besar a.k.a The Greater Power.


Oki-Okonomiyaki dan Visi Pertanian di Masa Depan
              Selain kiprahnya di budidaya serta penyuluhan pertanian, Pak Yudi juga melebarkan sayapnya pada bisnis kuliner yang disebut Oki-i Okonomiyaki, sebuah kedai makanan Jepang. Kedai itu berlokasi di Jl. Soekarno Hatta. Di kedai itu dijual okonomiyaki, ramen, dan makanan Jepang lain. Okonomiyaki, menu andalan kedai itu adalah makanan Jepang berbahan adonan terigu dan air yang diatasnya diberi sayur mayur seperti kol, daging, makanan laut, saus dan aneka toping lainnya. Singkatnya, Okonomiyaki adalah pizza-nya Jepang.
Kesuksesan tidak membuat Pak Yudi menjalani kehidupan serba mewah. Pak Yudi kini bermukim di Perumahan Bukit Lawang Indah. Untuk di masa depan, Pak Yudi menyatakan keinginannya untuk menjadi penyuluh swadaya di Indonesia. Ia juga mengungkapkan keinginan besarnya untuk berbagi dan memberdayakan petani. Terakhir, Pak Yudi juga berharap mahasiswa STPP Malang tidak gentar berusaha berkontribusi dalam perkembangan sektor pertanian Indonesia.