Narsisme dalam Sang Alkemis Karya Paulo Coelho

Menutup halaman terakhir Sang Alkemis, aku membalik kembali pada bab pertama dan terkejut menyadari kisah Santiago diawali dengan penuturan kisah Narcissus dan telaga. Sepanjang perjalanan aku lupa Coelho menyisipkan cerita Narcissus. Dalam keterkejutanku, aku bertanya-tanya, “Buat apa menaruh kisah Narcissus, apa relevannya dengan kisah Santiago?”
Narcissus dan Telaga adalah kisah si narsis, Narcissus yang setiap harinya melongok memandangi bayangannya yang elok di Telaga. Saat Narcissus mati, Telaga bersedih, bukan bersedih kehilangan keelokan Narcissus, tetapi karena dia kehilangan cermin – ternyata saat Narcissus bercermin pada Telaga, Telaga balik mengagumi pantulan dirinya sendiri pada mata Narcissus.
Sementara itu, kisah Santiago adalah kisah tentang keberanian untuk mewujudkan mimpi. Santiago sendiri digambarkan sebagai sosok rendah hati dan teguh, jadi apa hubungannya dengan Narcissus? Tampaknya Pak Coelho berutang penjelasan kepada pembaca Sang Alkemis di seluruh dunia. Namun kelihatannya ia tak akan memberikan tafsir cerita, dalam waktu dekat. Maka, persilahkan aku membagikan tafsirku.
Menurutku, Kisah Sang Alkemis adalah kisah tentang orang yang narsis. Dalam kepala Santiago itu kebanyakan dipenuhi oleh dirinya sendiri. Aku bertanya-tanya apakah seseorang menyadari, tapi sepanjang cerita, hanya ada Santiago dalam benak Santiago. Pembaca dibuat terperangkap dalam perspektif Santiago, dan dibuat ikut berpikir bahwa Santiago adalah manusia superior. Lagipula bocah itu dengan egois dan subtil menyatakan kemiripan orang-orang di sekitarnya seperti domba – kebanyakan pengikut. Tak ada upaya memahami bahwa tidak semua orang bisa seperti dirinya, direstui untuk berkelana oleh orangtua. Dia tidak mengerti bahwa orang ‘menjadi domba’ bukan serta merta karena malas atau penakut, tapi sebab keterikatan dengan keluarga atau karena kemiskinan.
Pun, kita tidak dapat mengharapkan semua orang dapat menjadi spektakuler seperti Santiago. Seorang Tukang Sampah mungkin saja telah menjalani pekerjaannya dengan sepenuh passion. Dalam angan-angan si Tukang Sampah, dia ingin jadi vlogger yang mensosialisasikan gaya hidup zero waste. Namun apalah daya, gaya hidup zero waste itu amatlah mahal. Maka ia harus puas dengan menjalani gaya hidup minimalis, menggunakan sampah dapur sebagai pupuk buat pekarangan kecil dan ‘sekadar’ menjadi Tukang Sampah di lingkungan RT. Jika begitu siapalah kita menghakimi si Tukang Sampah yang kehidupannya tidak se-spektakuler Santiago.
Narsisme juga tampak pada saat tokoh Fatima hadir. Kali ini jenisnya narsisme laki-laki. Di awal cerita Coelho menyatakan bahwa setiap orang memiliki Takdir yang harus dijalani, tapi tampaknya hal itu tidak berlaku pada Fatima, si gadis gurun. Fatima tidak memiliki Takdir seperti yang dimiliki Santiago. Takdir Fatima adalah menunggu laki-lakinya pulang dari perjalanan. Sementara menunggu, ia cukup puas dengan melakukan pekerjaan rumah tangganya sehari-hari.
Benih narsisme selanjutnya adalah tertuang pada pesan kisah Sang Alkemis, yakni sebuah kampanye berbunyi, “Turuti kata hatimu, sebab hatimu sudah tahu segalanya, kebenaran ada dalam padanya” Sungguh problematis. Sebab dunia nyata tidak seajaib kehidupan fiksi Santiago. Pun kita bukan Nabi yang hatinya dibisiki kata-kata bijak, malahan perkara runyam timbul apabila kita terlalu mendengarkan kata hati dan menolak mendengarkan logika. Pesan tersebut rawan disalahtafsirkan dan dijadikan alat untuk menutupi mata dari kekurangan kita sendiri.
Benar bahwa kehidupan adalah proses pencarian dan idealnya manusia menemukan kedamaian dengan hatinya sendiri. Tetapi dalam proses mencapai hal itu, kita masih perlu mendengarkan orang lain. Kata-kata si Sang Alkemis dan si pencuri, ada baiknya didengar dan ditimbang, karena kebenaran dapat keluar dari mulut siapa saja. Keseimbangan itulah yang hilang dari Kisah Santiago – bahwa banyak hal yang sesungguhnya tidak kita tahu, dan orang lain dapat menjadi cermin, bukan hanya bagi kecantikan tapi keropeng-keropeng kita juga.