MBTI Mengubah Hidupku (dan Hidupmu Juga)


Catatan : MBTI yang aku maksud adalah yang telah direvisi oleh Dario Nardi dan John Beebe.

          Pertemuanku dengan Myer-Briggs Type Indicator atau MBTI terjadi di Maret 2015, saat aku scroll down akun ask.fm Evita Nuh (aku dulu terobsesi dengan dia, tapi itu lain cerita). Karena ketertarikanku dengan psikologi khususnya hubungan intrapersonal, aku mencoba tes di 16personalities.com dan mendapat hasil INTx. Aku membaca deskripsi INTx dan tercengang. Sebenarnya penjelasan di 16personalities sekedar membicarakan traits tipikal masing-masing tipe kepribadian. Tidak semua penjelasan tentang INTx cocok denganku, namun beberapa inti kepribadian INTx dijelaskan di situs itu dengan baik. Perasaan yang ku dapat saat itu, aku nggak akan pernah lupa. Untuk pertama kali dalam hidupku aku merasa dimengerti.
Dari situlah aku mulai berobsesi dengan MBTI.
          Singkat cerita, kode-kode (I untuk Introversion, N untuk Intuition, T untuk Thinking, dan J untuk Judging/P untuk Perceiving) itu membuatku tidak puas. Aku merasa basis teori versi ini lack depth. Aku menemukan artikel “MBTI, Fads That Won’t Die” Jujur ya, aku nggak terima. Jadi, aku mulai mempelajari asal mula MBTI, Carl Jung, dan menemukan teori asli yang terkubur oleh populernya teori MBTI yang cetek.
          Akhirnya, aku menemu basis teori yang lebih kredibel. Introverted intuition, extraverted intuition, introverted sensing, extraverted sensing, introverted thinking, extraverted thinking, introverted feeling dan extraverted feeling. Delapan di atas adalah fungsi kognitif yang dipunyai oleh tiap individu. Ada pula teori tentang ego, arketip, dan shadow.  
Saat itu, aku merasakan kebutuhan untuk berdiskusi tentang MBTI dengan seseorang yang punya basis ilmiah. Membaca diskusi di forum-forum online rasanya tidak cukup. Terlalu banyak versi, informasi, kadang tanpa dasar yang jelas. Saat itu aku baru kenal juga dengan ask.fm, jadi iseng-iseng aku ketikkan “MBTI ask.fm” dan “Introverted Intuition ask.fm”. Dari situlah aku menemukan Greythama Tornado.
          Aku membaca seluruh answernya yang saat itu belum mencapai 200. Halaman ask.fm-nya banyak membantuku menentukan sumber yang kredibel.
Aku melakukan tes ulang di keys2cognition dan masih mendapat hasil INTx. Hanya saja, dari tes itu aku tahu aku bukanlah INTx tipikal. Fungsi-fungsiku belum dalam kondisi yang seimbang, tentu ini mendatangkan beberapa permasalahan. Kebutuhan untuk pengembangan diri terasa makin besar, aku pun semakin yakin untuk melakukan self-development dengan MBTI.
          Saat aku menyebut ‘obsesi’, yang ada memang aku benar-benar terobsesi dengan MBTI. Aku mempelajarinya betul-betul. Topik favorit untuk diketikkan di mesin pencari Google adalah MBTI. Aku tidak bosan mengulang-ulang membaca tentang fungsi kognitif, arketip, shadow dari sumber yang berbeda-beda. Aku mengikuti setiap update dari Grey, mendengarkan podcast Personality Hacker, membaca artikel Celebrity Types, dan membaca buku Carl Jung “Memperkenalkan Psikologi Analitis”. Aku juga mengamati orang-orang di sekitarku dan mencoba menebak fungsi-fungsi yang mereka gunakan. Aku bahkan memaksa beberapa teman untuk tes di keys2cognition, sebagai tambahan bahan pengamatanku.
          Dua tahun telah berlalu sejak saat itu dan aku belum lelah belajar. Mungkin ada yang bertanya, mengapa aku segetol itu mempelajari MBTI untuk self-development? Jawabannya simpel. Saat itu, aku merasa stuck dengan kehidupanku sendiri.
Aku tahu aku memiliki suatu potensi yang bisa berguna untuk diriku dan orang lain, namun aku merasa tidak semua orang mengerti potensiku itu. Aku bahkan tidak bisa membagikan pemikiranku pada orang lain seperti yang lumrah dilakukan manusia, sebab saat aku melakukannya pemikiranku selalu terlalu kaku atau tidak normal.  
Singkatnya, saat itu aku merasa tidak bisa berfungsi dan berkontribusi. Aku merasa hidup dalam duniaku sendiri, yang kadang sungguh mengasyikkan tapi juga menyesakkan.
Terlepas dari kondisiku saat itu, aku selalu percaya tiap individu punya cara tersendiri untuk berkontribusi pada dunia. Tiap-tiap dari kita hanya perlu tahu cara spesial kita untuk berkontribusi. Aku sendiri butuh bimbingan untuk tidak hanya berkontribusi, tapi juga berfungsi, hidup, sebagai diriku sendiri. Itulah mengapa MBTI sangat penting buatku.
          Jadi bagaimana MBTI mempengaruhiku selama 2 tahun ini?


1. MBTI merusak delusiku tentang diriku sendiri. Ia menyambungkan dualisme self-imageku. Perumpamaannya, dahulu, saat keadaan baik, aku merasa sangat baik. Saat keadaan buruk, aku merasa sangat buruk. MBTI mengungkapkan bahwa manusia adalah karakter multi-dimensional. Pemahaman ini mencegah grandiose sense of self dan juga insecurity yang berlebihan. Aku menanggapi diriku dengan apa adanya, menjadikanku tidak overreacting. MBTI mengarahkanku pada self-acceptance. 
   


2. MBTI memberiku validasi tentang diriku – kekuatan, kelemahan, perasaan, pikiranku. MBTI juga memberi penjelasan mengenai kekuatan dan kelemahan orang lain, membuatku tidak lagi bingung. Aku melihat ada individu yang tampaknya kurang memiliki kepekaan terhadap kata. Dia sering menggunakan istilah yang kurang tepat sehingga mengakibatkan kesalahpahaman. Aku melihat ada individu yang kurang cepat memahami konsep. Aku juga melihat ada seseorang yang membaur dengan sangat baik di lingkungan yang dia hadapi, dia mampu melihat peluang-peluang dan tanpa ragu terjun mengambil peluang itu, bahkan ia bisa memaksimalkan peluang dengan caranya sendiri. Ada pula orang-orang yang memiliki kemampuan luar biasa untuk membangun relasi dengan orang-orang yang baru ia kenal, orang-orang ini bisa menyesuaikan dirinya dengan orang lain, membuat orang lain nyaman dengan dirinya dan menjadikan dirinya disukai. MBTI adalah konsep yang membuat perbedaan-perbedaan dalam individu ini menjadi beralasan, jelas dan masuk akal.


3. MBTI memberiku alasan untuk aku menjadi orang yang lebih toleran dan understanding. Dahulu aku sering bingung memikirkan perbedaan kepribadian manusia. Aku sempat frustasi karena harus bergaul dengan karakter yang berbeda-beda itu. Mengapa saat aku berbuat baik pada 2 orang, respon mereka berbeda? Ya, aku tahu bahwa didikan dan lingkungan mempengaruhi karakter seseorang. Pola dampak didikan dan lingkungan saat tumbuh sudah ku ketahui saat itu. Namun, bahkan orang yang dididik dalam situasi sama bisa berakhir berbeda. Orang yang memiliki bakat dan minat sama bisa mengambil keputusan yang berbeda. Aku membutuhkan sebuah konsep yang memetakan kepribadian manusia yang memetakan faktor-faktor X, biar aku ngerti mengapa aku harus terus belajar bersosialisasi (dan bagaimana).

          Sebab sebuah pemahaman bisa mengubah sikapku 180 derajat. Sebuah pemahaman bisa menjadi bahan bakarku untuk bergerak jauh.
          Menurut Grey, MBTI itu semacam memberi tahu bahwa manusia lahir sebagai jenis kertas yang berbeda. Kertas yang sejenis punya preferensi sama dalam membuat keputusan dan menyerap informasi. Lingkungan dan didikan orang tua adalah bagaikan warna yang diteteskan pada jenis kertas itu. Akhirnya jadilah kertas yang memiliki jenis dan macam-macam warna. Kertas yang bermacam-macam jenis dan warna pun tercipta.
          (Kalau aku sendiri mengumpamakan tipe kepribadian sebagai jenis kacamata, sedangkan lingkungan dan faktor-faktor lain sebagai warna lensa itu)
Apabila dahulu aku sekedar tahu bahwa tiap individu itu berbeda, sekarang aku tahu apa yang membuat perbedaan itu. Pengetahuan itu pun menjadikan aku orang yang lebih toleran dan memiliki niat besar untuk mengerti.

4. Aku belajar bahwa aku mesti berusaha supaya dimengerti.  Aku mesti berusaha apabila aku ingin terhubung dengan orang lain. Dari dahulu, aku pengen sekali ngobrol tentang topik-topik culun. Ngobrolin film, lagu, buku, psikologi, MBTI, manajemen waktu dan tenaga, remaja,… Dulu, rasanya susah menemukan seseorang untuk diajak ngobrol begituan. Apalagi untuk diajak ngerjain proyek bareng. Dahulu, aku cenderung mengisolasi diri karena I dislike small talk. Bersosialisasi secara general melelahkan buatku. Lalu, dengan MBTI, aku belajar bahwa small talk itu ternyata penting juga, ia punya kedudukan tersendiri dalam hubungan manusia dalam skala kecil/besar. Aku belajar bahwa aku tidak boleh berhenti berusaha terhubung, aku tetap harus berusaha untuk berkoneksi dengan orang lain. Mencoba, pelan-pelan. Kuncinya adalah menemukan cara yang membuatku dan orang lain nyaman.


5. I learn to create the best system for me to function, to live. Aku punya masalah. Aku cenderung procrastinate kalau nggak enak hati. Posisi mentalku berada di taraf ekstrem. Kalau aku termotivasi, aku bakal terobsesi dan bisa menjadi master dalam suatu hal. Kalau tidak termotivasi, aku bisa menjadi orang paling bodoh. Padahal, di dunia ini ada banyak hal yang mesti aku kerjakan supaya jalanku mulus. Lalu aku dengerin Podcast Personality Hacker tentang INTx personality growth lalu aku menemukan bahwa fungsi Feelingku ada di posisi bocah. Aku perlu mendengarkan suara-suara aslinya dia dan menurutinya. Dari situlah aku bisa mendapat suatu motivasi. Ada sederetan penjelasan yang gak bisa aku jabarkan di sini. Intinya, aku bisa bilang kalau cara ini berhasil. Bukan berarti aku sudah bisa kerja segetol Elon Musk di 24 jam waktu seharinya. Ini berarti aku bisa kerja sesuai jadwal yang aku canangkan, berdampingan dengan rutinitasku sehari-harinya, dengan kapasitas tenaga dan waktu yang selama ini aku punyai. Memberi makan Feeling-ku membuatku memiliki kekuatan untuk menyalurkan kemampuanku.
   MBTI ini juga membuatku belajar untuk menyeimbangkan diri. Menghabiskan terlalu banyak energi dan waktu untuk berpikir saja itu melelahkan. Aku perlu bersentuhan secara konstan dengan dunia nyata untuk merasa sehat (bersosialisasi). Aku juga belajar kalau sifat perfeksionis itu dapat menjegal diriku untuk berkarya/melakukan sesuatu. Dan lain-lain. 

***
          Pengalamanku dengan MBTI bukanlah sesuatu yang dapat berakhir. Masih banyak hal yang mesti aku pelajari dan terapkan. Aku ingin seseorang mendiagnosis atau menuntunku untuk assessment MBTI. Sebab kadang aku merasa seperti bukan INTx. Ini mungkin disebabkan oleh skor fungsi kognitifku yang tidak ‘ideal’. Aku tidak bisa berpikir sendiri, aku perlu validasi dari dunia eksternal. Berpikir sendirian bisa membuatku gila.


          Demikianlah ceritaku tentang MBTI, aku harap dapat menginspirasi kamu untuk mengunjungi keys2cognition dan melakukan tes. Aku bakal senang sekali kalau kamu mau ngobrol MBTI denganku. Jika punya tanggapan, saran, atau apapun untuk dikatakan, silahkan berkomentar. Atau tanya aku di ask.fm/AisyKD  


Situs-situs penting terkait MBTI:
1. Keys 2 Cognition
2. Personality Hacker
3. Celebrity Types
4. Best Fit Type
5. Akun ask.fm Greythama Tornado

6. MBTI Updates (@oef3007r) di LINE