01/23/2021

AISYKRIM.COM

Nomor Satu Seangkasa Raya

Aku Ingin Hidup di Republik #Jancukers


            Ibu Bapak saya tidak membolehi saya misuh-misuh. Tapi saya masih suka bilang ‘Jancuk’ saat bergaul dengan kawan-kawan. Kawan-kawan saya juga kadang bilang ‘Jancuk’ juga. Bukan berarti kawan-kawan ini ngajari saya yang jelek-jelek. Jancuk bagi kami adalah ungkapan penuh makna.
Kami mengucap Jancuk saat sebal, juga saat bahagia nggak ketulungan, “Jancuk, aku bisa dapet juara satu!” Jancuk adalah sapaan akrab, “Ayo ngopi, Cuk. Aku yang traktir!” Jancuk juga adalah simbol ngenes, sedihnya diri, seperti yang ditulis Sujiwo Tejo, “Jika dengan ‘Jancuk’ pun tak sanggup aku menjumpaimu, dengan air mata mana lagi dapat ku ketuk pintu hatimu”
Membaca Republik #Jancukers, saya langsung mengidentifikasikan diri saya sebagai masyarakat #Jancukers. Serius, kalau Negeri #Jancukers benar-benar ada, saya mau ditransfer ke sana. Bukan sebab Jancuk adalah kata favorit saya. Tapi lebih karena di negeri #Jancukers itu…
Mobil kepresidenan mengalah terhadap mobil yang mengangkut perempuan mau melahirkan. Siapapun perempuan itu, pakai tas Hermes maupun tas kresek (hal 54).
Nyaris tak pernah ada bentrok antarsuporter bola karena di stadion, sebelum berlangsungnya laga, puluhan ribu penonton bola sudah dihidangi prasmanan bermutu (hal 65).
Tak ada air mata yang dihapus dengan tisu. Semua tangis diseka oleh tangan kekasih (hal 95).
Ya, sebab hanya di Negeri #Jancukers, manusia dipandang dan diperlakukan layaknya manusia oleh negara. Jomblo saja diberi pasangan part timer oleh negara. Hanya di Negeri #Jancukers, pelantikan presiden dilaksanakan di luar ruangan dengan mengenakan kaos berbahan menyerap keringat, dinaungi umbrella girl. Cuma Negeri #Jancukers yang menjadikan koruptor sebagai ATM alias Anjungan Tersangka Mandiri.
Terdengar menjanjikan untuk ditinggali, nggak?
Negeri #Jancukers adalah negeri khayalan yang selalu lebih baik dari Indonesia. Istilahnya, Negeri #Jancukers adalah gambaran ideal Indonesia di masa depan. Melalui 85 tulisan, Sujiwo Tejo mendeskripsikan Negeri #Jancukers dari berbagai aspek, dari sosial, ekonomi, hingga politik. Lalu beliau membandingkan negeri #Jancukers ini dengan negeri kita, Indonesia. Bukannya tersinggung, buku ini justru membuat WNI seperti saya tertawa, menertawakan kekurangan diri sendiri. Mau tersinggung bagaimana, sebab ternyata ada nilai-nilai kearifan lokal Indonesia yang diadopsi Negeri #Jancukers. Indonesia juga punya nilai-nilai luhur, Cuk.
 Inovasi dan solusi yang diterapkan dalam Republik #Jancukers sangatlah masuk akal. Janganlah membayangkan bacaan berat dengan dasar teori dan gaya bahasa yang ndakik-ndakik. Buku ini tidak menggunakan argumen-argumen maha tinggi yang membuat ngos-ngosan menaiki tangga pikiran biar ngerti. Sujiwo Tejo, Pak Dalang kita, membongkar kebudayaan yang perlu kita ubah, dengan menuturkan logika sederhana saja. Mudah dicerna bak nasi jagung dengan pecel dan ikan asin. Semua kalangan bisa membaca Republik #Jancukers tanpa dihalangi eksklusifitas kata-kata. Pokoknya gampang dipahami tapi apik. Meskipun tidak biasa. Melalui kesederhanaan itu lantas beliau memunculkan kesadaran di pikiran, membuat saya berujar, “Oh iya, Cuk. Selama ini kenapa begini terus, padahal begitu lebih bagus?”


Republik #Jancukers pada akhirnya juga membuat saya galau. Di bagian bumi mana saya bisa menemukan Republik #Jancukers? Pertanyaan itu kurang tepat. Kalau dipikir-pikir, mungkin Republik #Jancukers hanya bisa dicapai dengan mesin waktunya Doraemon. Lalu ke tahun berapa saya perlu bertamasya untuk mencapainya? Hmm, mungkin saya salah. Republik #Jancukers bukan dicapai, ia perlu dibangun di sini, di Indonesia. Lalu saya pikir, bolehlah saya menghadiahkan buku ini kepada ketua PKK, ketua RT, petani, atau pedagang-pedagang di pasar. Biarlah ide buku ini menyebar. Sebab kebaikan idenya dan kecernaannya, saya yakin, tidak akan membuat halaman buku ini dijadikan sebagai bungkus cabai. Tetapi akan membuat masyarakat Indonesia duduk, membaca dan bergumam, “Aku ingin hidup di Republik #Jancukers, Cuk”