Aku Ingin Hidup di Republik #Jancukers


            Ibu Bapak saya tidak membolehi saya misuh-misuh. Tapi saya masih suka bilang ‘Jancuk’ saat bergaul dengan kawan-kawan. Kawan-kawan saya juga kadang bilang ‘Jancuk’ juga. Bukan berarti kawan-kawan ini ngajari saya yang jelek-jelek. Jancuk bagi kami adalah ungkapan penuh makna.
Kami mengucap Jancuk saat sebal, juga saat bahagia nggak ketulungan, “Jancuk, aku bisa dapet juara satu!” Jancuk adalah sapaan akrab, “Ayo ngopi, Cuk. Aku yang traktir!” Jancuk juga adalah simbol ngenes, sedihnya diri, seperti yang ditulis Sujiwo Tejo, “Jika dengan ‘Jancuk’ pun tak sanggup aku menjumpaimu, dengan air mata mana lagi dapat ku ketuk pintu hatimu”
Membaca Republik #Jancukers, saya langsung mengidentifikasikan diri saya sebagai masyarakat #Jancukers. Serius, kalau Negeri #Jancukers benar-benar ada, saya mau ditransfer ke sana. Bukan sebab Jancuk adalah kata favorit saya. Tapi lebih karena di negeri #Jancukers itu…
Mobil kepresidenan mengalah terhadap mobil yang mengangkut perempuan mau melahirkan. Siapapun perempuan itu, pakai tas Hermes maupun tas kresek (hal 54).
Nyaris tak pernah ada bentrok antarsuporter bola karena di stadion, sebelum berlangsungnya laga, puluhan ribu penonton bola sudah dihidangi prasmanan bermutu (hal 65).
Tak ada air mata yang dihapus dengan tisu. Semua tangis diseka oleh tangan kekasih (hal 95).
Ya, sebab hanya di Negeri #Jancukers, manusia dipandang dan diperlakukan layaknya manusia oleh negara. Jomblo saja diberi pasangan part timer oleh negara. Hanya di Negeri #Jancukers, pelantikan presiden dilaksanakan di luar ruangan dengan mengenakan kaos berbahan menyerap keringat, dinaungi umbrella girl. Cuma Negeri #Jancukers yang menjadikan koruptor sebagai ATM alias Anjungan Tersangka Mandiri.
Terdengar menjanjikan untuk ditinggali, nggak?
Negeri #Jancukers adalah negeri khayalan yang selalu lebih baik dari Indonesia. Istilahnya, Negeri #Jancukers adalah gambaran ideal Indonesia di masa depan. Melalui 85 tulisan, Sujiwo Tejo mendeskripsikan Negeri #Jancukers dari berbagai aspek, dari sosial, ekonomi, hingga politik. Lalu beliau membandingkan negeri #Jancukers ini dengan negeri kita, Indonesia. Bukannya tersinggung, buku ini justru membuat WNI seperti saya tertawa, menertawakan kekurangan diri sendiri. Mau tersinggung bagaimana, sebab ternyata ada nilai-nilai kearifan lokal Indonesia yang diadopsi Negeri #Jancukers. Indonesia juga punya nilai-nilai luhur, Cuk.
 Inovasi dan solusi yang diterapkan dalam Republik #Jancukers sangatlah masuk akal. Janganlah membayangkan bacaan berat dengan dasar teori dan gaya bahasa yang ndakik-ndakik. Buku ini tidak menggunakan argumen-argumen maha tinggi yang membuat ngos-ngosan menaiki tangga pikiran biar ngerti. Sujiwo Tejo, Pak Dalang kita, membongkar kebudayaan yang perlu kita ubah, dengan menuturkan logika sederhana saja. Mudah dicerna bak nasi jagung dengan pecel dan ikan asin. Semua kalangan bisa membaca Republik #Jancukers tanpa dihalangi eksklusifitas kata-kata. Pokoknya gampang dipahami tapi apik. Meskipun tidak biasa. Melalui kesederhanaan itu lantas beliau memunculkan kesadaran di pikiran, membuat saya berujar, “Oh iya, Cuk. Selama ini kenapa begini terus, padahal begitu lebih bagus?”


Republik #Jancukers pada akhirnya juga membuat saya galau. Di bagian bumi mana saya bisa menemukan Republik #Jancukers? Pertanyaan itu kurang tepat. Kalau dipikir-pikir, mungkin Republik #Jancukers hanya bisa dicapai dengan mesin waktunya Doraemon. Lalu ke tahun berapa saya perlu bertamasya untuk mencapainya? Hmm, mungkin saya salah. Republik #Jancukers bukan dicapai, ia perlu dibangun di sini, di Indonesia. Lalu saya pikir, bolehlah saya menghadiahkan buku ini kepada ketua PKK, ketua RT, petani, atau pedagang-pedagang di pasar. Biarlah ide buku ini menyebar. Sebab kebaikan idenya dan kecernaannya, saya yakin, tidak akan membuat halaman buku ini dijadikan sebagai bungkus cabai. Tetapi akan membuat masyarakat Indonesia duduk, membaca dan bergumam, “Aku ingin hidup di Republik #Jancukers, Cuk” 

Tubuh Aduhai untuk Menarik Perhatian Mahasiswa di Ruang Kuliah

Pernahkah dosenmu mempertontonkan gambar perempuan-perempuan aduhai –  yang sebenarnya tidak begitu ‘terbuka’ tapi cukup untuk membikin para lelaki menjerit-jerit – di ruang kuliah?
            Biasanya slide powerpoint menggunakan gambar-gambar yang mendukung materi kuliah. Biar mahasiswa lebih gampang ngerti. Namun kali itu berbeda,  di satu mata kuliah, dosen saya sebut saja Pak Puh menampilkan slide powerpoint dengan hiasan gambar-gambar perempuan. Memang benar, slide powerpoint itu berisi materi kuliah, namun background per slide-nya adalah gambar-gambar perempuan setipe Dewi Persik, Julia Perez, atau Nikita Mirza. You get the picture. Itu adalah kali pertama dan satu-satunya pengalaman saya diajar dengan metode sedemikian. Saya mengamati, seisi kelas tergelak, kaget.
            Kagetnya hanya beberapa detik saja.
            Setelahnya, lelaki heteroseksual dalam kelas mulai gaduh. Berseloroh heboh, mengomentari betapa menggoda, betapa ‘sedap’ perempuan-perempuan tersebut. Kontras, di sisi lain, perempuan-perempuan heteroseksual dalam kelas terdiam tidak nyaman. Aku menahan tawa geli, namun banyaknya hanya geleng-geleng kepala. Kadang-kadang komentar lelaki ini lucu, tapi kadang brengsek juga karena guyonannya kok mengobjektifikasi perempuan. Seolah-olah perempuan-perempuan dalam foto itu bakal senang-senang saja mereka pegang. Kadang komentar-komentarnya juga berpotensi menjadi makanan monster minder. (Ya, lelaki juga dituntut untuk berbadan six-pack, tinggi, dan memiliki masculine features lainnya).
Dihadapkan pada hal itu, pantas saja teman-teman perempuan merasa tidak nyaman. Pak Puh santai-santai saja, menjelaskan materi dengan sesekali bercerita tentang bagaimana dia mendapat foto-foto tersebut. Yang membikin takjub, Pak Puh mengenal orang-orang di foto itu. Beberapa foto dimilikinya secara pribadi, beberapa dia ambil dari sosmed.
            Keriuhan pun terus berlangsung hingga akhir kuliah. Setiap ganti slide, maka akan ada foto-foto perempuan yang lain. Di akhir-akhir slide, Pak Puh ternyata menaruh foto-fotonya sendiri. Yang tentu saja tidak luput dari komentar.
            Saya merasa tidak nyaman sepanjang sesi kuliah. Di akhir sesi, saya mengacungkan tangan.
            “Pak, kenapa di slide-nya yang dipasang gambar-gambar perempuan saja?”
            Seisi kelas tertawa mendengar pertanyaan saya, kecuali beliau, tentu saja.
Pak Puh memutar badan sehingga menghadap kami semua, “Kamu tahu, pas kuliah, siapa yang sering ribut? Pasti laki-laki. Kalau perempuan cenderung diam kan? Kalau saya pasang foto laki-laki, nanti laki-laki di sini nggak tertarik”
“Tapi kan yang perempuan juga butuh untuk dibuat tertarik, Pak? Biar nggak bosan juga”
Orang-orang tertawa lagi. Pak Puh terdiam, hendak menjawab, namun dia urungkan.
“Kenapa perempuannya cuman dikasih foto Bapak aja?”, sambung saya.
Saya tidak mengatakannya untuk melucu. Namun begitu, orang-orang kembali tertawa. Orang-orang yang duduk di belakang saya menjawil pundak saya, tergelak, “Ais, Ais, kamu kenapa tanya aneh-aneh gitu?”
Pak Puh akhirnya menjawab, “Ya, lain kali saya carikan foto laki-laki. Tapi yang perempuan pasti malu”
            Waktu itu, saya harusnya bilang, “Tidak, kok, Pak. Perempuan tidak malu. Beberapa perempuan di sini suka nonton cowok-cowok K-Pop”
            Namun sialnya, saat itu saya sedang banyak terdistraksi oleh komentar-komentar dari teman sekelas saya. Pak Puh juga buru-buru pergi. Akhirnya saya mengunci mulut saya rapat-rapat, meski banyak pikiran bergolak dalam kepala saya.

Berkaca pada Fenomena       
Saya memahami, ada kemungkinan Pak Puh bersikap realistis saat itu. Dia melihat bahwa laki-laki pasti suka nonton tubuh-tubuh perempuan bohai. Karenanya, dia menggunakan gambar-gambar itu untuk menarik perhatian. Ya, dia berhasil dalam menarik perhatian laki-laki. Laki-laki di kelas kami tidak sekalipun menguap ngantuk, tak seorang pun ijin ke toilet untuk merokok.
            Tidak dipungkiri, visual memang dapat merangsang, maupun tidak selalu, hasrat seksual. Keindahan visual memang menyenangkan.
Namun apakah etis menggunakan metode tersebut pada laki-laki yang menganut paham patriarki, di depan perempuan? Apakah aman mempertontonkan tubuh-tubuh perempuan pada publik yang memandang perempuan sebagai objek?
Lagipula, apakah penggunaan foto-foto tersebut membuat mahasiswa lebih ngerti materi? Apakah hal itu justru membuat mahasiswa terdistraksi, menaruh perhatian pada gambar dan bukannya materi – mengingat gambarnya gak nyambung?
Kelas tersebut adalah pentas kecil yang menampilkan kondisi sosial masyarakat Indonesia masa ini. Kondisi dimana budaya patriarki (dalam ranah seksual) mengajari laki-laki untuk vokal, kelewat percaya diri, dan meyakini bahwa tubuh perempuan tercipta buat mereka dan sexually always available. Sebaliknya, perempuan diharuskan untuk menjadi covert, mentabukan kebutuhan fisiologisnya sendiri.
Ibaratnya, dalam kelas itu mahasiswa adalah hadirin. Hadirin laki-laki diberi hidangan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka. Sedangkan hadirin perempuan tidak disuguhi hidangan apapun dan terpaksa mesti diam tentang hal itu.
Saya juga menyayangkan mengapa pula perempuan harus malu mengakui di depan publik bahwa dia menikmati gambar-gambar lelaki ganteng?Perempuan mayoritas malah terintimidasi, malu pada hasratnya sendiri. Padahal hasrat adalah sesuatu yang alami, tidak perlu membuat mereka merasa malu, hasrat juga tidak berbahaya asal tidak diinvestasikan dalam perilaku. Juga, apabila ketakutan tersebut dipelihara, maka terpelihara pulalah represi bagi mereka.
Hari ini adalah Hari Pendidikan
      Tiap-tiap orang pasti memiliki gaya mengajar masing-masing. Sesungguhnya, metode pengajaran yang digunakan Pak Puh gokil juga. Idenya asyik, unik, tapi tentu membutuhkan banyak perbaikan di sana sini. Yah, meskipun pengalaman itu menimbulkan perasaan nano-nano, saya bersyukur bisa menambahkan satu pengalaman itu dalam kotak koleksi pengalaman saya. Meski ada rasa sebal, toh saya belajar (saya pun sedikit senang).