Surat Valentine Buat Bapak Ibuk Petani


            Pak, Buk, terimakasih. Kerja keras Bapak dan Ibuk telah membuat saya bisa menikmati manis dan renyahnya sayur sawi, dengan harga 3000 cuma-cuma. Tidak hanya sawi, tetapi juga kacang panjang, jagung, hingga…tomat! Favorit saya! Pokoknya, tanaman pangan yang tumbuh dari sawah Ibuk adalah surga bagi  lidah saya.
            Sedari dulu, Mamak sering menyuruh saya belanja sayur di rumah Ibuk. Padahal Ibuk bukan pedagang sayuran, tetapi petani. Cerdiknya, Mamak saya tahu kalau beli sayur langsung di tempat Ibuk, pasti harganya jauh lebih murah daripada sayur yang ada di pasar. Mamak saya hafal dan tahu betul kapan Ibuk panen. Jadi kalau saya habis lewat rumah Ibuk, yang ditanya Mamak saya adalah, “Kamu lihat sayur apa saja di depan rumah Ibuk?” Padahal saya waktu itu cuma bocah biasa yang suka main gundu, mana saya peduli soal belanja sayur mayur!
            Sebelum ini, saya sempat nggak paham dengan realita profesi Ibuk. Bagi saya, petani adalah penghasil pangan. Titik. Saya belum melek dengan isu-isu sosial, belum suka baca buku ‘serius’. Yang saya baca adalah novel atau kumpulan cerpen. Dalam benak saya, tertanam prasangka kalau bertani itu pekerjaan kelas dua. Di mata saya, ada banyak pekerjaan lain yang cepat dan banyak menghasilkan uang, tapi yang jelas bukan pertanian.
Maafkan saya karena berpikiran dangkal seperti itu.
Baru saat saya dipaksa belajar Penyuluhan Pertanian, saya sadar dengan banyak hal. Saya baru ngeh, kalau di negara-negara maju, bertani berarti kaya. Saya sadar, sektor yang menjadi pondasi kehidupan rakyat adalah sektor pertanian. Tangan-tangan kekar Ibuk dan Bapak Tani lah yang menyuapi makan kami selama ini.
Saya baru sadar betapa pentingnya menjadi petani.
Saya pernah 6 bulan hidup di tengah-tengah petani. Bukan atas kemauan saya sendiri, tetapi tugas kuliah. Saya melihat betapa panjang dan rumitnya proses makanan dibuat. Kini, saya melihat makanan bukan sebagai sekedar barang lezat pengganjal perut. Saya tidak melihat makanan dari kacamata gizi saja. Saya melihat makanan di piring saya sebagai produk keteguhan dan ketulusan petani. Makanan seperti barang ajaib, yang perlu diperlakukan dengan benar. Apalagi setelah membaca buku Food for Beginners karya Susan George. Beliau mengatakan, “Makanan adalah alat politik” dan “Produsen makanan adalah orang-orang miskin” Disebutkan pula bahwa bencana kelaparan adalah keputusan politik, bahwa sebenarnya ada cukup makanan untuk mengenyangkan perut seluruh manusia di dunia.
Mamak saya dulu sering memarahi saya kalau saya tidak menghabiskan makanan. Katanya, “Ngambil-ngambil sendiri, kok nggak dihabisin. Di luar sana banyak orang yang kelaparan!” Di pagi hari, Mamak menyuruh anak-anaknya menghabiskan nasi sisa kemarin, sebelum makan nasi yang dimasak pagi hari. Apabila saya tidak suka makan cabe hijau atau tomat dalam masakan Mamak, Mamak menyuruh saya menaruh cabe hijau atau tomat itu ke piring beliau. “Nanti Mamak makan”, katanya. Disiplin Mamak terhadap makanan tidak pernah sampai menyiksa anak-anaknya. Kami boleh tidak menghabiskan makanan kalau tidak sanggup, tapi makanan sisa itu bakal dijemur untuk dijadikan kerupuk, atau dikasihkan ke kucing liar, atau ayam tetangga. Menurut saya dulu, Mamak ini rempong sekali. Tapi, kini saya sadar, Pak, Buk, dengan cara itulah kami bisa menghargai perjuangan Bapak Ibuk. Begitulah kami menunjukkan bahwa kami sadar mengenai isu kelaparan dunia.
Pak, Buk, dosen-dosen kami bilang, kami adalah calon penyuluh pertanian. Saya adalah calon penyuluh pertanian. Di sini, kami diajari untuk menjadi fasilitator, teman belajar Ibuk dan Bapak. Kami dipersiapkan agar dapat membantu Bapak Ibuk.
Sesungguhnya, saya ingin membantu, Pak, Buk. Saya punya visi, suatu saat profesi petani adalah profesi yang bergengsi. Saya bermimpi derajat profesi petani diangkat, dikembalikan ke posisi yang seharusnya. Saya ingin petani-petani di Indonesia makmur dan punya kehidupan yang luhur. Sayangnya, kedua tangan saya ini masih kecil, kepala saya masih kosong. Saya mesti banyak belajar. Jadi untuk saat ini, biarlah saya membantu sebisa saya, dengan cara saya. Surat Valentine ini saya tulis, untuk membalas ungkapan cinta. Lewat tulisan inilah saya bisa menyuarakan keberadaan cinta yang telah Bapak Ibuk tebarkan. Cinta yang sering kami lupakan, yakni cinta dari Bapak Ibuk petani, yang berwujud hidangan di atas piring kami.


Pernah dimuat di Indonesiana, Tempo.

Otak dan Superioritas Gender



Sebuah paradigma di masyarakat berbunyi, pemimpin yang baik biasanya atau harusnya memiliki jenis kelamin laki-laki – karena laki-laki dianggap logis, tegas, dan mampu membuat keputusan tanpa terpengaruh unsur emosional. Sementara tugas-tugas seperti caretaker atau sekretaris idealnya diemban oleh perempuan – karena perempuan dianggap lebih mampu berempati serta menangani pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan. Pernyataan-pernyataan tersebut dan pernyataan-pernyataan serupa pun diamini oleh kedua pemilik organ genital. Laki-laki dan perempuan berpikir mereka memang diciptakan untuk ruang yang benar-benar berlawanan, juga dilarang menyeberang. Sangatlah menarik ketika suatu jenis kelamin dikaitkan dengan karakter-karakter tertentu. Sangat menarik juga saat suatu pekerjaan dianggap lebih superior dari pekerjaan yang lainnya. Perjuangan gender telah berjalan seabad, berjalan seiring  dengan berkembangnya IPTEK. Tidak dipungkiri, memang ada kondisi biologis yang mendasari perbedaan-perbedaan karakter laki-laki dan perempuan.
Masyarakat biasanya lupa, saat membicarakan karakter dan kebiasaan, harusnya otak alias operating system dari manusia juga ikut dibahas. We are our brains. Kita bukan hanya memiliki otak. Siapa kita tergantung dari bagaimana otak kita. Individu dilahirkan dengan otak yang memuat bakal-bakal karakter, warisan genetik. Kemudian komponen lingkungan eksternal dan semua pengalaman yang ia alami di dunia mulai mencetak individu itu.
Otak Laki-laki dan Perempuan, serta Evolusi
Berdasar jurnal Gender Differences in Human Brain oleh Zeenat F. Zaidi, memang ada perbedaan karakter dan proses yang terjadi di otak laki-laki dan perempuan. Perbedaan yang paling mendasar adalah ukuran. Otak laki-laki berukuran lebih besar daripada perempuan. Masyarakat sering mengaitkan ukuran otak bahkan ukuran kepala secara umum dengan tingkat kecerdasan. Hingga kini belum ada penelitian yang membenarkan adanya korelasi  antara ukuran otak dengan kecerdasan seseorang. Massa otot laki-laki yang lebih besar membutuhkan banyak neuron juga untuk mengontrolnya. Lagipula, besar otak yang dimiliki paus dan gajah tidak menjadikan hewan-hewan tersebut lebih cerdas dari manusia.
Kedua, bagian-bagian otak seperti limbic, cerebral hemispheres, amygdale, dan lain-lain yang mempengaruhi cara berpikir, reaksi terhadap stress, emosi, bahasa, hubungan interpersonal dan intrapersonal, komunikasi, kesemuanya ternyata berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan ini ditemukan pada otak laki-laki dan perempuan dalam fase remaja, sedangkan tidak ditemukan pada usia kanak-kanak.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi otak perempuan dan laki-laki saat ini, yakni faktor internal atau warisan genetik dan hormon, serta faktor eksternal atau lingkungan.
Apabila mengkaji teori evolusi, maka akan ditemukan bahwa manusia gua, laki-laki dan perempuan, memiliki tugas yang berbeda akibat fungsi reproduksi mereka. Laki-laki mencari makan, berburu atau bercocok tanam. Sedangkan perempuan menggunakan otaknya untuk merawat anak-anaknya juga memasak, menentukan bahan makanan yang dianggap baik dikonsumsi anak – penerus genetik keluarga. Maka tidak heran apabila laki-laki dianggap menguasai kemampuan-kemampuan tertentu secara ‘alami’, semacam menyusun strategi, mengorganisir sekumpulan orang, membidik sasaran, dan lain-lain. Sebab mereka memang mewarisi sifat-sifat tersebut. Tidak heran pula apabila perempuan dikenal lebih peka terhadap emosi dan cakap dalam hubungan interpersonal, nenek moyang perempuan dituntut peka dengan kondisi bayinya dan bersosialisasi dengan ibu-ibu yang lain. Malahan kemampuan-kemampuan yang ada saat ini merupakan warisan surviving skill manusia zaman purba.
Warisan sifat tersebut semakin ‘dipatenkan’ oleh kontruksi sosial masyarakat. Sejak kanak-kanak individu-individu ditempatkan dalam ruang-ruang khusus berlabel ‘ini milik laki-laki, ini tempat laki-laki’ dan ‘cuma perempuan yang boleh berada di sini’. Maka tidak mengherankan apabila perempuan terbiasa menggunakan cara-cara untuk survive di dunia perempuan, sejak kanak-kanak masing-masing jenis kelamin memang dikondisikan untuk menguasai cara survive di ruang tertentu. 
Perempuan Bisa Menjadi Direktur, Lelaki Bisa Menjadi Sekretaris
Menurut Jungian Typology yang kemudian dikembangkan oleh John Beebe, ada perempuan yang terlahir dengan sifat-sifat ‘maskulin’, seperti kaku dan dingin dalam bersosialisasi, mengedepankan logika daripada nilai-nilai emosional, berorientasi pada tujuan, dll. Kuantitas perempuan dan laki-laki dengan sifat ‘tidak alami’ ini memang belum banyak. Perempuan yang mampu memimpin dan laki-laki yang ‘keibuan’ ini masih kurang diakui dalam masyarakat patriarkis, mereka dipaksa untuk fit in dalam ruang-ruang yang telah ada.
Ilmuwan mengumpamakan otak sebagai otot, ia berubah secara konstan. Untuk memperkuat fungsi-fungsi tertentu otak, sama dengan otot, manusia perlu melatihnya secara sadar. Semisal, orang yang memiliki kekurangan pada aspek pergaulan perlu mengasah kemampuan itu dengan belajar memahami social cues, ekspresi wajah, hingga berkomunikasi sesuai kondisi. Apabila dihadapkan pada situasi pergaulan dan terus secara aktif mencari cara bergaul yang tepat, maka otak individu itu akan terus berkembang hingga bergaul tidak menjadi suatu persoalan yang berat baginya. Begitu halnya dengan aktivitas memimpin atau menari.
Selama peradaban manusia, gender telah menipu perempuan dan laki-laki, mengatakan keduanya benar-benar tercipta untuk tugas-tugas yang berbeda. Tentu hingga kini kita masih membawa gen-gen purba hasil evolusi, namun bukan berarti kita harus mati-matian mempertahankan gen itu dan menolak peluang yang ada. Binari itu masih eksis. Namun mulai dari sekarang, kita bisa mulai memberi kesempatan bagi laki-laki dan perempuan untuk memilih. Memberi kesempatan bagi perempuan yang ingin untuk memimpin, memberi kesempatan bagi laki-laki untuk berempati. Mari berharap di masa depan, perempuan tidak akan ditendang keluar dari satu ruang hanya karena mereka dianggap orang asing. Mari bersama-sama belajar mengobservasi potensi seseorang bukan hanya dari fisik dan fungsi reproduksinya, tapi juga dari otak.

 Pernah dimuat di Proklamasiana. Tulisan ini merupakan versi ‘serius’ dari Otak Perempuan.

               
               
               
               


Aksi Peduli Makanan


Kamu mungkin tahu apa yang terjadi padaku Selasa, 7 Februari lalu. Aku nggak akan membela diri di tulisanku ini. Aku akan membela ideku. So, guys, ku mohon jadilah temanku untuk sekitar 30 menit ke depan. Bebaskan pikiranmu dari asumsi tentang ‘Aisy’. Karena aku tidak membicarakan ‘Aisy’. Aku membicarakan ide. 
Jika tulisan berikut terasa beda, lebih reader friendly (tapi mungkin masih pedas)… yah, itu suasana yang berusaha aku bangun (beberapa orang bilang pembawaanku dalam menulis terlalu kaku dan serius). So, ya, happy reading!
***    
Mengubah Paradigma “Menghabiskan Makanan itu Rakus”
Ya kan, kamu pasti seenggaknya pernah denger orangtua bilang ke anaknya, “Kalau disuguhi makanan, jangan ambil banyak-banyak. Nanti dikira kamu nggak pernah dikasih makan di rumah” Saat makan enak di restoran, yaaa pasti mikir dua kali buat menghabiskan makanannya sampe bersih, banyak yang anxious mikir, “Waduh nanti kalau aku habisin nanti dikira jarang makan enak?!”
Aku pengen mengubah paradigma yang telah melekat di masyarakat Indonesia itu. Aku pernah ke Pekanbaru dan kagum sama budaya orang-orang di sana. Mereka itu jujur. Aku saat itu ditawarin makan Sate Padang dan aku dapat kesan, orang-orang sana tuh kalau nawarin makanan ya emang niat ngasih. Nggak kayak orang Jawa, pegang bakso sebiji terus sok-sokan nawarin ke teman-teman lain. Terus pas baksonya tinggal separo + ada bekas gigitan orang lain, eh, dalam hati ngedumel. Atau kadang nawarin, tapi barangnya nggak ada.
Pas aku ditawarin makanan dan aku nolak karena udah kenyang, mereka (yang kayaknya tahu banget orang Jawa gimana) bertanya lagi buat meyakinkan, “Beneran nih nggak mau?” Terus udah, pas aku bilang nggak mau, mereka berhenti nawarin. Nggak kayak orang Jawa, yang pasti bakal terus nawarin setengah maksa, karena ‘tidak mau’ di Jawa bisa berarti ‘aku mau tapi aku malu buat ngaku’.
Kejujuran tentang makanan itu yang aku sukai. Aku pengen bilang gini, “Lah, memang makanku banyak kok, jadi ya gapapa dong kalau aku ngambil nasi banyak. Emang badanku butuhnya segitu!” Aku pengen bilang bahwa, “Menghabiskan makanan itu tidak berarti rakus dan itu tidak memalukan! Ibu kita seharusnya tidak malu kalau kita menghabiskan makanan kita! Justru dengan tidak membuang makanan, kita menghargai makanan”

Ayo Menjadi Lebih Sadar Saat Mengambil Makanan
Gini, sehari kita makan 3 kali. Kita punya indra perasa, kita pasti sadar kondisi perut kita. Nah, kalau udah kayak gitu pasti tahu kan butuh ambil nasi seberapa banyak? Aku sering ambil nasi sambil ngelamun. Akhirnya kebanyakan. Akhirnya aku buang. Kan sayang…

Makanan boleh dibuang, apabila…

No need explaination no more.

“Tingkatkan kualitas makanannya dulu, kalau udah gitu, gak bakal dibuang kok”
Tapi, sepengamatanku, bahkan di saat lauknya udah enak dan nasinya empuk, masih banyak kok makanan yang dibuang.
Dan…soal kualitas makanan kantin… Kita nggak bisa naikin anggaran buat makan. Dari dulu tuh aku kepikiran buat bikin forum yang mempertemukan pihak kantin sama mahasiswa. Jadi disana kita curhat ke Ibu Kantin, “Ini lho, Buk, kami nggak suka kecambah soalnya masih mentah, mending sotonya nggak usah dikasih kecambah. Ganti mi aja gimana, Buk?” atau “Buk, ganti lauknya, jangan rawon dong” Juga, “Buk kami suka banget sama terong baladonya, ntap banget Buk. Makan itu seminggu dua kali kayaknya nggak bakal bosen deh, Buk” “Buk ayam kecapnya enak, lain kali ayam kecapnya pedesin ya, Buk”
Iya aku salah, aku lupa nyantumin ideku ini. Kayaknya emang ideku itu fokus ke jangan buang makanan doang. Iya, maaf, tapi jangan merendahkan keseluruhan ideku gitu. Guru kita nggak ngasih nilai 0 gara-gara ada 3 nomor yang salah.

Kenapa kamu melakukan itu?
Pada mulanya, aku ini acuh banget sama makanan. Aku paling nggak suka kalau disuruh Ibu ngabisin nasi sisa semalam, soalnya kadang ada yang keras. Tapi semenjak aku belajar dan kenal pertanian sekaligu petani, aku kok jadi prihatin. Apalagi habis baca bukunya Susan George yang berjudul “Food for Beginners”, aku sadar makanan itu alat politik. Makanan itu alasan orang-orang bunuh-bunuhan. Makanan yang aku anggap biasa ini dianggap mewah oleh orang-orang lapar di luar sana. Petani sampai sekarang masih banyak yang miskin padahal dia produsen pangan. Pokoknya pangan itu isu darurat.
Terus aku lihat di kantin, makanan sisanya banyak betul. Aku pernah ke belakang kantin terus lihat ada 2 kantong plastik hitam gede, isinya makanan yang nggak tersentuh, sama satu lagi isinya makanan sisa. Padahal ya, kampus kita ini sedang mendampingi usaha swasembada pangan. Rasanya kurang etis kalau kita bantu petani di luar sana, sementara kita sendiri masih belum bisa menghargai makanan.
Dalam pandanganku, bakal keren, kalau ada UKM di sini yang mau menyalurkan makanan yang nggak kemakan ke orang-orang jalanan (yang banyak bertebar di Singosari-Lawang). Dengan begitu, jatah makanan yang beberapa dari kita nggak suka, terus nasi yang nggak habis, bisa mengenyangkan orang lain juga.  
Bayangin deh kalau aksi kayak gini bisa diterapkan di seluruh dunia. Angka penduduk yang kelaparan bakal berkurang drastis karena manusia suka berbagi dengan sesama.
Aku mengkhayalkan kondisi dunia yang bebas dari kelaparan, kemiskinan, dan kejahatan. Aksi peduli makanan ini adalah aksi sederhana, ia adalah langkah awal. Karena, dalam piramida Maslow, makanan itu kebutuhan utama manusia. Kalau manusia udah kenyang, kemungkinan jahatnya bakal berkurang. Apalagi kenyang kasih sayang, wah, dia bakal jadi manusia yang sehat jasmani dan rohani juga.
 Intinya pangan itu kebutuhan pokok. Itu hak buat setiap manusia yang ada di bumi ini. 
Itulah mengapa aku peduli.