Pekanbaru, Dream Come True

            Aku sudah sering memutar-mutar bayangan dalam pikiranku : aku mendapat surat undangan ke kota jauh. Lelakiku mengantar kepergianku di bandara. Disana aku akan berbicara tentang karya. Keriangan dan semangat akan membuatku mabuk sampai aku tidak bisa merasa buruk tentang diriku sendiri hingga beberapa hari setelahnya.
It was a dream, indeed. But I am not daydreamer. Aku bukan pemimpi. Aku pekerja yang menyortir mimpi (beberapa mimpi teramat mustahil, aku kesampingkan), memilih satu yang prospektif dan menjadikannya tujuan.  
Lalu Malam 17 November, 1 mimpi berhasil terwujud dalam rupa Pekanbaru. Aku mendapat hadiah study trip ke Festival Media AJI (Aliansi Jurnalis Independen) pada 19-20 Oktober 2016. That was a solo trip and also my very first time going on an airplane (how fabs!). Perjalanan itu berlangsung selama 3 hari, dari 19-21 Oktober. Melalui catatan ini aku akan merangkum kesan-kesan dan pelajaran yang ku dapat seputar Mimpi dan Pekanbaru.
1. Dreams are cheap, reality is expensive
            Beranjak dewasa, aku menyadari bahwa suatu hal tidak terjadi secara tiba-tiba. Law of Attraction (The Secret book) is an utter bullshit, aku tidak bisa menginginkan apel, memikirkannya, dan berharap semesta akan memberiku apel. Aku belajar bahwa untuk mencapai sesuatu, aku harus fokus pada hal itu, menginvestasikan waktu dan energi untuk bekerja, membangun relasi, dan berusaha meraih keberuntungan, berada di waktu dan tempat yang tepat. Bermimpi itu murah, kenyataan itu mahal.
Prabu Revolusi dalam Seminar “Menjadi Presenter”. Kamu harus lihat rundown Festival Media  AJI biar tahu acaranya keren-keren!
            2. AJI dan Festival Media Pekanbaru
            Pertama aku mengenal AJI lewat Diklat Dasar Jurnalistik STPP Malang. Ada beberapa pembicara dari AJI yang membuatku takjub, saat itu. Aku semakin takjub lagi saat menghadiri Festival Media di Pekanbaru. Why? Acaranya mengenyangkan otak, memuaskan dahaga penikmat seni. AJI mendatangkan pembicara-pembicara yang profesional di bidangnya, tak tanggung-tanggung, contohnya Prabu Revolusi. Ada juga band lokal yang vokalisnya kece banget menyanyikan Redemption Song.

3. This is beautiful big world
              Mayoritas, anak-anak di Jawa berpikir bahwa Indonesia adalah Jawa. Saat aku kecil, aku melihat anak-anak pulau lain di televisi dan menganggap mereka tidak normal. Kehidupan mereka asing, budaya mereka asing. Anak-anak itu bercengkerama dengan hutan dan hewan-hewan, tidak memakai seragam sekolah sepertiku. Bentuk rumah mereka tidak seperti rumahku. Di benakku, kehidupan seperti itu serasa tidak nyata. Seolah-olah mereka hidup di planet asing nun jauh disana. Aku diajarkan tentang pulau-pulau di Indonesia yang lain. Namun, hal itu tidak memberikan apapun selain gambaran kabur di kepalaku.
            Akhir-akhir ini, sejak bergaul dengan orang-orang dari berbagai daerah, aku belajar bahwa aku tidak dapat mempercayai televisi. NTT tidak berarti semua orangnya berkulit gelap, Papua tidak melulu tentang koteka dan papeda, dan Kalimantan tidak hanya berisi hutan. Suatu daerah sangatlah kompleks, susah merangkumnya dalam 1 sesi acara televisi.
            Pelajaran itu dikukuhkan lagi dengan apa yang ku serap di Pekanbaru, kota luar-Jawa pertamaku. Di sana aku mendengar orang-orang bicara dengan bahasa Melayu. Aku melihat gedung-gedung di Pekanbaru yang desainnya merupakan asimilasi antara budaya zaman tradisional dan modern. Aku makan masakan orang-orang Pekanbaru yang kaya rempah-rempah namun cita rasanya seimbang nan halus. Aku melihat sedikit sudut kotanya dan bercakap-cakap dengan orang asing, berjalan-jalan di malam hari dan tidak diganggu.

            Akhirnya aku berani bilang bahwa ternyata ada tempat yang indah, selain Jawa. Aku mempersiapkan diriku pula, untuk perjalanan ke tempat-tempat lainnya.