{Cerpen} Sampah Kenangan

 {Im drowning in my own laziness. So, there is no illustration this time}

Aku tak melihatnya kedatangannya.
            Tiba-tiba saja dia duduk di sampingku, kedua lengannya memeluk kaki, matanya fokus menatap ombak berwarna campuran merah marun dan hijau. Laut sedang bergulung-gulung. Pasir pantai berwarna ungu tua mengingatkanku pada kulit terong. Mungkin aku sedang bermimpi, soalnya laut ini jelek sekali. Kalau saja ‘Tuhan’ melukisnya dengan warna-warna halus, yang tidak mencolok, yang mudah dipadu-padankan. Semisal krem dengan biru, hijau pupus dengan coklat…
            Dia terbatuk. Uhuk-uhuk. Aku mengernyitkan kening, apa yang sedang dia lakukan? Mencoba menggangguku?
            “Air laut makin hijau, makin merah. Juga mulai kental”, dia akhirnya berbicara, pelan.
            Aku mengawasinya dengan seksama. Rambutnya cepak, berantakan, kentara sekali dia malas menyisir rambut. Pandangannya sayu, selaras dengan kulitnya yang pucat. Diam-diam aku bergidik, bocah laki-laki ini membuatku muak. Aku mual.
            Sudah lama sekali sejak pertemuanku dengannya. Saat itu aku duduk di padang ilalang, sedang mencoba melukis kenangan. Orang-orang di sini suka melukis kenangan, orang-orang di sini gemar berlomba-lomba melukiskan kenangan. Kenangan yang tertinggal pada pohon-pohon pinus yang menjadi saksi atas dua mahluk yang dimabuk perasaan. Kenangan yang tersimpan pada lagu-lagu yang pernah diputar, yang lagu-lagu itu nanti akan diputar lagi dan lagi, seperti keinginan hati yang ingin memutar suatu momen kembali.
Oh ya, mereka juga melukiskan lagu. Lagu itu dilukis dalam warna-warna saja. Tidak ada gambar. Hasilnya abstrak saja, goresan-goresan tebal dan kadang bertekstur. Kadang hanya kubisme, berupa balok-balok. Kadang hanya tumpahan satu warna pada kanvas. Lalu orang-orang yang mengaku seniman ini akan menempel suatu kertas di balik kanvas, kertas ini berisi penjelasan mengenai apa yang mereka lukiskan. Penjelasan mengenai inspirasi lukisan itu berasal. Sebabnya sederhana saja, manusia punya berbagai macam pandangan mengenai momen yang telah lalu, kerumitan pandangan itu membuat penikmat kenangan lain kesulitan membaca lukisan. Ada pula penikmat kenangan yang memang memiliki hati tebal, maka ketika itu lukisan dicopot dari gantungannya, lalu mereka mulai membaca tulisan yang ditinggalkan oleh sang pelukis kenangan. Beberapa terbahak-bahak setelah membacanya, beberapa menitikkan air mata, beberapa yang lain melengos lalu pergi begitu saja.
Di tengah-tengah kota, yang tentunya jauh dari pantai ini, ada sebuah galeri kenangan. Bangunannya bertingkat-tingkat, menjulang menantang langit. Konsep bangunannya seperti rumah tumbuh. Jika ada lukisan-lukisan kenangan baru, maka dibangunlah lantai baru, yang terus memanjang vertikal, terus-terus hingga jauh. Sampai-sampai disediakan tempat penginapan untuk penikmat kenangan yang masih ingin menghabiskan beberapa minggu lagi di bangunan itu. Terlalu banyak kenangan, kita harus menikmatinya pelan-pelan.
“Orang-orang di dunia ini mulai gila dengan kenangan”, komentarnya saat melihatku melukis gerombolan ilalang yang berdansa.
Tentu saja saat itu aku tersinggung. Tahu apa dia tentang kenangan? Lihat saja dirinya, begitu pucat dan lesu. Semakin bertambah hari semakin pucat dan lesu dia.
“Kau sendiri tampak haus kenangan, warnamu mulai hilang. Lihat”, balasku setengah mengejek. “Sudah berapa lama kau bersenang-senang dengan kenangan?”
“Aku tidak peduli”, jawabnya enteng, sesudahnya ia terkekeh. Jelek sekali. “Aku tak perlu menjadi gila seperti kalian untuk tetap bisa berwarna. Aku mau membuat momen-momen baru, supaya bisa jadi kenangan-kenangan baru”
Otomatis aku membelalakkan mata. Membuat kenangan-kenangan baru sangat dilarang di jaman sekarang. Terlalu banyak seniman, terlalu banyak orang-orang yang menjual kenangannya. Bangunan galeri kenangan dirasa terlalu dalam mencium langit. Maka ada peraturan khusus, hanya lukisan kenangan tertentu yang boleh nongkrong di galeri. Seniman-seniman marah, sudah kubilang kan kalau di dunia ini sekarang terlalu banyak seniman? Seniman-seniman ini mulai bertindak anarkis, dengan bekal rasa percaya diri dan seonggok kenangan di dada, juga bertangki-tangki cat, seniman-seniman ini mulai mengecat jalan-jalan. Tembok-tembok rumah, pohon-pohon, jamban di toilet umum pun tak luput dari aksi anarkisnya ini. Bahkan laut, di titik ini mereka benar-benar kelewatan karena menyebut diri mereka sebagai Tuhan. Mereka mengecat laut. Sayang sekali seniman bodoh yang kebagian untuk mengecat laut. Ditumpahkannya warna-warna mencolok mata. Merah marun, hijau, ungu tua. Kesan laut yang dulunya tenang dan damai kontan saja berubah, menjadi terlalu norak dan kelam. Saat duduk-duduk di pantai begini perasaanku jadi makin muram, apalagi ketika selintas melihat kepiting dengan warna pink berjalan lewat.
Lambat laun aku mulai mempercayai apa yang ia gagaskan.
“Kita tidak perlu mengoleksi kenangan untuk membuatnya tak fana, tak perlu takut suatu hari kau mati terus tidak ada yang mengingatmu. Intinya, tak perlu takut dilupakan. Toh setelah mati kau tidak akan tahu apakah namamu tetap diingat atau dilupa. Aku ingin membuat suatu proyek. Proyek besar : membuat momen-momen baru tanpa berusaha untuk mengabadikannya. Buang diarymu, jangan bawa kamera kemana-mana. Nikmati saja”
Aku melongo ketika dia bilang begitu. Tapi tetap saja, aku tidak bisa 100% mempercayainya. Dengar, aku tidak bisa percaya pada kata-kata orang yang tak berwarna. Masalahnya makin hari dia makin tidak berwarna.
“Aku menunggumu. Percayalah, di saat kamu setuju dengan proyekku, lalu kita membuat momen-momen baru, maka perlahan warna-warnaku akan kembali lagi. Aku terlalu lama sendiri”
Termangu, aku termangu. Sebab orang-orang saat ini umumnya memang sendiri. Manusia sudah bukan mahluk sosial, berinteraksi bukan hal yang terlalu penting sejak tahun itu. Untuk tetap berwarna, orang-orang mengonsumsi kenangan. Berinteraksi sudah dilarang, sebab interaksi memunculkan kenangan-kenangan baru.
Jadi selama dia membuntutiku aku harus mengorek-ngorek kenangan secara rutin. Di jurnal harianku, melalui gambar-gambar di kamera, lalu lagu-lagu. Aku takut ketularan, aku takut tak punya warna seperti dia. Nanti aku tidak menarik lagi, sama sepertinya. Di dunia ini warna-warna itu penting, kau tahu. Pucat, tidak berwarna berarti tidak menarik.
Aku percaya suatu hari dia pernah menjadi seseorang yang penuh pesona, sebelum dia berhenti mengonsumsi kenangan, dan menghabiskan seluruh waktunya untuk mengejar-ngejar orang lain. Mengajak berinteraksi.
“Aku sekarat”, bisiknya suatu hari.
***
Kadang aku ingin menjejalinya dengan setumpuk kenangan, membuatnya menelan kenangan bulat-bulat, sebab aku penasaran dengan rupa aslinya. Rupanya yang berwarna. Sebenarnya aku sendiri sudah muak, muak merasa mual saat ada di dekatnya.
Pagi itu aku bangun ketika matahari sudah bersinar terik. Bocah laki-laki itu tidak ada di kasurnya saat aku bangun. Apakah dia memutuskan untuk berhenti menempel padaku?
Seperti biasa aku langsung keluar dari tenda, menuju laut. Meski lautnya sudah jelek, namun aku masih suka duduk-duduk di pantainya, mengingat-ingat warna asli laut. Yah, begitulah.
Tapi pagi itu aku mulai mempertimbangkan untuk tidak pernah lagi tinggal di dekat laut.
Aku menemukan seonggok tubuh, terlentang di pantai. Butuh waktu untuk menyadari siapa sosok itu sebenarnya. Aku tertohok begitu sadar. Aku teringat betapa pucatnya dia kemarin, betapa lemahnya dia, hingga dia tidak menyusulku duduk-duduk di tepi pantai seperti biasa.
Aku sempat melongo melihat jasadnya. Jasad itu sekarang berwarna, air laut merah dan hijau itu menjilat-jilat kakinya.
Dia ganteng sekali.

9 Maret 2015
Untuk diriku sendiri, yang berharap bisa membakar sampah-sampah kenangan

{Cerpen} Mara Mati

No illustration this time. Sorry.
Gadis itu kutemukan di antara berlian warna-warni yang tercampur aduk dalam kotak tua berkarat. Dia berwarna hitam, dia berlian hitam.
          Aku melihatnya berjalan melintasi kantin sekolah, tatap matanya malas. Mungkin bosan. Dia berhenti beberapa meter dari bangku-bangku kantin, mengambil jeda yang cukup lama sementara matanya menelusuri, mencari bangku yang kosong. Aku ingin mengangkat tangan ketika ia sedang berdiri seperti itu, mengucapkan sepatah hai, lalu menawarkannya untuk duduk denganku. Namun entah bagaimana, aku tahu bahwa dia akan menolak tawaran semacam itu.
          Pernah kudapati ia melengos, masuk ke kantin untuk membeli sebungkus roti isi cokelat saja, lalu pergi lagi tanpa duduk di bangku kantin. Tanpa menu mi ayam yang biasa. Aku langsung saja mengerti bahwa saat-saat seperti itu adalah saat tidak ada bangku yang kosong di kantin. Namun begitu, aku tak kunjung mengerti mengapa dia rela melewatkan semangkuk mi gara-gara bangku kantin yang penuh. Maksudku, dia bisa saja bergabung dengan anak-anak pendiam lainnya, lalu makan dengan khidmat, karena anak-anak pendiam lainnya tidak akan menginterupsinya sedikit pun.
          Dari puluhan kali aku mengawasinya di jam makan siang, aku langsung tahu dia bukan gadis yang banyak modelnya. Dia ciptaan yang limited edition. Satu diantara 1000.
          Satu sore usai ekstrakurikuler fotografi, aku melihatnya berdiri di halaman belakang sekolah. Adrenalinku meningkat, tenggorokanku terasa kering hanya gara-gara sepotong kata halo yang tak kunjung ku ucap. Posisinya berdirinya cukup aneh, di tengah-tengah tanah lapang berumput, kepalanya mendongak menatap pohon beringin yang berdiri kokoh. Saat aku hampir mendekat, niat untuk mengucap halo itu sirna. Mara sedang memegang pulpen dan buku catatan yang cukup tebal, tangannya begitu bebas mencoret-coret kertas. Dan dia tidak menyadari keberadaanku, dia begitu lihai menenggelamkan diri dalam dunia yang ia ciptakan sendiri.
          Aku bisa menceritakan padamu betapa ia mencintai buku. Dia adalah murid yang paling rajin mengunjungi perpustakaan sekolah, profilnya pernah dimuat di papan mading gara-gara rekor itu. Aku melihat wanita petugas perpustakaan tersenyum cerah setiap kali melihat Mara datang ke perpustakaan. Wanita itu akan menanyakan berapa rating yang diberikan Mara terhadap suatu buku (Mara paling suka membaca fiksi). Lalu Mara akan menyebutkan penilaiannya dalam hitungan bintang. Antara 1 sampai 5. Jika ia begitu menyukai suatu buku Mara akan menambahkan sebaris kalimat yang mewakili perasaannya terhadap buku itu.
          “Pemberontakan halus oleh gadis yang berperasaan halus, yang menjalani kehidupan cinta yang begitu panas, liar, dan menggebu-gebu”, begitu ia mendeskripsikan novel The Lover dari Marguerite Duras.
          Sontak penilaiannya membuatku penasaran dengan novel itu. Sayang sekali aku tidak bisa sepenuhnya memahami pesan dan kesan yang ingin Duras sampaikan. Hal itu membuatku bertanya-tanya dunia macam apa yang Mara punya, pikiran apa yang ia punya?
          Kadang-kadang aku bisa memikirkan gadis itu secara mendalam. Kala malam tiba, membayangkan sepatah halo-ku keluar, lalu Mara akan merespon balik dengan cukup sopan. Aku tidak mengharapkannya antusias dengan sepatah halo-ku. Balasan sopan yang penuh penghargaan sudah cukup buatku. Selanjutnya kami akan berteman, dia akan bercerita kepadaku tentang hal-hal yang ia pikirkan. Ia akan menunjukkan padaku warna-warna yang ada di dunianya. Dari kuning lemon hingga hijau toska.
***
          Sudah beberapa kali aku mencoba mengabadikan sosoknya dalam kumpulan cahaya yang tersalur dalam lensa kamera. Aku stalker yang lihai, ditambah lagi aku sering menggendong kamera digitalku kemana-mana. Orang-orang akan mengira aku sedang memfoto pohon-pohon cemara atau burung gereja, dan bukannya Mara.
          Sayang sekali Mara bukan seorang yang fotogenik. Dia cukup manis, tapi tidak fotogenik. Susah sekali mendapat foto dengan ekspresi yang mewakili Mara yang sebenarnya. Tapi sebenarnya kalau kau melihat dengan lebih teliti, kau akan menemukan foto Mara yang meski tidak fotogenik, namun memancarkan sesuatu yang asing. Seperti sebuah kejujuran, yang keberadaannya kian susah ditemui di wajah-wajah manusia di bumi ini.
          Orang-orang membentuk kerumunan siang itu. Saat aku menunggu Mara melangkah masuk ke kantin dengan ekspresi bosannya yang biasa. Murid-murid yang tengah memesan semangkuk mi ayam berbalik menuju gerombolan itu. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat itu, tapi ketika mendengar namaku dan Mara dalam gunjing-gunjing itu, spontan aku bangkit dari tempat dudukku.
          Aku menyerobot, tanpa ampun. Kerumunannya begitu tebal. Aku kian gemetar, apa yang sedang terjadi? Lalu dari lapisan paling dalam, aku melihatnya. Kerah seragamnya ditarik gorila-gorila berjenis kelamin betina.
          “Lo nggak mau ngaku kalo lo udah ngerebut Dean dari gue? Gue nggak segan-segan mukul muka sok innocent lo”
          Sejenak hening. Lalu, “Aku nggak tahu kamu ngomongin apa. Bukan salahku kalau Dean menjauhimu lalu mendekatiku. Lagipula dia bukan tipeku, jadi salahkan Dean-mu saja ya”
          Tepat ketika kata-kata Mara berakhir sebuah pukulan mendarat di pelipisnya. Keterkejutan menyesakkan udara. Lalu momen selanjutnya terjadi begitu cepat, begitu sulit untuk dipercaya. Matanya berkilat-kilat terbakar, Mara meninju balik gadis itu, tubuh gadis itu menegang menerima pukulan di pipi. Momennya tak kunjung berakhir, Mara menarik kerah gadis itu, menjambak rambut hitam lurus, memukulkan kening gadis gorila hingga kening itu beradu dengan tanah beton.
          Satu, dua, tiga,…
          Aku mengerut takut.
          “Berhenti!”
          Tubuh Mara menegang mendengar aba-aba itu, dia melepaskan gadis gorila dan berlari menembus kerumunan yang langsung terbuka lebar. Tak seorang pun menghalangi, tak seorang pun menangkapnya. Aku menelan ludah, gadis gorila itu tampak hampir tak sadar. Tetes air mengaliri pipinya. Lebam, ungu, ini mengerikan.
          Aku pun berlari mengikuti Mara sementara beberapa orang dari akademik datang. Keramaian pecah, bisik-bisik menerjang telinga seperti dengungan lebah.
Ngeri, ngeri, aku mendengar.
***
Aku menemukannya di bilik toilet pria. Setelah kukira pencarianku sia-sia, aku memutuskan ke toilet. Begitu mudah mendengar suara Mara diantara tetes-tetes air keran, toilet yang lengang.
It’s like I’m sleepwalking…”, nyanyinya lirih.
Aku tahu ini bukan tindakan yang sopan, aku mengendap dan mengintip ke bagian bawah pintu yang bercelah. Aku mengenali kaki Mara seperti aku mengenali jempol kakiku sendiri.
Berdegup-degup. “Halo, Mara?”
Hening. “Apa mereka menyuruhmu menangkapku?”
“Tidak”, sahutku cepat. “Kamu tahu? Ini aku, Dean”
“Aku tahu itu kau, bodoh!”, bentaknya.
Terdiam, aku terdiam. “Maaf karena membiarkan semua ini terjadi padamu”
“Jangan sok pede, dasar kau! Ini bukan tentang kau, playboy sialan yang berpikir dirinya cukup seksi untuk didekati”
Dari semua percakapan yang renyah dan menyejukkan, mengapa percakapan nyata kita harus seperti ini, Mara?
“Lalu?”
“Ini hanya tentang aku, tidakkah kau mengerti? Mereka membenciku, sangat-sangat membenciku, bahkan ketika aku hanya duduk diam sekalipun. Hanya saja mereka cukup beruntung menemukan satu alasan untuk menyerangku”
Ah, tentang itu. Mara punya teori tentang gorila-gorila betina itu. Bagaimana dia dibenci karena berbeda, karena dia memiliki dunia yang sangat menarik, dunia yang membuatnya betah menghabiskan waktu sendiri. Beberapa orang mengagumi gadis seperti Mara, sisanya juga mengagumi, namun penyaluran atas kekaguman mereka begitu melenceng.
“Bisakah kau buka pintunya?”, pintaku datar. Aku tidak bisa memikirkan percakapan lain.
“Nggak. Sampai aku yakin kau memang benar-benar orang brengsek yang awalnya mengaku ingin berteman denganku, tapi saat ini sedang merasa ragu. Kau ragu karena kau melihat sisi diriku yang lain. Bukan sisi yang aneh, tapi yang mengerikan. Bukankah tadi itu mengerikan, Dean? Tidakkah kau merasa ngeri, Dean?”
***
Aku rasa aku perlu memberi sedikit penjelasan pada kalian, pembaca yang budiman.
Pertama, aku bukan playboy. Aku hanya terlalu jujur pada dunia sehingga saat aku bosan pada Gea dan merasa tertarik pada Mara, aku langsung memutuskan Gea dan mendekati Mara. Sesimpel itu.
Kedua, aku berbohong pada Mara. Aku belum pernah dibuat setakut itu oleh perempuan, belum pernah tertantang seperti itu. Aku yakin Mara akan menendangku jauh-jauh apabila aku bilang padanya aku ingin dia jadi pacarku. Kau benar, aku bilang saja padanya aku ingin menjadi temannya.
Ketiga, aku merasa ada perasaan aneh menelusup, seperti racun. Mengotori seluruhnya hingga begitu menyeluruh.
***
“Tidak apa-apa, kamu hanya kehilangan kontrol”
“Sudah lama sekali aku tidak kehilangan kontrol seperti ini, Dean”
Aku diam, sementara ia melanjutkan. “Kau ingin tahu satu hal penting? Aku hilang kontrol juga karena kau Dean. Gea bilang sesuatu tentang kau ingin jadi pacarku. Itu terdengar menyakitkan karena seminggu lalu kau bilang kau hanya ingin berteman. Kau tahu dimana letak sakitnya? Jika Gea benar, yang kau rasakan hanya sekedar naksir, maka kau tidak akan menemaniku sampai akhir Dean. Naksir itu bukan perasaan tulus. Beda apabila kau benar-benar ingin berteman denganku. Aku tidak bisa berteman dengan seseorang yang naksir aku sebagai pacar. Sebab orang-orang seperti itu akan pergi meninggalkanku jika tahu siapa aku”
Ada rasa tertohok.
“Tapi beda kasus lagi jika berteman tulus, lalu jatuh cinta”, sambungnya pelan. Hening. Lama, lama sekali.
“Apa kau masih di sana? Rasanya seperti ngomong sama tembok”, dia tertawa. Aneh, jenis tawa yang dilantunkan saat sedih, tawa getir. “Kau punya rokok Dean?”
Ngilu. “Ya. Buka pintunya, Mara”
Ketika dia membuka pintu, kutemukan sosok asing dengan sorot mata liar. Bulu kudukku meremang, siapa dia sebenarnya? Dia mengambil sebatang rokok L.A lights dari satu kotak rokokku, menyalakannya dengan ahli, seolah dia telah melakukan hal itu ribuan kali.
Mara menyemburkan asapnya ke wajahku. Sengaja.
“Mengapa mereka tidak segera ke sini?”
“Mungkin kau salah memilih tempat bersembunyi”
“Aku tidak pernah bersembunyi”, potongnya, defensif.
Aku mengangkat bahu. Mara mendekatiku, segera jelas di pandanganku : rambutnya yang lepek berantakan, matanya yang berkilat-kilat bahaya, sebuah lebam samar di sudut bibirnya.
“Apa yang ingin kau lakukan?”, aku bergidik ngeri, menyadari jarak kami yang begitu dekat. Hingga ketika aku bisa mencium aroma tembakau dari mulutnya, dia berhenti mendekat lagi.
“Tidak ada. Hanya ingin sedikit bicara”
Aku menelan ludah.
“Aku tidak bisa berteman dengan seseorang yang tidak loyal, yang bakal meninggalkanku begitu saja setelah tahu siapa aku. Kau mengerti? Masuklah selamanya dan jangan pergi, atau tidak sama sekali”
***
Hal terakhir yang kukatakan ketika itu ialah, ya aku berjanji aku sungguh-sungguh. Kamu bisa percaya padaku.
Ada suara ribut di luar toilet. Mara menatapku dan tersenyum, senyuman miring, hanya satu sudut bibirnya yang tertarik.
“Hubungi aku kalau begitu”, katanya. Dan ia menuliskan nomor-nomor di dinding toilet menggunakan abu di puntung rokoknya.
Ketika aku menyadari siluet orang-orang yang masuk toilet, aku berseru, “Dia di sini. Aku menemukannya”
Good luck, Mara”, bisikku ketika orang-orang itu menggiringnya keluar, tangan-tangan melingkari lengan Mara, padahal Mara tak memberikan perlawanan apapun.
Meskipun begitu, aku masih sempat melihatnya tersenyum padaku, matanya menatapku seolah dia tahu satu rahasia yang tidak dunia tahu.
Good luck to you, too, Dean”
***
    Citra diri Mara menguap begitu saja. Leleh habis, dan dibaliknya kutemukan seseorang yang berbeda. Yang liar, yang penuh amarah. Lalu bagaimana dengan gadis biasa yang membuatku penasaran itu? Bagaimana bisa dua sifat yang bertolak belakang hidup di dalam satu tubuh, satu sama lain berbagi pikiran, berbagi rasa?
    Perasaanku kosong, nyaris ngilu. Aku mengingat Mara yang merokok, lalu menyadari bahwa Mara yang selama ini ada di pikiranku hanya khayalan. Bukan salahnya, tiba-tiba aku menyadari, bukan salahnya aku tertipu, manusia memang suka menipu diri mereka sendiri. Mataku selama ini telah menipu diriku sendiri.
    Untuk terakhir kali, aku menatap goresan nomor-nomor di dinding toilet. Kuambil sehelai tisu toilet, membasahinya dengan air, lalu menghapus noda di dinding itu.
Selamat tinggal, Mara.
    Biar aku menangisi citramu yang selama ini kubuat sendiri, Mara yang kukenal dalam obsesiku itu. Sebab, kini dia telah mati.
***

Cerita ini dipersembahkan untuk E, yang berpendapat gaya tulisanku kurang ‘nyastra’, dan beberapa orang lain yang mau menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini.
 Oh ya, cerpen ini aku ikutkan dalam program Giveaway 1 Bulan 1 Buku yang diadakan oleh Kak Aprie. Meski aku sendiri nggak yakin kalau cerita ini cukup pantas disebut ‘cerita cinta sedih’. 
         

{Puisi} Burung dalam Sangkar Hitam

(Seperti biasa dengan ms.paint)

Tuhan, harusnya jadikan aku burung dalam sangkar hitam

Dunia-Mu menjejaliku makanan otak :
individualisme, feminisme, nihilisme, fasisme

Kau biarkan aku tenggelam

Lalu kau munculkan matahari di pentas
seperti ikan lalu aku mencoba melahap bulan

Engkau tertawa saat aku mengaduh
perutku keroncongan, Tuhan

Tato teranjur melekat, tapi hasrat mendamba kedamaian

Jadikan aku burung dalam sangkar saja, Tuhan
Sangkar berbalut kain hitam