Browsed by
Month: March 2015

{Cerpen} Sampah Kenangan

{Cerpen} Sampah Kenangan

 {Im drowning in my own laziness. So, there is no illustration this time} Aku tak melihatnya kedatangannya.             Tiba-tiba saja dia duduk di sampingku, kedua lengannya memeluk kaki, matanya fokus menatap ombak berwarna campuran merah marun dan hijau. Laut sedang bergulung-gulung. Pasir pantai berwarna ungu tua mengingatkanku pada kulit terong. Mungkin aku sedang bermimpi, soalnya laut ini jelek sekali. Kalau saja ‘Tuhan’ melukisnya dengan warna-warna halus, yang tidak mencolok, yang mudah dipadu-padankan. Semisal krem dengan biru, hijau pupus dengan coklat……

Read More Read More

{Cerpen} Mara Mati

{Cerpen} Mara Mati

No illustration this time. Sorry. Gadis itu kutemukan di antara berlian warna-warni yang tercampur aduk dalam kotak tua berkarat. Dia berwarna hitam, dia berlian hitam.           Aku melihatnya berjalan melintasi kantin sekolah, tatap matanya malas. Mungkin bosan. Dia berhenti beberapa meter dari bangku-bangku kantin, mengambil jeda yang cukup lama sementara matanya menelusuri, mencari bangku yang kosong. Aku ingin mengangkat tangan ketika ia sedang berdiri seperti itu, mengucapkan sepatah hai, lalu menawarkannya untuk duduk denganku. Namun entah bagaimana, aku tahu bahwa…

Read More Read More

{Puisi} Burung dalam Sangkar Hitam

{Puisi} Burung dalam Sangkar Hitam

(Seperti biasa dengan ms.paint) Tuhan, harusnya jadikan aku burung dalam sangkar hitam Dunia-Mu menjejaliku makanan otak : individualisme, feminisme, nihilisme, fasisme Kau biarkan aku tenggelam Lalu kau munculkan matahari di pentas seperti ikan lalu aku mencoba melahap bulan Engkau tertawa saat aku mengaduh perutku keroncongan, Tuhan Tato teranjur melekat, tapi hasrat mendamba kedamaian Jadikan aku burung dalam sangkar saja, Tuhan Sangkar berbalut kain hitam